
"Sudah meluncur."
Kalimat itu menjadi sebuah aba-aba bagi seseorang yang tengah duduk manis di kursi sebuah ruangan. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Mania memang.
Di ruangan tersebut banyak sekali pernak-pernik unik yang bahkan tidak bisa ditemui di mall ataupun pusat perbelanjaan.
"Ternyata dia memang punya penarik yang kuat," kata orang tersebut sambil tersenyum miring. Berdiri seperti seorang penguasa yang tengah mengamati permainan. Kekuasan ini lebih besar dari apa pun. "Kita lihat siapa yang duluan sampai," katanya lagi.
Tak berapa lama suara pintu diketuk. Ia yakin seseorang di sana menunggu jawaban. Dengan berjalan penuh keanggunan ia pun mengarah pada pintu. Membuka penghalang antara kamar dan ruangan lainnya tersebut. "Ada apa?" Menatap lekat pada lawan bicara yang bertubuh tegap.
"Dia tetap tidak mau makan," jawabnya tanpa embel-embel sapaan apa pun. Sepertinya memang sudah sangat dekat. "Dipaksa pun, percuma."
__ADS_1
Sudut kedua bibir wanita tersebut terangkat ke atas. Tidak masalah baginya. Bukan ia yang akan lemah. "Biarkan saja. Dia punya hak untuk memilih." Menunggu sampai mana pertahanan orang yang tengah mereka bicarakan. "Ambil semua makanan di depannya. Biarkan dia merasakan kelaparan!"
Senyum penuh kelicikan tak bisa dihindari. Perasaan kesat bercampur amarah sulit juga dipungkiri. Tak ada yang bisa menghentikan langkah. Tekad ini bulat, perencanaannya pun matang. Jelas tinggal eksekusinya saja. Sempurna memang.
"Jadi, kita biarkan dia kelaparan?" tanya lelaki itu untuk memastikan.
Dengan yakin wanita itu mengangguk. Tidak ada salahnya. Menyiksa memang tujuan utama. "Iya. Biar dia tau rasa!" Sorot mata itu terpancar kebencian yang luar biasa. Tertanam sejak awal bertemu. Semakin menggunung dan akhirnya meletus juga. "Dia punya pikiran, bukan anak kecil lagi."
"Baiklah. Aku turuti semuanya." Lelaki yang memakai jaket hitam itu tersenyum kecil. Bergerak mendekati wanita di depannya dan berkata, "Asal perjanjian kita berjalan lancar."
"Tenang saja. Sesuai apa yang kita sepakati. Tapi …." Seukir senyum miring wanita itu diberikan. Mengikat hati lelaki di depannya sampai luluh. "Kamu bisa mendapatkan sesuai yang aku janjikan."
__ADS_1
"Anak manis." Tak berhenti di sana. Lelaki tersebut mengambil satu langkah ke depan lagi. Mengangkat dagu lawan bicaranya dan berkata, "Sebenarnya apa yang kamu cari?"
"Sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan dengan mudah. Padahal kalau dibandingkan, jelas aku lebih unggul," kata si Wanita. Sinar mata itu tidak menyiratkan ketakutan sama sekali. Tekadnya selalu bulat dengan pengambilan strategi yang benar.
Lelaki itu menyeringai. Manusia memang serakah. Terkadang rumput tetangga pun terlihat indah dibandingkan milik sendiri. Padahal lahan dan tumbuhannya sama. Tidak aneh bukan.
"Kamu terlalu berani," kata si Lelaki.
Ini bukan pujian, melainkan sebuah komentar yang dirasa cukup menampar.
"Kalau diri sendiri tidak berani, lalu siapa lagi yang akan melakukannya?" Dengan cepat wanita itu menghempaskan tangan lelaki di depannya. "Aku lebih baik mengambil keputusan dengan cepat daripada membusuk karena amarah. Bukannya ini menyenangkan?"
__ADS_1
Wanita ini memang tampak diam, tetapi cukup licik. Berada di tengah kerumunan sambil mengamati. Mencari kelemahan target, lalu bergerak dengan cepat. Tidak peduli di depannya ada belokan tajam ataupun turun curam, yang terpenting bisa terus maju menuju finish.
"Aku berharap kamu lebih baik." Sebelum beranjak menjauh, lelaki itu tak lupa mengutarakan pengharapan terbaik.