
Cambukan itu berlangsung sekitar lima menit. Itu pun karena dihentikan si Lelaki yang tak tega.
"Cukup, Keysa!" serunya.
Napas Keysa memburu, sedangkan Rina tergeletak di bawah dengan keadaan yang menyedihkan.
"Apa salahku?" tanya Rina dengan nada lirih. Bertemu dengan Keysa saja hanya dua kali, tetapi itu justru mengantarkan dirinya ke penyiksaan ini.
Tali itu terjatuh seiring dengan perasaan puas yang muncul di diri Keysa. Tawa kencang pun terdengar jelas. Ia senang. "Kamu masih bertanya letak kesalahan?' Napasnya masih belum bisa dikendalikan. "Seharusnya kamu paham!"
Keysa hendak maju ke depan, tetapi lelaki yang bersama mereka secepat mungkin menghadang.
__ADS_1
"Jangan kotori tanganmu. Dia cuma alat menuju keinginanmu, kan?" tanya lelaki itu. Hal ini dilakukan agar bisa menurunkan tingkat kekerasan pada Kania.
Keysa diam. Menatap Rina dengan buas seolah belum puas menerkam. "Kamu tau siapa aku, kan?"
Rina berusaha bangkit. Duduk dan mengangkat kepala. Sorot mata Keysa menakutkan. Banyak dendam di sana. "Apa semua ini dilakukan demi Dani?' Hanya itu yang menghubungkan mereka selama ini. "Aku nggak paham sama cara pikir kamu."
Kesya tersinggung. Diremehkan Rina begitu saja. "Apa kamu pikir ini lelucon?" Kecemburuannya bukan tanpa sebab. Selalu ada titik api di setiap kebakaran. "Dia memang mengangapku tunangan, tapi dia sama sekali nggak pernah ada waktu lagi semenjak ketemu kamu. Yang ada di pikirannya cuma kamu, kamu!"
"Kenapa?" Keysa susah mengendalikan diri. "Aku juga perempuan! Aku berhak dapatkan perhatian lebih dari tunanganku sendiri!" Sesak dalam dadanya sedikit berkurang. Selama ini hanya diam. Mengamati pergerakan Dani dari kejauhan sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
"Kamu!" Telunjuk tangan Kesya menuding ke arah Rina. "Wanita biasa yang ada di masa lalu dia. Justru kamu yang dapat prioritas utamanya! Kenapa?" Kesya berteriak sekencang mungkin. Tak akan ada yang mendengar karena ruangan ini kedap udara.
__ADS_1
"Harusnya aku, bukan kamu!" Sekali lagi Keysa mengambil langkah. Ingin menampar Rina, tetapi ditahan oleh lelaki di sampingnya. "Sebaiknya kamu lenyap dari dunia ini!"
Rina terkejut. Bukan marah, melainkan kasihan pada Kesya. Perempuan malang itu terlalu tersiksa dengan keadaan sampai rela melakukan hal gil demi sebuah tujuan. Manusia terkadang serakah, ingin mengatur skenario sendiri.
"Tindakanmu ini salah." Rina berkomentar. Gatal juga. Dengan pandangan mengunci kedua mata Keysa, ia melanjutkan kalimat. "Kamu menyiksa diri sendiri sekaligus menjerumuskan diri ke tindakan kriminal. Seharusnya yang kamu tekan itu Dani, bukan aku."
"Diam kamu!" Keysa tak suka dinasihati. "Sebaiknya kasihani diri kamu sendiri. Bisa saja kamu lenyap di sini."
Rina tak menurut. Selama dirinya berada di jalur yang benar. "Aku nggak takut." Seakan menantang Keysa. Seutas senyum manis pun dilemparkan perempuan itu pada kedua orang di depan. "Kalaupun aku lenyap di sini, itu sudah takdir. Tapi ... yang perlu dikasihani itu kamu."
"Apa maksudmu?" Keysa mengerutkan kening. Kini perempuan itu tidak lagi dipegangi. "Jangan merasa aman karena bahaya itu bisa mengintai kapan pun!"
__ADS_1
Rina tenang. Binar matanya pun tak menyiratkan ketakutan seolah sudah memasrahkan semua pada Yang Maha Kuasa. "Aku mungkin berakhir di sini, tapi kamu yang masih ada justru harus berurusan dengan hukum dunia dan pertanggung jawaban di hari akhir nanti. Bukankah menghabisi nyawa seseorang itu sebuah perbuatan paling kejam?"