Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Gaun Merah


__ADS_3

Rina bergegas menemui Alvin di butiknya dengan hati penuh tanda tanya. Mungkinkah Alvin keracunan nasi goreng, sehingga mengirim pesan gila itu? Entahlah.


Rina sampai di butik tepat pukul empat sore setelah sebelumnya mengirimkan pesan konfirmasi pada Alvin bahwa ia sedang di jalan.


Rina datang sebagai istri karena tidak banyak karyawan yang bekerja di sana. Kedatangan Rina langsung disambut oleh seorang wanita muda berambut panjang dengan rok panjang selutut juga kemeja biru muda bermotif bunga.


"Selamat sore, Bu," sapa karyawan tersebut.


Rina mengukir senyum. "Sore juga. Pak Alvin ada di ruangannya?"


"Ada, Bu. Silakan."


"Baik. Terima kasih."


Rina bergerak masuk ke area butik terdalam. Di sini banyak sekali koleksi baju yang memang dirancang oleh tangan Alvin. Sangat cantik dan menarik. Pantas saja lelaki itu memiliki standar yang tinggi dalam menilai tugas mahasiswa.


Rina tertegun ketika melihat sebuah dress putih panjang dengan lengan panjang yang diberi mutiara di bagian dadanya. Cantik sekali.


"Masya Allah, ini simpel. Tapi, manis," komentar Rina. Tangannya meraba bahan kain. Lembut dengan serat yang halus. Terasa dingin dan pasti nyaman dipakai. Ia belum melihat tekstur kain yang seindah ini. "Rancangannya juga bagus. Dia emang hebat."


"Kamu suka?" Tiba-tiba suara Alvin terdengar di belakang. Kamila terpaku diam. "Mau saya buatkan seperti itu?"


"Ng-nggak, Mas." Rina gugup. Embusan napas Alvin menyapu telinganya yang dibalik hijab. Suara lelaki itu pun terasa merdu.


"Yakin?"


Rina mengangguk.


"Kalau gitu, kenapa kamu mengamatinya sampai detail?"


"Cuma mengagumi aja. Karya Mas indah. Pantas saja banyak yang percaya."


Alvin hening. Kalimat pujian itu terdengar tulus terlontar dari mulut Rina. "Karya saya biasa aja, tapi atas izin Allah, mereka bisa percaya."


Rina diam, lalu menggerakkan badan ke belakang. Pandangannya bertemu manik-manik Alvin. Mengamati lekat bentuk hidung, bulatan mata serta lancipnya dagu milik lelaki tersebut. "Setiap Mas buat karya. Apa ada sesuatu yang dipikirkan?"

__ADS_1


Kening Alvin mengerut kencang. "Maksudnya?"


"Setiap karya Mas seolah punya makna sendiri. Seakan setiap helain kainnya punya tarikan dahysat yang bisa mengundang orang untuk memuji."


Alvin diam. Rina menatapnya dalam.


"Apa ada rahasia dibalik itu semua?" Rina bertanya lagi.


Alvin tersenyum simpul. "Jelas. Setiap hasil terbaik pasti ada ramuan yang harus diolah dengan pintar."


Mendengar hal itu membuat Rina tertarik. Berharap Alvin memberikannya sedikit bocoran. "Bisa kasih tau aku, Mas?"


"Berani bayar berapa?"


Otomatis dahi Rina berkerut kencang. Salah satu alisnya naik ke atas. Kesal. "Masa sama Istri sendiri juga harus bayar. Pelit!" Rina melipat kedua tangannya di dada, lalu memalingkan wajah. "Ilmu itu harus dibagi-bagi, Mas. Biar manfaat."


"Tapi, saya dapat ilmu ini nggak mudah." Alvin membela diri.


"Ya, aku tau. Tapi, kan, aku istri, Mas." Rina tak ingin kalah.


Rina kesal. "Ya, deh. Nanti aku bayar. Berapa?" Kali ini pandangan Kamila fokus lagi pada Alvin. "Jangan mahal-mahal. Aku mana sanggup."


Alvin terkekeh geli, kemudian meninggalkan istrinya sendirian.


"Mas, kok, malah kabur!" Rina kesal.


"Ayo, ke ruangan. Bukannya mau bayar." Alvin tertawa kecil.


