
Rina menginap di rumah Caca. Mereka belum tidur setelah salat Isya.
"Rin, kamu yakin nggak mau makan?" tanya Caca menyodorkan mie instan. Rasa kari ayam yang memang kesukaan temannya itu.
Rina menggeleng cepat. Tak ada rasa lapar. Aneh. "Nggak, ah. Aku belum lapar."
Caca mengerutkan kening. "Yakin?" Ini bukan Rina sebenarnya.
"Iya, Caca. Aku pengen diam aja." Wajah Rina merenggut. Rasanya ada yang kurang, tetapi tidak tahu apa. "Pengennya diam aja. Nggak tau kenapa, ya?"
Caca menyeruput mie dengan cepat. Rasanya memang mantap. Makanan satu ini memang menjadi penyelamat anak kost seperti dirinya. Selain harganya murah, praktis juga. Sangat ramah di kantong.
Caca menelan mie lebih dahulu. "Memangnya kamu kenapa, sih? Aneh banget."
Rina menggeleng cepat. "Aku juga nggak tau. Tapi, kayaknya ada yang kurang gitu."
Caca diam. Mencerna setiap kalimat dari Rina. Perasaannya mengarah pada sebuah jawaban. Hanya saja takut Rina tidak terima.
Rina menempelkan pipi kanan di meja lipat. Mereka memang sedang belajar mencari referensi dari berbagai sumber. Namun, semangat Rina menurun drastis. Hampa.
__ADS_1
Caca mendekatkan wajah ke telinga Rina dan berbisik, "Jangan bilang kalau kamu lagi rindu sama Pak Alvin?"
Sontak Rina menegakkan kepala. Menoleh ke samping dan memberikan tatapan tajam. "Nggak mungkin! Kamu ini gila, ya."
Caca menjauh. "Astagfirullah, Rin. Aku masih waras, makanya nanya." Wajah perempuan itu berubah kesal. Terkadang Rina memang menyebalkan, tetapi juga menyenangkan untuk dijadikan teman.
"Ya, nggak mungkinlah. Kamu pikir aja, aku sama Mas Alvin itu kalau dekat udah kayak kucing sama anjing." Rina protes. Hal gila seperti itu tak mungkin terjadi di antara mereka. "Lagian aku sama dia cuma pasangan bohongan doang."
Rina menempelkan pipi lagi. Mendengarkan Caca sama saja membuat otaknya ruwet.
Caca menghabiskan lebih dahulu mie instan di tangan. Menyimpan wadahnya di meja dan berkata, "Justru karena kalian ini sering bertengkar. Jadinya … sekali jauh langsung ada yang hilang. Bukannya itu namanya rindu?"
Rina menghela napas kasar. Tak peduli seberapa banyak kata yang dikeluarkan Caca, ia berpura-pura tidak mendengar.
Caca berdiri sambil membawa bekas wadah mie instan seraya berkata, "Kalau nggak percaya, ya udah. Tapi … setau aku memang begitu. Coba aja tanya ke hatimu yang dalam." Caca pergi ke area dapur. Kamar kostnya ini memang lumayan luas. Ada dapur kecil tersedia di dalamnya.
Rina bergeming. Memejamkan mata agar pikirannya bisa diajak dengan tenang. Perempuan itu terlalu lelah, hingga tertidur pulas.
Rina masuk ke alam bawah sadar. Di mana bunga tidur mulai memberikan kenyamanan dengan drama yang disuguhkan.
__ADS_1
Lima belas menit Rina tertidur. Caca yang baru saja selesai mandi itu pun langsung menepuk bahu sang Teman, membangunkan.
Tanpa diduga Rina bangun dengan menjerit. "Aku juga rindu, Mas!' suaranya keras dan tidak tertolong.
Caca tertegun. Rambut basah itu bahkan menjadi saksi bisu atas ucapan Rina. "Kamu bilang apa tadi?"
Rina sadar. Berdiri dengan mata yang bergulir ke kanan, kiri. Mulutnya tidak terkontrol. Mungkinkah bunga tidur menjadi penyebabnya?
"Nah, kan, ketahuan. Kamu itu kangen sama Pak Alvin." Caca semakin yakin dengan keyakinannya.
"Nggak! Itu kan kaget." Rina juga sama, teguh pada pendiriannya.
Caca menghiraukan. Ia memilih membawa setelan baju tidur ke kamar mandi, sedangkan Rina sendiri meneruskan tidur yang terjeda di ranjang. Memejamkan mata lagi, berharap mimpi itu tidak lagi terjadi.
Ponse Rina berbunyi. Terpaksa perempuan itu mengulurkan tangan ke meja kecil, mengambil benda canggih itu sambil berkata, "Siapa sih yang kirim pesan!" Nadanya kesal.
Mata perempuan itu terbuka lagi. Membaca pesan yang sontak membuat Rina menelan ludah bersama tubuh terpaku.
"Rin, aku mau ke minimarket sebentar, ya. Kamu mau nitip apa?" Caca keluar dari kamar mandi dengan setelan baju tidur panjang.
__ADS_1
Rina diam. Terlalu kaget dengan isi pesan. Telinganya seolah tak mendengar suara apa pun dari sekitar. Ia tuli sejenak.