Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Kedatangan Dani


__ADS_3

Pertemuan itu berlangsung singkat. Rina dan Alvin kembali pada kegiatannya sendiri. Rina bergegas kembali ke kantin karena sejak tadi chat dari Caca terus bermunculan.


 Ia berjalan dengan perasaan tak karuan. Pelukan yang terjadi beberapa detik tadi tak ada dalam skenario pernikahan keduanya. Bahkan sangat tidak terbayangkan.


"Ayo, sadar!" Rina memukul pelan pipi kanan. Ia tak boleh terlena karena pada dasarnya Alvin punya cerita yang mungkin masih membekas dalam hati.


Akhirnya ia sampai di meja lagi. Mendapati Caca yang kesal karena ditinggal. "Kamu habis dari mana?" 


Rina menarik kursi, duduk. Mengatur napas sebaik mungkin agar bisa berkomunikasi dengan baik. "Itu, aku ada perlu." Entah mengapa ia memilih menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sama siapa?" 


"Ada, orang."


"Ya, orang. Masa kamu ada perlu sama hantu." Caca terlihat penasaran, tetapi Rina tetap tak ingin bercerita.


Mereka menghabiskan mie ayam yang semakin mengembang, lalu pergi bersama ke tempat kajian. 


***


Di sebuah masjid yang tak jauh dari kampus, Rina dan Caca menyimak penjelasan ustadz tentang bagaimana menjalani rumah tangga. Tak dipungkiri jika kebanyakan jamaah yang hadir adalah seorang Istri muda yang perlu banyak belajar.


"Kita tau jika posisi istri itu adalah sebuah peran yang tidak mudah. Contohnya, tidak meninggikan suara saat berdebat dengan suami itu balasannya besar, tapi susah untuk dilakukan. Apalagi jika posisi kita benar dan suami salah," ujar Pak Ustad.


Rina menyimak. Berusaha menyaring apa pun kalimat yang baik dan perlu ditelaah oleh otaknya.


"Makanya, banyak sekali pertengkaran rumah tangga yang tidak habisnya karena keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Itulah kita, manusia. Yang seolah semuanya harus berjalan sesuai keinginan," lanjut Pak Ustad.


Rina terdiam. Entah mengapa setiap kata-kata itu menusuk jantung seakan merobek bagian dalam organ tubuhnya. Memberi tamparan keras bagaimana sikapnya belum bisa lembut dan baik terhadap sang Suami.


"Na, jadi istri itu ternyata nggak mudah, ya?" bisik Caca.


Rina mengangguk pelan. "Ya."


"Tapi, kadang istri juga banyak diremehkan. Yang akhirnya para istri memilih pergi dan mencari kebahagiaan sendiri." Caca mengamati sekitar. Melihat beberapa kejadian real yang ia tonton sendiri. "Aku jadi takut menikah."

__ADS_1


Rina melirik sekilas Caca. "Jangan seperti itu. Memang benar kita bisa memilih untuk menikah atau tidak, tapi jangan juga jadi sebuah ancaman besar. Menikah itu memang nggak mudah. Pasti aja ada kerikil kecil. Semua perlu dilewati dengan sabar sambil terus belajar bersama. Makanya, cari pasangan yang mau berjuang sama-sama."


Caca mengerti. Suara pak Ustad kembali terdengar kencang. Kajian ini berlangsung sekitar satu jam. Jamaah bubar ketika ustad mengakhiri kegiatan tersebut.


Rina sendiri memilih pulang karena sudah tak ada kelas, sedangkan Caca masih ada satu mata kuliah yang perlu dihadiri. Mereka berpisah di perkarangan masjid.


Rina berjalan ke halte terdekat. Menunggu bus di sana. Beberapa pengunjung pun datang terus menerus memadati halte. Di keramaian ini, Rina mulai menarik diri dalam kesunyian. Kepalanya menengadah ke atas. Terik matahari lenyap digantikan dengan awan hitam yang menggantung. Romannya hujan akan datang. Pasti menyenangkan, pikirnya.


Bus datang. Semua pengunjung naik tanpa ada yang tersisa. Mereka kali ini memadati kendaraan besar itu, walaupun sebenarnya masih cukup.


Rina sendiri memilih berdiri, karena kebanyakan orang tak ingin bergantian. Berpegangan pada tiang di atas adalah hal yang perlu dilakukannya agar tidak terjatuh.


