Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Bu Nani marah


__ADS_3

"Kamu gila!" Suara Bu Nani begitu kencang sampai dua perawat mencoba menenangkan.


"Maaf, Bu, tolong kecilkan suaranya. Ini rumah sakit!" tegur salah seorang dari karyawan perempuan yang hendak memeriksa.


Dua jam setelah operasi, Dani rupanya sudah siuman. Ia masih belum bisa pulih sepenuhnya. Hanya saja tetap mendengarkan kalimat ibunya.


"Jangan ikut campur!" Bu Nani tak terima.


Dani hanya tersenyum kecil. Sifat sang Ibu ini memang sama dengannya.


Dua perawat perempuan tadi akhirnya memilih mengalah. Memeriksa kemajuan dari kondisi Dani yang berangsur membaik. Tetap akan dipantau sebaik mungkin. Mereka pun pamit.


"Ibunya galak banget."


"Aku sampai banyak istighfar tadi."


Pada akhirnya kelakukan Bu Nani menjadi pembincangan hangat dua perawat tersebut. Selain kesal karena suara keras Bu Nani, mereka pun menyayangkan kondisi pasien yang belum sepenuhnya baik. Akan tetapi, harus mendengar kalimat keras.

__ADS_1


Bu Nani berdiri di samping ranjang rumah sakit dengan rasa heran memenuhi pikirannya. Bagaimana tidak? Anak lelakinya ini berani mempertaruhkan nyawa hanya untuk seorang wanita yang jelas-jelas istri orang lain.


"Mama, nggak habis pikir sama kamu, Nak. Kamu bisa aja mati di sana! Nyawa kamu itu berharga daripada perempuan gila itu!" Bu Nani masih saja tak terima.


Dani memejamkan mata sejenak. Merasakan kemarahan seorang wanita yang sudah ikhlas melahirkan serta merawatnya selama ini.


"Pokoknya dia harus tanggung jawab! Enak saja bikin anak Mama seperti ini. Dia pikir orang penting? Lihat mukanya saja sudah muak." Bu Nani kesal bukan main. Bahkan otaknya sudah merencanakan untuk menemui sang Perempuan yang dimaksud. "Lagian kamu sama dia itu nggak ada hubungan apa-apa. Buat apa kamu lakukan ini?"


Dani mulai tenang. Tepatnya sudah bisa mengendalikan diri agar menghadapi kecerewetan ibunya. Sebenarnya sang Ibu bukan cerewet karena semua Ibu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.


"Di mana dia sekarang? Biar Mama yang samperin!' tanya Bu Nani.


"Ma, tenang dulu. Ini semua bukan salah Rina!" tegas Dani akhirnya buka suara.


Bu Nani tak terima. Dani melawan hanya untuk menutupi kesalahan perempuan gila itu. "Kamu masih mau bela dia, Nak? Dia udah bikin kamu seperti ini!"


Dada Bu Nani naik turun menahan amarah semata. Mengucapkan nama Rina saja sudah tak sudi, apalagi harus merelakan atas kejadian mengerikan ini.

__ADS_1


"Mama, nggak mau tau! Dia dan Alvin harus tanggung jawab. Mama yakin Alvin pasti menceraikannya. Istri macam apa yang menarik orang lain ke lubang celaka? Dasar kurang berguna!" Mulut Bu Nani tiada henti mencibir Rina. Tidak terima dengan apa yang dialami Dani.


"Mama!" Dani mengeraskan suaranya. Sudah sabar, tetapi Bu Nani terus saja menyalahkan satu pihak tanpa mendengarkan sisi lainnya.


"Kenapa? Kamu nggak terima?" Bu Nani kian kesal. Setelah perjumpaan anaknya dengan Rina, banyak perubahan yang dirasakan. Termasuk reaksi Dani saat ini yang seolah-olah lebih memenangkan Rina.


Dani menghela napas kasar. "Rina itu nggak salah, Ma. Ini memang kemauan aku."


Kedua bola mata Bu Nani membulat sempurna. Hampir gila mendengarnya. "Kalau bukan karena dia mendesakmu. Mama yakin kamu nggak akan seperti ini!"


Dani semakin dibuat heran. Bahkan saat ini sudah kehabisan kata-kata.


"Kamu sama dia itu udah nggak ada hubungan apa pun, Nak. Kamu nggak seharusnya ngorbanin diri buat seperti ini!"


Dani terus mendengarkan ocehan sang Ibu sampai dadanya merasa sesak. Bahkan untuk mengutarakan perasaannya saja, sulit.


"Stop, Ma!" Dani lebih tegas. Helaan napas kasar terdengar jelas. Berhasil menghentikan ibunya. "Aku masih sayang sama Rina. Bercerai pun karena keinginan Mama, bukan keinginanku!"

__ADS_1


Bu Nani terkejut. Dani yang selama ini selalu menurut, mendadak beruba menjadi pembangkang.


"Aku turutin semua keinginan Mama dengan alasan Mama punya jasa atas aku. Padahal Mama bukan orang tua kandung yang seharusnya aku turuti!" Dani tak peduli soal apa pun lagi. "Kali ini saja, biarkan aku berjalan sesuai hati nurani."


__ADS_2