Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Rumah sakit.


__ADS_3

Pertemuan dua orang yang terpisah beberapa jam sungguh mengharukan. Keduanya hanyut dalam dekapan. Alvin melepaskan tali yang menjerat kedua tangan dan kaki istrinya.


"Ayo, kita keluar dari sini." Alvin berusaha membangunkan Rina. Memboyongnya dalam pelukan dan segera berbalik badan.


Sial menanti. Sang Penjaga tersadar dari kamar sebelah dan memergoki mereka.


"Siapa, Lo?" Rupanya lelaki yang menjaga Rina datang.


Rina yang lemah menoleh ke depan, sedangkan Alvin berdiri tegak.


"Beraninya, lo, masuk!" Lelaki itu semakin berjalan cepat ke depan.


Demi keselamatan sang Istri, Alvin terpaksa merebahkan Rina di lantai. Ia berdiri lagi. "Sebaiknya jangan halangi jalanku."


"Memangnya lo siapa?" Lelaki itu mengeluarkan sebuah pisol dari saku celana belakang. Mengarahkan tepat di wajah Alvin. "Berani melangkah sekali keluar, nyawa lo sama dia melayang!"


"Saya suami dari wanita yang kamu culik!" Alvin tegas.


Tampaknya si Lelaki terkejut. Yang ia tahu temannya sekarang sedang menemui dua sasaran sesuai keinginan Keysa. Namun, dari mana datangnya Alvin?


"Saya tidak suka keributan apalagi bertengkar. Terlalu sayang kalau harus mengotori tangan untuk seorang penjahat seperti kamu!" Alvin mulai marah. Tubuhnya sudah lelah dipermainkan sejak dari awal. Bahkan ia lupa mengisi perut yang sebenarnya meminta jatah. "Saya bisa saja melawanmu, tapi sebaiknya kita pakai cara damai."


Alvin mengambil ponsel di saku jas. "Ponsel ini terhubung dengan nomor kepolisian. Kamu berada dalam kepungan. Kalau sampai si Korban luka, saya yakin hukumanmu lebih berat lagi!"

__ADS_1


Alvin tak main-main. Ia memencet tombol laudspeker dan terdengar suara seseorang dengan sangat lantang.


Alvin tersenyum santai. "Kita main cantik saja. Jangan sampai ada tumpahan darah di sini. Kamu mau menyerahkan diri atau para aparat yang menangkapmu?"


Rina berusaha berdiri dari ketidakberdayaannya. Mengamati punggung Alvin yang lebar dan penuh tanggung jawab. Tak salah Tuhan mempertemukan dirinya dengan sosok satu ini.


Lelaki itu sempat bergeming. Ada ketakutan yang terbersit dalam hati karena kewajaran sebagai manusia. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ia akan tetap membereskan tugas yang seharusnya dia lakukan.


"Gue nggak takut sama sekali! Lo sama dia bakal gue habisin sekarang juga!" Tangan si Lelaki hampir saja menebak tatkala dua orang polisi datang.


Salah satu dari polisi itu meringkus si Lelaki. Rina senang. Hampir saja jantungnya copot karena keberanian Alvin menantang maut.


"Lepaskan gue!" Lelaki itu memberontak ketika diringkus dan diborgol.


Dengan sangat cepat polisi tersebut membawa lelaki yang telah menculik Rina. Penderitaan itu berakhir, Rina tersenyum semu sebelum akhirnya ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri.


Alvin mendapati istrinya dalam keadaan pingsan bergegas memboyong. Prioritasnya sekarang adalah keselamatan Rina. Wanita ini butuh perawatan dokter karena bisa jadi tertekan dalam segi mental dan fisik.


"Rina, kamu bisa bertahan? Saya harap begitu." Alvin panik bukan main. Membawa istrinya keluar dan naik ke mobil polisi. Untung saja kedua polisi itu membawa mobil satu-satu, sehingga salah satunya bisa mengantarkan Rina ke rumah sakit.


Perjalanan ke rumah sakit lumayan memakan waktu delapan menit. Sesampainya di sana Rina langsung dibopong Alvin ke Unit Gawat Darurat. Meminta pertolongan dokter.


"Tolong, Istri saya, Dok!" Alvin yang tadi tenang menghadapi penjahat, justru lebih panik ketika menghadapi Rina yang pingsan. "Jangan biarkan dia pergi!"

__ADS_1


Dokter itu mengerti dan segera memeriksa Rina. Diberi pertolongan pertama termasuk menusukkan jarum infus ke lengan kanan perempuan tersebut.


Alvin terpaksa harus menunggu sambil terus berdoa semoga kondisi Rina tidak sampai mengalami trauma. Terlebih melihat banyaknya luka di bagian tubuh perempuan tersebut ketika ia mengintipnya dari bawah baju Kania.


"Jangan sampai wanita biadab itu lolos!" Alvin mengepalkan kedua tangan sambil duduk.


***


Sementara itu Dani babak belur dan tergeletak di parkiran setelah kalah melawan pengawal Keysa.


"Sayang, kamu memilih melawan daripada ikut permainan. Aku menyesal sekali." Keysa tersenyum tipis. Ada rasa kasihan, tetapi lebih dominan marah.


"Kamu lebih licik daripada aku." Dani masih saja bisa tertawa kecil. "Kalau bukan karena kakakmu, aku lebih suka membuangmu ke jalanan."


"Lelaki gila!" Keysa kesal. Bergerak ke depan selangkah, menginjak tangan Dani yang saat ini sudah tidak berdaya. "Aku memang cinta, tapi amarahku lebih besar karena ternyata kamu masih berusaha mendekati wanita gatal itu!"


Dani menahan setiap rasa sakit dengan tawa kecil. "Segilanya aku, mana mungkin menjadikan wanita gila sebagai istri."


Keysa semakin kesal. "Habisi dia!" Wanita itu tak peduli secinta apa pun pada pria yang dipujanya. Ini terlalu mengesalkan.


Tanpa menunggu lama, lelaki berjaket hitam itu mendaratkan beberapa pukulan ke tubuh Dani lagi yang sempat melawan, tetapi kalah.


Keysa pergi lebih dulu, ingin melihat kondisi rumahnya. Benarkah yang dikatakan Dani tadi bahwa, salah satu dari sasarannya sedang mengobrak-abrik markas? Jika iya, jelas harus lebih waspada.

__ADS_1


"Lelaki itu nggak mau angkat telepon!" Keysa semakin kesal mendapati tak ada satu pun sambungan teleponnya yang dijawab.


__ADS_2