Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Dani bertemu seseorang


__ADS_3

Di tempat lain Dani sedang duduk tenang menunggu seseorang. Setelah diusir dari rumah Alvin, lelaki itu tinggal di salah satu apartemant Keysa. Tentu saja pemberian kakak dari perempuan tersebut.


"Ini minumannya, Mas." Seorang karyawan lelaki menyimpan es jeruk di meja Dani.


"Ok." Dani hanya menjawab sedikit.


Karyawan pergi. Dani mengeluarkan ponsel di saku jaket. Melihat pesan masuk, nihil. Pesannya bahkan belum dibaca. "Dia sebenarnya niat apa tidak? Bikin kesel orang aja!"


Yang keluar dari mulut Dani hanyalah kalimat kekesalan yang pastinya penuh dengan amarah. Menunggu sekitar sepuluh menit saja sudah membuat lelaki itu kesal. Bagaimana mungkin seorang lelaki yang tak suka menunggu harus melakukan ini.


Dani terus bermain ponsel. Mengusir rasa kesal. Berharap sesosok yang ingin ia temui segera tiba. Menunggu di sini memang tidak terlalu membosankan. Hanya saja tak menyenangkan juga.


Dani terpikirkan Rina. Mendadak bayangan perempuan itu hadir menemani dirinya di sini. Menggoda seolah ingin bertemu, bertatap muka penuh rindu.

__ADS_1


"Beberapa hari nggak ketemu aja, rasanya rindu," imbuh Dani yang sampai saat ini belum bisa memastikan hatinya bebas dari Rina.


Lelaki itu iseng mengecek media sosial Rina. Melihat beberapa postingan dari perempuan tersebut seminggu ke belakang. Ada saru postingan yang membuat darahnya mendesir. Di mana Rina mengunggah sebuah postingan makanan dengan tulisan 'Makan bersama' tentunya Dani tahu ke arah mana postingan itu dituju.


Cemburu membakar jiwa Dani. Menghanguskan sebagian dirinya, habis tak tersisa. Kekesalan ditambah rasa cemburu bisa mengubah jiwa yang tenang menjadi gelisah luar biasa.


Dada Gani kembang kempis, menahan amarah. Penantiannya pada seseorang lenyap seketika. Ia tak lagi menunggu, tetepi lebur bersama api cemburu yang membakar diri.


Suasana cafe ramai. Banyak pengunjung memadati ruangan ini. Kebanyakan dari mereka adalah kalangan muda-mudi yang tentunya sedang menghabiskan waktu bersama teman ataupun pacar.


Di antara banyaknya orang di sini, hanya Dani saja yang sendirian. Menyedihkan terlihatnya, tetapi memang itulah kenyataan.


Tak berapa lama seseorang datang. Menarik kursi di depan Dani dan berkata, "Wajahmu kusut. Lebih kusut dari setrikaan yang belum terjamah pemiliknya."

__ADS_1


Telinga Dani menangkap suara itu. Ia mengangkat kepala ke atas, menatap orang tersebut dan berkata, "Sepertinya kamu tidak punya rasa bersalah sedikit pun. Padahal sudah buat orang menunggu lama."


Orang di depan Dani tertawa kecil. "Dua puluh menit itu bukan lama. Jarak dari rumah ke sini memang memakan waktu lumayan. Kamu tau sendiri, kan?"


Dani menyunggingkan senyum. "Sok akrab karena ada maunya. Sebenarnya yang busuk di sini itu siapa?"


Sosok itu melengkungkan senyum kecil. Acuh dengan kalimat Dani. Memang sindirian, tetapi tidak perlu dipikirkan. "Sifat manusia itu hampir semuanya sama. Bisa dibilang sama rata. Kalau ada perlunya, baru mendekat. Kalau butuh sesuatu, baru mencari. Jangan heran."


Dani menetralisir hati agar lebih tenang. "Kenapa harus sekarang mencari?" Penasaran menyelimuti diri. "Seperti jelangkung. Datang tidak diundang, jangan sampai pulang minta diantar."


Tawa kecil keluar lagi dari mulut sosok tersebut. Suaranya renyah dengan wajah yang menarik. "Aku lebih suka datang dan pergi sendiri. Tentunya tanpa orang tau. Main sembunyi-sembunyi itu lebih menarik. Coba saja. Pasti ketagihan."


Dani menatap tajam. Ponsel dibiarkan berada di meja begitu saja, sehingga sudut mata lawan bicaranya tersebut bisa melihat dengan jelas. "Jangan basa-basi. Mulai saja."

__ADS_1


__ADS_2