Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Cinta pertama


__ADS_3

Dua sejoli duduk di tepi ranjang bagian kanan. Saling diam tanpa kata seolah sedang merangkai kata untuk dipersembahkan bersama.


"Silakan Mas jelaskan," kata Rina memulai lagi percakapan di antara mereka.


Malam kian menuju puncaknya. Mereka larut dalam keheningan yang disajikan sang Malam. Melebur di antara dinginnya udara.


"Nara itu adik kelas saya di kampus. Sama dengan Niken. Mereka keluarga bahagia bahkan mungkin seperti gambaran keluarga cemara," ungkap Alvin.


Rina memberikan waktu sepenuhnya untuk Alvin. Mendengarkan dengan seksama dan berusaha untuk tidak menyela sedikit pun.


Sesekali bayangan masa lalu berputar di kepala Alvin. Terasa nyata dan mengusik pikiran. Ingin berlari, tetapi tak bisa. Ia sudah memasuki setengah dari menara yang penuh dengan kenangan.


Alvin menghela napas kasar. "Dia itu junior yang baik dan dekat sama saya. Selain itu dia juga anak dari Pak Wira yang juga pelanggan pertama saya di butik. Kami sering berkomunikasi dan dekat satu sama lain. Tahun selanjutnya saya lulus dengan cepat. Kami jarang bertemu, tapi masih sering komunikasi."


Rina melapangkan dada untuk segala cerita yang menurutnya akan mengoyak jiwa. Bagaimana pun ia perlu tahu apa yang terjadi. Tidak adil namanya jika Alvin tahu masa lalunya, sedangkan lelaki bahkan tidak ingin membagi kisah di masa lampau dengan istrinya sendiri.


dada Alvin mulai sesak. Nama Nara masih ada, walaupun mungkin tidak sekuat dulu. Kedudukannya mulai terseret arus karena kehadiran Rina. Alvin tidak bisa memungkiri itu.


"Waktu itu saya langsung buka butik dengan sedikit tabungan dan keahlian. Keluarga Naralah yang menjadi pelanggan pertama dan tetap. Mereka sering memesan pakaian, baik untuk acara formal dan non-formal. Apalagi ayahnya Nara ini bukan orang sembarangan," imbuh Alvin.


Album foto itu masih ada di tangan Rina. Sesekali matanya menikmati sisa kecantikan dari foto Almarhuma. Semoga saja bisa terkuak semuanya.


Alvin menarik napas dalam. Mengembuskannya perlahan-lahan. Rasanya gila tatkala mengenang Nara. Sulit untuk diceritakan, tetapi demi Rina semua perlu jelas tanpa ditutupi.

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya Mas Alvin sama Nara ini? Maaf, apa kalian menjalin hubungan serius?" tanya Rina. Rupanya perempuan itu tidak sabar untuk mendengar kelanjutan cerita sampai bertanya sesuai perkiraan sendiri. "Aku penasaran," imbuhnya.


Alvin menatap Rina. Mata penuh penasaran itu memang nyata, bahkan ia baru melihatnya sekarang. "Nara sering pergi ke butik di sela-sela kuliah. Dia juga sering bawakan bekal makan siang. Kami bisa dikatakan berteman baik, tapi seperti yang kita tau kalau pertemanan lawan jenis itu selalu punya cinta dibaliknya."


Tangan Rina mulai bergetar kecil. Pikirannya tidak salah. Dugaannya pun tidak akan melenceng. Ada kisah cinta yang mungkin sukar dilupakan antara Alvin dan Nara. Yakin seperti itu.


"Dia cinta pertama, Mas Alvin?" tanya Rina.


Perlahan kepala Alvin menganggukan kepala pertanda pertanyaan Rina benar juga.


Kedua bola mata Rina membesar. Jantungnya berdentam. Inikah rasanya mendapati sebuah cerita pada sosok orang tercinta. Sedikit luka, tetapi harus tetap didengar sampai akhir juga.


"Kami memang nggak menjalin hubungan seperti pasangan lainnya karena saya tidak suka, tapi saya berjanji akan melamarnya di hari ulang tahun Nara waktu itu." Wajah Alvin tak bisa berbohong, menyedihkan. Sisa cinta itu masih ada, nyata dan pastinya sulit disingkatkan.


