
"Seseorang yang pintar saja bisa bodoh kalau berhadapan dengan cinta. Aku rasa itu juga berlaku untuk orang yang pemberani," jawab Alvin.
Dani diam.
Alvin segera pergi dari sana. Sepagi ini terlalu sayang untuk berkelahi, walaupun lewat perkataan.
Rina seketika pergi juga dari dapur menyusul suaminya. Cukup puas dengan jawaban Alvin yang menurutnya mampu membungkam mulut Dani.
Pagi itu semua orang pergi ke tempat tujuan masing-masing. Rina sendiri ke kampus karena ada mata pelajaran pagi. Ia diantar Alvin sampai depan gerbang.
"Jangan pulang ke rumah malam ini. Kamu bisa menginap di mana saja kalau memang tidak mau di rumah Ibu!"
Kata itu yang keluar dari mulut Dani ketika Rina mencium punggung tangannya, pamit. Sorot mata lelaki tersebut tidak biasa, ada yang berubah. Itu bukan Alvin. Layaknya dua orang yang berada di satu tubuh.
Rina sendiri tidak ambil pusing. Pergi ke kampus dan menemui Caca di taman kampus.
"Assalamu'alaikum," sapa Rina ketika melihat perempuan tersebut ada di sana.
Caca menoleh. "Waalaikum salam." Hamparan rumput hijau bersih itu selalu menjadi alas duduk yang menyenangkan baginya. "Tumben kamu datang pagi?"
Rina duduk. "Astagfirullah, Ca. Kan, ada kuliah pagi."
Caca menepuk jidat. "Astagfirullah, aku lupa." Gadis itu tertawa kecil. Selalu saja penyakit lupanya tidak hilang. "Oh, ya, Rin. Kamu beneran mau nginap di kost aku?"
Rina mengangguk pelan. "Iya. Dua malam aja. Mas Alvin nggak izinin aku tinggal di rumah."
__ADS_1
"Bagus itu." Caca mengacungkan jempol. "Di sana kan ada pencuri gila."
Rina bergeming. Pikirannya melayang ke kejadian tadi pagi. Mungkinkah Alvin? Rasanya tidak mungkin.
"Mungkin suamimu khawatir karena ada orang lain juga di rumah. Lagian siapa juga yang mau ninggalin barang berharga sendiri kalau tau ada pencuri," sambung Caca beralibi sendiri.
Ini masuk akal. Hanya saja dari gerak-gerik suaminya, Rina mengendus sebuah firasat kurang baik. Lelaki itu bersikap terbalik dari pertama bertemu.
"Lagian, nih, Rin. Kalau aku jadi Pak Alvin, aku juga bakal hati-hati. Ya, walaupun Pak Alvin belum tau siapa Dani." Caca masih terus berceloteh tanpa memberi jeda untuk Rina membalas. "Kalau aku ini laki-laki, udah kutendang si Bajingan itu ke lubang semut."
Rina melongo. "Astagfirullah, Ca. Jangan gitu. Nggak baik." Ia juga kesal, tetapi tidak bagus juga tindakan Caca. "Sejahat apa pun orang lain, kita nggak perlu balas perlakuannya. Biarin aja Allah yang atur sendiri."
Caca diam.
Mereka hanya berbicara sebentar sampai waktu menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Mata pelajaran pertama akan dimulai. Hari ini ada dua mata pelajaran dan satunya lagi berada di jam siang. Sekitar pukul dua.
Caca memperhatikan. "Kamu kenapa?" Berbisik pelan di telinga Rina. Ada yang aneh.
Rina yang berada di pojok dekat kaca pun menoleh. "Nggak."
Kerutan di kening Caca mengisyaratkan jika perempuan tersebut kurang percaya. "Kamu punya masalah?"
Rina diam.
"Jangan ada yang berbicara!" Suara keras dari Dosen perempuan separuh baya memutus percakapan mereka.
__ADS_1
"Nanti aja kita bicaranya," kata Caca lagi.
Mata pelajaran itu berlangsung sekitar setengah jam. Semua orang bubar ketika Dosen itu keluar. Tidak berlaku untuk Rina dan Caca. Keduanya terlibat pembicaraan lagi.
"Rin, kamu kalau ada masalah. Bilang." Setengah memaksa Caca mengatakan itu.
Rina memasukkan dua buku tulis ke ransel merah miliknya. "Bisa dibilang masalahnya nggak terlalu rumit, tapi menyebalkan juga."
Jawaban Rina semakin menggali rasa penasaran Caca. "Tentang apa, sih?" Gadis itu fokus.
Semua buku masuk. Rina menoleh ke samping. "Kamu tau Dani, kan?"
"Iya. Tau. Lelaki sialan yang bikin hidupmu gila." Caca masih ingat betul.
Rina sedikit tersentak dengan kalimat kasar Caca. Namun, juga setuju. "Dia bukan cuma datang sendiri."
Dahi Caca mengerut. "Maksudnya?" Caca berdiam sejenak. "Dia bawa pasukan gitu? Gimana, sih, aku nggak mudeng." Terlalu banyak hal yang perlu dipikirkan Caca, sehingga sulit sekali menebak teka-teki Rina.
Rina menghela napas. "Tunangannya datang."
Kedua bola mata Caca membesar. Sontak berdiri dan berteriak, "Apa!" Kabar mengejutkan itu terdengar kuping. "Maksudnya dia bawa tunangannya ke rumah kalian?"
Rina menggelengkan kepala cepat. "Bukan seperti itu."
Caca mulai kesal. Duduk lagi. "Jadi, gimana, sih? Aku bisa gila nih kalau kamu ajak main tebak-tebakkan mulu. Kepalaku udah mau pecah dari semalam. Banyak yang dipikirin."
__ADS_1
"Tunangannya datang ke sini. Nemuin aku," ungkap Rina yang berhasil sekali lagi membuat kedua bola mata Caca membesar. "Nggak tau deh kenal aku di mana. Nggak mau tanya juga."
Rina tidak tertarik tentang hal tersebut. Ia lebih memilih fokus pada pendidikan serta menjaga hubungannya dengan Alvin. Ya, sekali pun bukan pernikahan yang dilandasi rasa cinta seperti pasangan pada umumnya. Namun, kewajiban menjaga itu perlu.