Bus berjalan dan singgah di setiap halte. Rina turun di halte tujuannya, berjalan ke arah gerbang perumahan elit tersebut dan tak lupa menyapa satpam komplek.


Rumahnya tidak jauh dari gerbang. Hanya terhalang tiga rumah, dan sampailah Rina. 


Rina masuk rumah seraya berkata, "Assalamualaikum."


Tak ada jawaban. Jelas, ia hanya berdua saja dengan Alvin. Jadi, tak mungkin ada yang menjawab. 


Semua kegiatan terlewati. Rina pun merebahkan diri di kasur. Pakaiannya tidak diganti, hanya melepaskan hijab saja. Menurut penuturan Alvin, saudaranya itu akan datang nanti sore. Ia perlu memasak untuk menyambut mereka.


"Aku tidur sebentar," gumam Rina.


Waktu terus berjalan, hingga sore pun datang. Rina bangun sebelum azan Asyar. Ia bergegas mandi, mengganti pakaian dan memakai hijab lagi. Sebelum bergulat di dapur, ia tak lupa salat lebih dahulu. 


Hari ini ia berniat membuat ayam goreng, tumis kangkung, kerupuk udang, dan sambal. Menu yang simple, tetapi mewah.


Salat selesai. Rina keluar kamar. Langkahnya perlahan menapaki satu demi satu anak tangga, bergerak ke arah dapur dan memulai pergulatannya di sana.


Satu jam kemudian, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah. Rina yang sudah selesai dan masih memakai celemek itu pun siap menyambut Alvin. Setengah cepat berjalan ke arah pintu. 


Perempuan itu mengukir senyum agar sang Suami tak protes. Rina membuka pintu, lalu pandangannya lurus ke depan. Kedua bola matanya membulat melihat siapa yang sedang berdiri tegak di hadapannya. Seorang lelaki dengan sebuah senyuman yang paling dibencinya sepanjang masa.


Alvin rupanya baru keluar dari mobil, bergegas mendekati mereka dan berkata, "Assalamualaikum."

__ADS_1


Rina berpura-pura tenang. "Wa'alaikum salam." Ia meraih tangan kanan Alvin dan menciumnya. Mencoba untuk tidak bertemu pandang dengan lelaki yang masih berdiri di depannya.


"Rina, kenalin ini Dani. Adik sepupuku," ujar Alvin memperkenalkan lelaki itu.


Dani mengumbar senyum. Rina diam.


Alvin mengamati reaksi Rina yang kurang wajar. Seolah istrinya itu tidak suka dengan kedatangan Dani.


"Kamu kenal dia?" tanya Alvin pada Dani.


Jantung Rina berdentam. Hatinya berdetak tak karuan. Jawaban Dani menentukan kehidupan rumah tangganya di sini.


"Nggak. Dia cuma mirip seseorang aja," jawab Dani cepat.


Bibir Rina bergetar hebat. Ingin rasanya menarik perkataannya, tetapi itu mungkin tak bisa.


"Ayo, masuk." Alvin mengajak adik sepupunya ke dalam. Rina bergeser memberi jalan bagi mereka. Berdiri mematung memperhatikan punggung keduanya yang sama tegapnya.


Ketika sudah delapan langkah, Dani menoleh. Mengedipkan mata kanan sekali pada Rina seakan mengisyaratkan dirinya menang.


Tangan kanan Rina mengepal di bawah. Amarah itu berada di ubun-ubun. Akan tetapi, tak bisa dikeluarkan dengan baik.


Dani mendengarkan Alvin berbicara. Menjelaskan di mana keberadaan kamarnya. 


"Kamu bisa pilih di lantai atas atau bawah," kata Alvin.


Dani menimbang lebih dahulu mana yang terbaik. "Sepertinya di atas aja. Di sana ada balkon, kan?"


"Ada." Alvin tegas. "Tapi, ada hal yang perlu kamu ingat di sini."


"Apa?" Dani merasakan adanya sebuah aturan.


"Hiduplah dengan baik. Jangan mengganggu satu sama lain, termasuk istriku!" tekan Alvin dengan tatapan tajam.


Dani diam. Ini permulaan yang perlu usaha yang keras. "Tenang aja. Aku cuma sebulan doang di sini. Santai."

__ADS_1


##


__ADS_2