Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Kerja sama


__ADS_3

Mobil Alvin sampai di tempat tujuan. Sesuai arahan yang diberikan nomor tidak dikenal menggiring lelaki itu berada di sini.


Anehnya, nomor tersebut tidak ingin mengangkat telepon dari Alvin seolah sedang mempermainkan keadaan dan juga jiwa Alvin yang tengah terguncang.


Di depannya hanya ada sebuah rumah tua yang bahkan tidak berpenghuni sama sekali. Tampaknya sangat tidak terawat, sehingga terlihat menyeramkan. Terbesit di benak Alvin kata ragu, tetapi ia terus berusaha berpikiran positif. Barangkali orang tersebut menyukai situasi seperti ini.


"Rina!" Alvin berteriak sambil melangkah ke arah teras dari rumah tersebut. Banyak sekali jaring laba-laba di atas atap. Benar-benar tidak terawat.


Keadaan itu tidak menyurutkan semangat Alvin untuk terus melangkah. Berdiri di depan pintu, lalu berteriak, "Rina! Kamu di mana?" Mencoba membuka pintu dari kayu tersebut. Nihil. Terkunci. Pikiran Alvin kian melayang, membayangkan hal gila yang bisa saja terjadi.


Belum sampai di sana, keterkejutan Alvin datang ketika sebuah mobil hitam juga sampai di samping kendaraannya. Kedua bola mata itu menyaksikan sendiri tatkala Dani keluar dari mobil berwarna gelap tersebut.


"Dia!" Alvin mulai terpancing amarah. Beranggapan jika Danilah dalang segalanya. Setengah berlari menghampiri Dani dan segera mencengkram kerah kemeja sepupunya itu. "Di mana Rina?" Sorot mata Alvin penuh amarah serta kekesalan. Ingin segera memberi cap merah di pipi Dani dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


Dani tersentak. "Apa maksud kamu?" Kedatangannya ke sini pun untuk mencari Rina. "Jangan bilang kalau Rina disekap sama kamu?"


Alvin menyeringai. "Otakmu terlalu dangkal. Mana ada suami yang mau menyekap istri sendiri?" Ingin tertawa rasanya.


Dani tak ingin kalah. Berbalik mencengkram kerah kemeja Alvin dengan pandangan yang sama juga tajam. "Jangan main-main! Dunia ini sudah gila! Orang terdekat juga bisa jadi berbahaya!"


"Itu seharusnya untukmu!" Dalam keadaan terkurung emosi, tangan kanan Alvin melayang ke pipi kanan Dani. Belum puas sampai sana, dosen yang terkenal tenang itu pun masih memberikan satu pukulan di pipi satunya lagi. Jelas harus adil. "Di antara orang yang paling berbahaya di sini itu kamu! Paham?"


Napas Alvin memburu. Keadaanya sudah acak-acakan. Yang diinginkan hanya bertemu Rina segera.


Ketidakterimaan Dani inilah yang menjadi pemicu mantan suami Rina tersebut marah.


Alvin berusaha berdiri dengan memegang hidung, tak terasa sakit sama sekali. Berdiri tegak di depan Dani dengan mengikis jarak. "Orang yang terobsesi dengan seseorang biasanya bisa lebih gila dan semua orang tau siapa kamu?" Kali ini Alvin tidak peduli tentang tali persaudaraan mereka. Ada jiwa istri yang seharusnya diselamatkan.

__ADS_1


Dani bertepuk tangan dua kali seraya berkata, "Aku kira orang dengan tingkat kepintaran paling tinggi tidak akan lemah karena seorang wanita. Ternyata salah!" Dani menekan sedikit kalimatnya. Tangan kanannya menuding ke depan. "Kamu lebih lemah daripada orang biasa!"


Alvin menatap tajam Dani. Sejak kedatangan lelaki itu semua masalah beruntun hadir di kehidupan tenangnya. Hari-harinya pun dipenuhi dengan ketegangan juga rasa cemburu yang terus saja bersembunyi di kata saudara. Melelahkan memang.


"Asal kamu tau, segilanya aku ke Rina. Aku juga punya hati kecil. Bercerai dari dia karena keinginan Mama. Berpura-pura membencinya untuk menutupi rasa cinta terdalam. Kalau sampai Rina masih bersamaku saat itu, mungkin dia lebih menderita karena Mama terobsesi punya menantu yang sempurna, sedangkan aku masih belum punya pekerjaan tetap yang bisa membawanya pergi," jelas Dani mengungkap apa yang selama ini dipendam.


Alvin terkejut bukan main. Entah ini benar atau tidak.


Semenit dari itu ponsel kedua lelaki tersebut berbunyi. Sebuah pesan masuk dan ternyata dari nomor yang sama. Mereka saling melempar pandangan dengan pikiran yang sepertinya sama.


"Kamu punya pikiran yang sama?" tanya Dani yang mencoba berdamai dengan keadaan.


Alvin diam sejenak. Dari semua petunjuk memang mengarah ke sana. Ada orang lain yang mempermainkan mereka.

__ADS_1


"Ayo, kerja sama dan temukan Rina. Dia mungkin dalam bahaya," ajak Dani. Saat ini pikirannya hanya terpusat pada satu nama. Sejak mendapatkan pesan dari nomor yang tak dikenal, perasaannya sudah tidak karuan.


__ADS_2