
Alvin memijat pelipis, sakit. Padatnya pekerjaan membuat lelaki itu sedikit lelah. Mungkin liburan bisa menjadi solusi terbaik. Namun, untuk saat ini belum biasa. Jadwal dua Minggu ke depan padat merayap.
Lelaki itu menyenderkan punggung ke sandaran kursi. Ruangan yang menjadi saksi perjuangannya dalam membangun bisnis itu pun belum berubah sedikit pun. Ia mempertahakan desain ataupun interior di sini sejak pertama membangun.
"Pusing sekali," kata Alvin. Kepalanya terasa mutar tujuh keliling. Berbaring di sopa bisa jadi sedikit mengurangi sakit.
Lelaki itu bergerak ke arah sopa. Berbaring di sana. Suasana tenang mendukung waktu istirahat.
Sekitar lima menit semuanya menyenangkan, tetapi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Rina datang tanpa undangan ataupun oleh-oleh, ibaratnya.
"Assalamualaikum, Mas Alvin." Perempuan itu masuk dengan teratur. Tak menemukan Alvin. "Mas Alvin!" Suaranya perlahan meninggi. Takut Alvin tengah bersembunyi.
Rina berdiri di tempat. Jelas tidak bisa melihat Alvin karena suaminya memilih berbaring. "Mas Alvin lagi petak umpet kayaknya."
Mendengar itu suara tawa Alvin keluar, sehingga Rina bisa menemukannya. Terdengar langkah kaki Rina mendekat, menemukan Alvin dengan keadaan berbeda.
"Mas Alvin kenapa?" tanyanya.
Alvin bangun. Kepalanya masih sakit. Sudah dipastikan akan semakin sakit dengan adanya Rina. Sebab, perempuan itu memiliki seribu bahasa yang bisa digunakan untuk berbicara. "Saya lagi tidur," jawabnya.
Rina duduk di samping Alvin. Ada yang aneh. "Mas, sakit, ya?"
__ADS_1
Ternyata perempuan itu peka juga.
"Nggak. Saya cuma lelah." Alvin menampik. Baginya tak ada tempat paling nyaman selain pangkuan sang Bunda. "Kamu mau apa?"
Rina terdiam. Tangan kanannya mengulur ke depan. Ditempelkan pada kening Alvin. "Panas," kagetnya.
Alvin menhempaskan tangan sang Istri. "Saya sehat."
"Astagfirullah, Mas itu sakit." Rina mulai panik. Ia berdiri, hendak berjalan. Namun, tangan Alvin menariknya sampai duduk kembali.
"Mau ke mana?" tanya Alvin.
"Tatap mata saya!" pinta Alvin dengan tegas.
Dengan perlahan Rina mengarahkan badannya ke samping kanan. Mengangkat kepala, menatap Alvin. Dadanya bergemuruh. Sentuhan tangan tidak sengaja itu menciptakan suasana canggung dalam diri perempuan berhijab tersebut.
Tanpa diduga Alvin merebahkan diri dengan kepalanya berada di pangkuan Rina. Ia tak butuh obat, hanya perlu tenang di tempat yang benar.
Dua pupil mata Rina membulat sempurna. Skenario ini di luar dugaan. Seluruh persendiannya melemas, bahkan kedua tangan itu seolah kehilangan fungsi bergerak.
"Izinkan aku sebentar saja tidur. Aku cuma lelah." Perlahan, tetapi pasti mata Alvin terpejam.
__ADS_1
Saat ini tubuh Rina membeku. Susah menanggapi. Namun, hatinya berkata tidak masalah.
Melihat keadaan Alvin seperti ini menjadikan ia tertarik ke alam masa lalu. Di mana setiap rangkaian kejadian manis yang ia lewati saat berumah tangga dengan Alvin adalah impiannya. Hanya saja tidak tercapai di masa itu.
Setengah jam Alvin tertidur pulas. Rasa sakit di kepala mulai hilang bersamaan dengan berangsurnya badan lelaki itu mulai fit.
Ketika membuka mata, ia mendapati Rina tertidur juga dengan kepala bersandar ke sopa. Kasihan.
Tak ingin menganggu, Alvin bergerak perlahan. Berdiri dan mengambil jas hitam yang tergantung di tempat. Lelaki itu menyindongkan badan untuk menyelimuti Rina. Terdiam sejenak, mengamati wajah ayu istrinya.
Tiba-tiba dua bulatan mata Rina terbuka. Perempuan itu menatapnya tajam dan menendang kaki kanan Alvin, sehingga lelaki itu tersungkur ke bawah sopa.
"Aaaaaa, Mas lagi ngapain?" Rina seketika bangun dan berdiri. Memperhatikan seluruh tubuhnya, aman. Melirik Alvin yang kini kesakitan sambil memegang kaki kanan yang ditendangnya. "Mas, sakit, ya?" Dengan wajah tanpa dosa perempuan itu bertanya.
Rasa sakit itu berpindah ke kaki. Menyebalkan! Setiap kali berhadapan dengan Rina selalu saja ada kejadian yang tak bisa diprediksi. Andaikan boleh, ia ingin menukar istrinya itu dengan benda antik saja. Saking cerobohnya.
"Nggak. Kaki saya terbuat dari besi! Jadi mau ditendang lima ratus kali pun, aman!" ketus Alvin sembari berdiri. Tertatih ke arah kursi.
Rina menggigit bibir, bersalah.
"Kalau bisa, saya karungin kamu seperti anak kucing. Dibuang ke laut sekalian. Astagfirullah, Bunda, Alvin dapat istri kebangetan!" Alvin memijat pelipisnya, sakit lagi.
__ADS_1