
"Silakan datang di kelas pukul empat sore. Saya bisa berikan pelajaran tambahan," jawab Alvin.
Akhirnya menang. Mahasiswa perempuan itu tersenyum senang. "Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya."
Alvin menyunggingkan senyuman kecil. "Sama-sama. Saya harus ke kelas."
"Silakan, Pak."
Alvin bergerak ke depan lagi. Melirik sekilas ke arah samping depan kelas bagian ekonomi. Senyumannya masih tampak.
Lelaki itu sampai di kelas. Disambut banyak anak muridnya, lalu berkata, "Mari kita mulai kelas pagi ini."
Beberapa mahasiswi baru saja sampai, termasuk Rina. Pandangan perempuan itu tajam pada Alvin seolah ingin menerkam dan menghabisinya.
"Ayo, duduk," ajak Caca.
Rina tak bersuara. Duduk dengan tenang.
"Jangan ditatap terus. Nanti kamu bisa gila," bisik Caca.
__ADS_1
Kelas dimulai. Alvin menjelaskan dengan baik dan tegas tentang materi pagi ini. Ia pun mendapatkan banyak pertanyaan.
"Kalian bisa kerjakan tugas ini," kata Alvin.
Rina langsung berdiri sambil mengacungkan tangan kanan.
"Ya. Silakan bertanya," imbuh Alvin.
Sorot mata Rina tidak terkalahkan. Wanita itu menarik napas kasar. Mengembuskannya perlahan. "Saya ingin tau kenapa hanya Pak Alvin saja dosen yang selalu memberikan tugas pada kami di setiap pertemuan? Apakah dengan ini kami dinilai kemampuannya?"
Ada yang aneh dari sang Istri. Alvin bisa merasakan itu dengan sangat kuat. Semua mahasiswa diam. Menatap Rina yang dinilainya pemberani karena Alvin memang dosen dengan tingkat ketegasan berada di level tinggi.
Caca panik. Menarik ujung jilbab Rina dari bawah dan berbisik, "Rin, udah!"
Rina tak peduli.
"Jangan bandingkan satu dosen dengan yang lainnya. Saya rasa itu tidak adil karena kami pun tidak pernah membandingkan satu mahasiswa dengan lainnya," imbuh Alvin.
Suasana hening dan menegangkan. Entah setan apa yang merasuki Rina. Yang jelas saat ini jiwanya sulit dikendalikan.
__ADS_1
"Apa ada pertanyaan lain yang lebih berhubungan dengan materi hari ini?" tanya Alvin seolah menyindir Rina.
Rina duduk lagi. Terpaksa, sekali pun pandangannya tidak berubah.
Kelas selesai. Semua mahasiswa keluar. Hanya tinggal Rina dan Caca. Alvin sendiri sudah pergi lebih dulu.
"Rin, kamu kesurupan setan apa, sih?" Caca heran. Rina memang sedikit pemberani, tetapi selama ini selalu tidak berkutik jika berhadapan dengan Alvin. Terlebih lelaki itu sudah dikenal dengan sikap gilanya. "Istigfar, Rin."
Rina bergeming. Ada rasa aneh yang berselimut dalam diri. Membakar jiwa semakin membuat gila.
"Aku nggak tau kamu seberani ini. Ok, kalau di rumah mungkin nggak masalah karena cuma ada kalian. Paling si Benalu itu doang yang tau, tapi ini publik. Sampai mikir keras aku ini dari tadi," sambung Caca.
Rina menelengkupkan wajah di meja. Kepalanya pening. Butuh obat. Ia sendiri tidak mengenal dirinya saat ini. "Aku pengen tidur rasanya atau mungkin menghilang aja."
Caca terkekeh geli. "Apa yang bakal terjadi selanjutnya sama kamu di rumah nanti? Takutnya Pak Alvin dendam, lho. Doa baik-baik aja."
Kalimat ini kian merumitkan pikiran Rina. Andaikan boleh dipinjamkan pintu ke mana aja milik Doraemon, ia mungkin akan meminta menghilang dari hadapan Alvin selamanya. Namun, berat juga dalam diri.
"Astagfirullah, aku gila." Rina memukul meja beberapa kali.
__ADS_1
Caca diam menemani. Padahal hanya melihat, tetapi suasana hati temannya itu langsung berubah drastis. "Positif thingking aja dulu. Jangan banyak pikiran."