Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Paket untuk Keysa


__ADS_3

Alvin sampai di sebuah rumah berlantai dua dengan penjagaan ketat dari satpam. Lelaki yang kini memang salah satu seragam aplikasi belanja online itu pun dengan tenang mendekati pos satpam. "Selamat siang, Pak."


Satpam bertubuh kekar itu mendekati pagar. Membukanya perlahan. "Siang." Tatapannya tajam pada Alvin. "Ada perlu apa, ya?"


Alvin tersenyum kecil. "Saya mau mengantarkan paket untuk Mbak Keysa. Apa Beliau ada di rumah?"


Sejenak si Satpam diam, lalu berkata, "Neng Keysa sedang keluar rumah."


"Sayang sekali." Alvin membuat wajah kecewa.


Jelas saja satpam tersebut penasaran. "Memangnya paket apa?"


Sasaran tertangkap. Alvin bisa melanjutkan lagi. "Ini hadiah kejutan dari Mas Dani. Katanya, harus sampai di tangan Mbak Keysa."


Tentu saja satpam tersebut tak bisa gegabah. Barangkali isi paket ini sangat penting. "Kalau begitu, Mas bisa langsung masuk ke rumah saja. Biar Mbok Inam yang terima. Nanti saya hubungi Non Keysa."


Berhasil. Cepat juga. "Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi masuk." Alvin segera ke motor lagi. Sebuah kendaraan roda dua yang sengaja dipinjamnya.


Motor Alvin melesat ke arah pekarangan rumah. Satu langkah sudah terlewati. Sebelum memutuskan datang ke sini, Alvin sendiri sudah membekali diri dengan keamanan yang bisa langsung datang.


Alvin memarkirkan motor di depan teras. Bergerak membawa sekotak besar yang tak tahu isinya apa. Mungkin bom. Lelaki itu memencet bel. Menunggu pintu terbuka.


Berselang lima menit seorang wanita paruh baya dengan wajah sedikit sembab pun keluar. Tatapannya seolah mengisyaratkan ketakutan.

__ADS_1


"Permisi, Bu, saya mau mengantarkan paket untuk Mbak Keysa." Ada rasa kasihan terlintas di pikiran Dani. Sepertinya wanita di depan ini tengah tertekan.


"Ma-maaf, Mas. Ne-Neng Keysa lagi nggak ada di rumah," jawab si Wanita itu dengan gugup.


Alvin diam. Mengamati sekitar dan mengambil langkah ke depan. Reaksinya ini menambah ketakutan di lawan bicaranya.


"Ada apa, Mas?" Jelas sekali penambahan rasa takut di sorot mata wanita paruh baya itu. "Sa-saya panggil satpam kalau Mas macam-macam."


Sebelum itu terjadi, Alvin segera menjawab. "Bu, saya bukan orang jahat. Saya juga bukan pengantar paket."


Sontak dua bola mata wanita itu membulat sempurna. Kaget bukan main.


"Apa Ibu tau ada seseorang yang disekap di sini? Itu istri saya." Alvin mencoba mendekati karena melihat gelagat sang Ibu terlihat baik.


Alvin masuk dan menutup pintu. Semoga saja Tuhan memberikannya kemudahan. "Saya tidak suka kekerasan, apalagi pada orang tua. Jadi ... saya mohon agar Ibu bisa menjawab pertanyaan tadi."


Wanita tersebut melihat ke belakang. Tak ada orang. Sebelum itu CCTV rumah pun sempat dimatikan tuan rumahnya. "Saya takut, Mas."


Alvin memahami kondisi wanita tersebut. "Saya yang menjamin keselamatan, Ibu. Jadi ... apa benar ada orang yang disekap?"


Setelah memikirkan matang-matang sekitar tiga menit, akhirnya si Wanita paruh baya tersebut membenarkan dengan anggukan pelan.


"Jadi, benar?" Alvin memastikan.

__ADS_1


"Ya-ya, Mas. Tadi pagi ada satu perempuan muda yang dibawa temannya Non Keysa ke sini. Ibu, tadi sempat buatkan makan sesuai perintah temannya Non." Kejujuran si Wanita memberikan pengharapan pada Alvin.


"Di ruangan mana wanita itu di-sekap?" tanya Alvin.


Dengan cepat wanita di depannya menunjuk ke atas. Tepatnya pada salah satu kamar. "Di kamar tamu yang sebelah kanan. Sekarang mungkin terkunci karena Non Keysa sedang pergi, sedangkan temannya tadi pergi ke kamar kiri. Sepertinya mau tidur."


Kesempatan baik. Alvin bisa melancarkan aksi. "Sebelumnya terima kasih, Bu. Saya berharap Allah melindungi Ibu. Saya izin ke kamar atas."


"Sama-sama, Mas. Ibu takut ditangkap polisi."


Alvin kasihan. Menenangkan lebih dahulu wanita yang mungkin hanya bekerja saja di sini. "Sebaiknya Ibu cepat keluar dari sini. Kalau ditanya Pak Satpam, bilang saja mau ke minimarket atau ke mana dulu."


Wanita itu menurut. Tak ingin terlibat hal di luar kendali. Alvin berjanji akan membelanya saat kejadian ini dibawa ke jalur hukum.


Alvin segera memasuki area rumah terdalam. Bergerak naik ke lantai dua dengan menapaki anak tangga. Tangannya bergetar ketika pintu kamar itu terbuka. Rupanya tak dikunci.


Sebuah pemandangan paling menyayat hati menimpa jiwa. Rina tergeletak di bawah lantai dengan tubuh tak berdaya. Kaki dan tangan terikat. Biadap sekali wanita gila itu.


Alvin masuk. Mendekati Rina dan meraih tubuh Rina. Membangunkan sang Istri agar duduk tegak. "Rina." Suaranya lembut.


Tubuh Rina panas. Tak sengaja lengan baju kanan Rina tersingkap sedikit, tampak jelas luka seperti bekas cambukan. "Astagfirullah, Rina!"


Kali ini suara Alvin meninggi, berhasil membuka kedua kelopak mata Rina yang sayu. Bibir perempuan itu pun mulai pucat. Mungkin tak ada makanan ataupun air yang masuk.

__ADS_1


"Mas Alvin." Intonasi suara Rina lemah. Di saat seperti itu pun perempuan tersebut masih melengkungkan senyuman kecil. "Mas, datang."


__ADS_2