"Mas, kalau nggak kuat cerita sebaiknya tidur aja. Aku masih bisa nunggu," kata Rina yang sebenarnya jelas tidak bisa menunggu. Berbohong demi sebuah kebaikan rasanya tidak masalah.


Alvin menggeleng cepat. Sudah lama memang rasanya kejadian itu bergulir, tetapi ternyata masih bisa melemahkannya. Tidak adil pasti untuk Rina. Menilai Alvin lemah dan tak bisa berdamai dengan masa lalu. Jelas ini tidak sama dengan sikapnya yang selalu tegas dengan prinsip yang kuat.


Alvin tersenyum kecil. Elusan di punggungnya memberikan semangat luar biasa. Mungkin benar jika seseorang itu bisa jadi alasan untuk kita kuat. Ini yang dirasakan Alvin sekarang.


"Jangan dipaksa, Mas. Aku nggak mau lihat Mas ngerasa tertekan. Pada hakikatnya kebohongan itu bisa dilakukan pada situasi tertekan," kata Rina.


Kalimat ini memang terdengar seperti kelapang dadaan Rina akan masalaj ini. Namun, jika dikaji lebih dalam lagi. Kalimat ini pun mengandung sindiran lembut yang mengatakan kalau Alvin bisa saja berbohong saat didesak.

__ADS_1


Alvin sendiri sudah bertekad untuk terbuka. Bagaimana pun Rina berhak mendengar dari bibirnya langsung. Entah ini menyakitkan atau tidak, ia akan tetap mengatakannya.


"Sebulan sebelum ulang tahunnya, saya membuatkan gaun warna merah untuk Nara. Waktu itu saya sendiri yang menentukan tema untuk gaun itu tanpa sepengetahuan Nara. Niatnya jelas untuk dipersembahkan saat lamaran nanti," kata Alvin.


Tangan Rina berhenti mengelus. Mengurai senyum agar Alvin hanya tahu dia itu kuat, walaupun aslinya jelas tidak. Bagaimana tidak, dibalik gaun itu rupanya punya cerita manis yang mungkin saja melebihi ceritanya saat ini. Bisa dikatakan jika Rina iri saat ini. Ingin menjadi Nara yang dicintai penuh ketulusan tanpa perlu melakukan pernikahan yang dimulai atas dasar kekonyolan.


Alasan yang paling membuar Rina merasa dirinya memang kalah dengan Nara. Jelas saja rasa cemburu itu hadir. Ah ... ini menyesakkan juga.


"Tepat di tanggal 23 September, Nara ulang tahuh. Saya sudah bilang ke orang tuanya kalau akan datang untuk melamar. Mereka setuju, tapi sayangnya Niken tidak ada. Dia memang dari awal sudah ada di luar negeri. Memilih berkarir jadi model dibandingkan kuliah," sambung Alvin.


"Lalu?" tanya Rina ingin tahu lagi. Masih ada yang lebih mengejutkan sepertinya dari ini. Rina yakin.


Alvin kembali diam. Ini lebih sesak darinya karena bisa dikatakan skenario paling utama sekaligus menyedihkan.


"Malam itu saya berniat menjemputnya di dekat kampus karena dia ada kelas malam. Saat itu hujan deras, keadaanya pun mati lampu. Pengliatan sedikit, jadi saya berusaha berkendara dengan hati-hati. Sekitar semenit lagi sampai ke gerbang kampus, sebuah truk menabrak belakang mobil saya. Jelas saya panik dan membanting stir ke kanan. Sayangnya ...." Alvin kesulitan. Rasanya sesak luar biasa. Setetes cairan bening keluar tanpa diundang. Untuk pertama kalinya Rina melihat sang Suami seperti ini.


"Mas," kata Rina lembut. Memeluknya erat. "Istigfar, jangan nangis." Entah mengapa perasaan Rina lebih dominan kasihan sekarang.


Alvin masih belum sanggup meneruskan. Menenangkan diri sebaik mungkin.


"Istigar, Mas. Isitgfar." Rina menuntun Alvin mengucapkan kalimat istigfar dengan pelan.


Rasa sesak ada di antara dua sejoli tersebut.

__ADS_1


__ADS_2