Rina diam. Kenapa harus di ruangan. Apakah Alvin mulai gila?


"Mas, di sini juga bisa?" tanya Kamila.


"Ini privasi!"


"Privasi?" Kening Rina semakin mengerut. "Memang dia mau minta bayar pakai apa? Jadi curiga. Kadang dia misterius, kadang juga jadi orang kepo. Apa mungkin dia reinkarnasi dari bunglon jaman masa penjelajahan? Yang bisa berubah kapan pun di mau. Pikiranku ada-ada aja!"

__ADS_1


Alih-alih terus diam, Rina pun mengikuti Alvin dari belakang. Begitu masuk ruangan, rasa kagumnya semakin menjadi-jadi. Banyak rancangan gaun yang masih dalam proses di beberapa patung. Semuanya cantik dengan warna yang elegan.


"Masya Allah, cantiknya. Ini lebih indah dari yang tadi. Potongannya simpel, tapi keliatan elegan," puji Rina. Pandangannya tertarik pada sebuah gaun merah merona yang polos, tetapi ada ekor di belakang. Seperti gaun pengantin. "Mas, itu punya siapa? Kok, bisa bagus banget?"


Netra kanan Alvin melirik. Ia diam.


"Cantik banget." Rina bergerak mendekati. Tangannya mengulur hendak merasakan serat kain, tetapi Alvin dengan tegas melarang.


"Jangan sentuh gaun itu!" cegah Alvin dengan nada tinggi dan penuh penekanan.


Otomatis Rina diam di tempat. Tangannya turun kembali ke bawah.


"Dia lebih berharga dari apa pun! Jadi, jangan biarkan tanganmu menyentuh satu kali pun!" tambah Alvin yang kini duduk di kursinya tanpa ingin melihat ke arah Rina. "Warna merah itu punya makna sendiri. Seperti apa yang kamu katakan tadi. Setiap gaun ada maknanya."


Entah mengapa pikiran Rina berubah jelek. Jika diperhatikan dengan seksama. Gaun ini memang berpotongan biasa, tetapi seakan hidup. Ada nyawa dalam jahitan gaun tersebut. Terlebih gaun ini pun tampak dijahit dengan suka hati juga penuh cinta seolah ada rahasia besar dibalik keindahannya. Apa itu? Entahlah.


"Kamu ke sini untuk konsultasi, kan? Ayo, duduk dan butakan matamu tentang apa pun yang ada di sekitar. Cukup dinikmati saja," ujar Alvin.


Rina tersenyum miring. Lucu sekali kata-kata Alvin. Andaipun gaun ini memiliki seribu juta makna dan sangat penting bagi Alvin, tetapi tetap tidak baik mengatakan hal sepedas itu. Setidaknya, berkatalah dengan lembut yang tidak membuat orang lain merasa tersinggung.


"Aku rasa gaun ini punya seseorang. Entah siapa. Aku harap dia bisa sebahagia yang lihat," ujar Rina sambil berbalik badan dan berjalan ke meja Alvin. Gadis itu menarik kursi di depan meja, duduk dan menyimpan ransel di meja. "Kita lupakan tentang gaun yang nggak penting itu. Pertama yang ingin aku tanyakan masalah pesan Mas tadi siang. Maksudnya apa?"


Rina merogoh tas di ransel. Mencari pesan Alvin tadi siang dan menunjukkannya.


From Dosen Galak


Jangan tinggalkan saya.


Alvin serba salah. Lelaki itu terlihat gugup, tak tahu harus menjelaskan seperti apa. Semua ini karena pengaruh Pak Ronald.


"Saya salah kirim. Itu untuk teman," bohong Alvin.


Rina termenung. Dari cara bicara dan juga mimik wajah Alvin, tidak begitu. Ia bisa menangkap sebuah ekspresi yang berkata lain.


Alvin menutup buku besar yang selalu ia pakai untuk merancang gaun. Tatapannya tajam sambil berkata, "Kamu ada perlu, kan? Cepat! Saya masih banyak kerjaan."

__ADS_1


"Ya, ya." Rina menyimpan ponsel. Mengeluarkan sebuah buku. Namun, rasa penasarannya belum bisa puas dengan jawaban Alvin. Ia pun menatap balik Alvin. "Memangnya Mas Alvin takut ditinggalin sama siapa?"


__ADS_2