Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Mengusir secara tidak langsung


__ADS_3

"Saya libur ngajar hari ini." Seluruh tubuh Alvin remuk tak bersisa.


Rina yang tengah duduk di meja rias pun menoleh. "Jadi Mas bakal absen pagi ini?" 


Ada jadwal mata pelajaran yang seharusnya dihadiri Alvin dan tentunya Rina ikut juga.


"Sepertinya, ya," jawab Alvin.


Selain karena lelah menyetir. Alvin juga merasa seluruh tenaga terkuras habis. Yang tersisa sekarang adalah rasa lelah.


Rina mengambil hijab merah. Warna yang selalu dipakai. "Ya udah, aku juga nggak usah cepat-cepat ke kampus. Mau ke rumah Caca dulu."


Alvin berbaring di ranjang. "Buat apa?" 


"Mau ada perlu."


"Soal apa?"


"Tugas. Mas, nggak ingat?" Rina sedikit kesal. Bagaimana tidak, di antara dosen di kampus. Alvin adalah salah satu dosen yang sering memberikan tugas. "Mas, itu nggak bosan apa kasih kami tugas terus? Aku sampai pusing kepala."


"Nggak." Alvin menjawab lantang.


Sudah Rina duga. Perempuan tersebut menghela napas kasar. "Pastinya nggak. Mas, kan, dosen. Bebas."


"Nggak juga!" 


Rina menoleh lagi setelah memastikan pasmina itu menempel lekat di kepala. Keningnya berkerut kencang. "Kalau nggak bebas. Mana mungkin tiap seminggu sekali dikasih tugas."


Netra Rina tajam. Alvin bisa merasakan getaran hebat dari sana. Aura debat dari jiwa muda itu terasa. Benar-benar penuh dengan rasa penasaran. "Dosen itu punya pertimbangan yang baik. Kami juga dituntut untuk bisa melahirkan anak-anak didik yang penuh wawasan. Wajar saja kalau kami berusaha mengasah kemampuan anak didiknya dengan cara yang berbeda. Tergantung dosen."


"Terus kenapa Mas kasih tugas terus? Kan, lebih bagus materi." Rina mengajak berdebat.


"Karena biasanya mereka akan sungguh-sungguh kalau tugas. Alasannya satu, takut tidak dapat nilai."


Rina bergeming.

__ADS_1


Alvin bangun. Menyingkirkan selimut tebal yang sejak tadi membungkus tubuh. Bergerak ke arah Rina dan memeluk erat istrinya dari belakang. Berhasil meledakkan kembali bom waktu di jantung Rina. "Maaf, soal semalam."


Rina menelan ludah.


Sengaja kepala Alvin diselipkan di bahu kanan istrinya. Menghirup aroma shampo yang menyelinap keluar, walaupun terhalang serat kain hijab. "Saya bukannya ajak kamu salat malam, malah yang lain. Maaf."


Rina melongo. Pikirannya sudah gila sampai menebak ke jalur yang salah. "Nggak pa-pa, Mas." Kepala Rina menunduk, malu juga.


"Angkat kepalamu. Tatap mata saya!" Lagi-lagi Rina menghindari pertemuan mata mereka. "Saya berdoa semoga Allah membukakan hati kamu."


Sontak Rina mengangkat kepala. Mengerutkan kening kencang. "Kenapa begitu?"


"Agar kamu bisa terima saya. Menyingkirkan nama orang lain." 


Kalimat Alvin membungkam mulut Rina. 


Kedua netra Rina yang membesar itu ditangkap basah mata Alvin. "Saya bilang jangan sampai jatuh cinta, tapi sayangnya mungkin itu terlambat. Kamu sudah jatuh cinta duluan, kan?"


"Mas, sok tau!" Rina membebaskan diri dari pelukan Alvin. Nihil. Lelaki itu kian merekatkan kedua tangannya.


Perdebatan berlangsung sekitar lima menit. Alvin punya banyak cara untuk membuat lawan bicaranya mati kutu.


Rina berdiri setelah sang Suami membebaskannya. Pamit ke dapur untuk membuat sarapan, sedangkan Alvin sendiri pun ikut keluar. Mungkin olahraga ringan bisa membuat tubuhnya sedikit fit.


Alvin turun ke lantai bawah. Bertemu Dani yang tampaknya baru bangun tidur. 


"Pagi," sapa Dani.


Alvin diam sejenak, lalu berkata, "Jam segini kamu baru bangun?" Nadanya ketus. 


Dani berhenti. Mereka berdiri di dekat tangga. "Ya. Semalam pulang kemalaman."


Alvin diam. Bukan ranahnya untuk menegur Dani. Sebab, lelaki itu sudah dewasa. Tentu tahu mana yang baik dan tidak baik. 


"Sebaiknya kamu lebih perhatikan jam tidur," komentar Alvin seraya berbelok ke koridor kanan.

__ADS_1


Dani melirik rambut basah Alvin. Dadanya bergemuruh. "Kamu pulang semalam? Bukannya mau menginap?"


Alvin berhenti.


"Ternyata benar, rasa takutmu lebih besar sekarang." Dani menyunggingkan senyum.


Alvin mengatur napas. Tak boleh terpancing amarah sedikit pun. "Oh, ya, apa kamu mau di sini terus?" 


Dani tersentak.


"Aku rasa kamu sudah paham kalau aku sekarang bukan tinggal sendiri saja, tapi ada istri. Seharusnya kamu lebih peka," sindir Alvin yang membuat Dani mati kutu.


"Sebenarnya aku menerimamu karena Tante saja. Kalau bukan, sudah aku tolak!" tegas Alvin yang kini bersuara.


Skakmat. Dani tak berkutik.


"Kita sama-sama dewasa. Sudah bisa menempatkan diri," sambung Alvin yang langsung pergi.


Secara tidak langsung Alvin mengusir Dani.


 Hal ini membangkitkan amarah Dani. Ia bisa menyewa apartemen sekali pun. Hanya saja ada orang yang membuatnya bertahan di sini. Tentu saja Rina.


***


Rina naik bus seperti biasa ke kampus. Caca sendiri sudah ada di sana. Tentu ia tak bisa pergi menemui perempuan itu di rumahnya.


Bus berjalan baru saja lima menit ketika mendadak berhenti. Semua penumpang panik. Sopir pun sama. Setelah dicek, rupanya mengalami ban bocor. Suka tak suka semuanya turun. 


Rina sama. Ia menunggu taksi saja di pinggir jalan. Berharap segera datang agar bisa cepat sampai kampus.


"Ya Allah, lama banget." Rina mulai tidak sabar. 


Taksi tak ada, angkutan umum pun sana. Padahal hari ini tidak ada berita demo. Namun, entah ke mana perginya para kendaraan tersebut.


Dari arah timur sebuah mobil merah berhenti tepat di depan Rina. Jendela kaca bagian supir terbuka. Memperlihatkan seseorang yang menyebabkan kedua bola mata Rina membulat besar.

__ADS_1


"Ternyata kamu masih ada," ucap sosok tersebut. 


__ADS_2