Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Menitipkan barang


__ADS_3

Dani membanting tas ke ranjang. "Sialan!" Dadanya bergemuruh menahan emosi yang membludak. Ingin marah, tetapi tak bisa. 


Lelaki itu berdiri menetralisir emosi yang kian meracuni diri. Bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air shower, Dani merasakan tubuhnya basah kuyup. Rasanya sesak. Namun, kenyataan memang seperti itu adanya.


Mandi selesai. Rapi dan wangi. Rasa lapar menghampiri, barangkali di dapur ada makanan yang bisa dimakan.


Begitu sampai di dapur, netra indahnya mendapati semangkuk sambal cumi merah. Menggoda lidah. Tanpa canggung lelaki itu menarik kursi, mengambil nasi dan sambal cumi. Suapan pertama masuk, telinganya berdengung dan seketika panas di lidah tak tertahankan.


"Pedes banget." Dani mencari minum. Rasanya bahkan lebih pedas dari sambal buatan sang Ibu. "Dia sepertinya pakai cabe sekilo buat bikin sambal." Rasa pedas sukar hilang. Dani kewalahan.


Di ambang pintu Alvin menyunggingkan senyum. Melewati dapur begitu saja untuk pergi ke teras. Untung saja tak mencicipi, jika iya. Tentu perutnya akan perang malam ini. 


"Jebakan Rina kena orang juga, untung bukan aku. Anak Sholeh selalu selamat." 


Alvin bergerak ke teras. Duduk di salah satu bangku. Memandangi langit indah penuh bintang sembari membayangkan kejadian tadi yang sebenarnya membuat jantungnya membuncah. "Astagfirullah, aku bisa gila kalau ingat itu."


Beberapa kali kalimat istigfar keluar dari mulut Alvin. Menenangkan diri dari hal di luar skenario ternyata sulit. Iaperlu memberi waktu agar perasaannya bisa normal kembali.


***


Seminggu berlalu, Alvin memiliki tugas penting keluar kota. Ada klien yang menginginkan pertemuan untuk merancang baju di hari pernikahan. Mengingat klien ini bukan orang sembarangan, jelas Alvin harus menemuinya di luar kota.


"Kamu tinggal di rumah Ibu dulu selama saya keluar kota," kata Alvin saat sarapan.


Dani masih di kamar.


Rina tengah mengoleskan selai coklat di roti miliknya. "Aku bisa sama Caca, Mas."


"Kenapa?" Alvin mengangkat cangkir teh, melirik sekilas. "Kamu nggak suka tinggal di rumah orang tua saya?" 

__ADS_1


Otomatis Rina menggelengkan kepala. Bukan seperti itu maksudnya. "Bukan, Mas. Tapi, rumah Ibu sama kampus itu lumayan jauh."


Alvin menimbang kembali keputusan tersebut. Memikirkan tempat terbaik untuk menyimpan istrinya asal bukan di rumah.


"Kalau di Caca, itu dekat banget. Aku bisa hemat ongkos juga." Rina tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih. Manis juga. "Sekalian aku juga udah kangen dekat sama dia. Bawelnya dia itu, ngangenin."


Alvin merasa disingkirkan. "Kamu kangen sama teman, suamimu sendiri?"


Ujung mata kanan Rina melirik sekaligus mengerutkan keningnya juga. "Memangnya sama, Mas?" 


Alvin menaruh cangkir lagi dengan sedikit kasar. "Seharusnya suami yang kamu kangenin, bukan teman."


Rina melongo. "Nggak usah dikangenin, orang tiap hari ketemu. Tidur bareng, makan bareng, berangkat bareng. Kurang apa lagi?" 


"Yang belum itu mandi bareng!" Alvin sontak menjawab cepat.


"Hah!" Rina membulatkan kedua mata. Tertegun.


"Kita belum mandi bareng." Alvin sengaja.


Tiba-tiba Dani tersedak. 


Alvin meliriknya. "Kamu nggak pa-pa?" tanyanya.


Dani mengisyatkan dengan tangan kanan karena tenggorokan sakit.


Rina diam.


"Bukannya hal wajar bagi seorang pasangan sah untuk mandi bareng? Kita ini sudah sama-sama dewasa, tidak masalah juga." Alvin bersikap liar dari biasanya.

__ADS_1


Dani menelan ludah.


"Jangan bahas yang aneh-aneh, Mas." Rina berdiri, malu juga. Mendekati kitchen set mencari selai coklat yang ternyata sudah habis di meja.


"Jadi, kamu bakal tetap tinggal di rumah Caca selama saya keluar kota?" Alvin memastikan. Tak peduli kehadiran Dani.


"Iya, Mas. Aku sebaiknya di sana aja," jawab Rina.


"Kamu mau keluar kota berapa hari?" Dani ikut bertanya. 


Alvin menyinggungkan senyum kecil. "Dua hari. Kalau bisa dipersingkat, mungkin sehari aja."


"Kenapa?" Dani menoleh. Pandangan mereka bertemu. "Kamu ada pekerjaan?" 


"Iya. Ada klien penting." Tak ada kebohongan yang dilakukan Alvin. "Khawatir sama Rina, dia sendirian di sini."


Rina tak lagi ikut andil.


"Ada aku. Tenang aja," kata Dani.


Alvin bergeming, sedangkan Rina berdebar menunggu jawaban suaminya. Akankah Alvin membiarkan begitu saja.


Sarapan Alvin habis. Lelaki itu berdiri, menepuk bahu kanan Dani dan berkata, "Aku rasa setiap orang pasti memilih tempat yang pas untuk menitipkan barang berharga, sama sepertinya aku." Lelaki itu tersenyum tipis dan segera melangkah pergi.


Dani tidak tahan. "Kamu takut?" 


Pertanyaan Dani berhasil menghentikan langkah kaki Alvin. 


"Bukannya kamu orang yang tidak pernah kenal takut. Kenapa sekarang terkesan jadi lemah," imbuh Dani seakan meledek. 

__ADS_1


Rina tersentak. Dani berani membangunkan singa tidur. Bisa dipastikan mahkluk itu mengamuk karena kesal. Semoga saja tidak terjadi peperangan sepagi ini. Berdoa baik-baik.


__ADS_2