Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Meminjam uang


__ADS_3

"Iya. Maaf, Mbak, siapa, ya?" tanya Rina.


Orang itu duduk di samping Rina. Terlihat sedikit risih, mengingat Rina berada di atas hamparan rumput hijau. "Kamu nggak perlu tau saya siapa, tapi ada hal penting yang harus kamu ketahui."


Wanita cantik dengan rambut panjang terurai. Gaun merah sebetis yang dipakainya semakin membuat kesan manis. Terlebih kulit yang berwarna putih itu senada sekali dengan gaun merah. Cantik.


"Maksudnya, Mbak?" Rina dibuat bimbang.


Sementara itu Alvin yang sedari tadi memperhatikan sang Istri pun ikut penasaran.


"Jadi, kalau seperti ini bagus bukan, Pak?" tanya Mahasiswi di samping Alvin.


Alvin menoleh ke samping. Mengamati sekilas dan berkata, "Buat lebih baik lagi." Ia segera pergi setelah mengatakan itu. Ingin menghampiri Rina, tetapi gengsi lebih besar daripada keinginannya.


Alvin berjalan terus ke arah ruangan khusus dosen. Masuk dan duduk di bangku miliknya. Tak lupa ia menyimpan dua dokumen yang baru saja dipakai untuk mengisi kelas.


Rasa penasaran membuncah dalam diri Alvin. Terlebih ekspresi kedua orang tadi seperti serius. Mungkinkah ada pembicaraan yang memang sangat serius?


"Pak Alvin kenapa?" Tiba-tiba Ronal datang. Berdiri di depan meja Alvin dengan tatapan lekat. "Sepertinya sedang punya masalah."


Alvin mengangkat kepala. Malas. Terkadang Ronald seperti perempuan yang ingin tahu tentang orang lain. Kebanyakan mencari apa yang tengah bergulir pada sekitar. Padahal bukan urusannya.

__ADS_1


"Nggak, Pak. Saya cuma lagu kurang enak badan!" tegas Alvin.


Ronal jelas tidak percaya. Ia menarik kursi di belakangnya. Duduk berhadapan dengan Alvin, hingga membuat Alvin mengerutkan kening.


"Dibanding saya, sepertinya Pak Ronal yang sedang punya masalah," sindir Alvin. Wajah Ronal berbeda hari ini. Bisa gampang tertebak.


Ronal menghela napas. Alvin benar. "Pak Alvin benar. Saya memang lagi pusing." Tangan kanan lelaki itu memijat pelipis kanan juga. "Saya lagi kekurangan uang."


Alvin diam. Mengamati.


"Anak saya ini kuat susunya. Apalagi bulan ini saya juga harus bayar uang sewa rumah tahunan. Kepala saya rasanya mau pecah," cerita Pak Ronal.


Hal yang paling Alvin takutkan sebelum menikah adalah ekonomi. Bukan artinya ia tak percaya pada rezeki Tuhan, tetapi sebisa mungkin ia perlu mandiri secara finansial sebelum meminang anak gadis orang. 


Alvin bergeming. Sebagai seorang dosen juga pemilik butik, ia mungkin bukan orang yang kekurangan uang. Namun, ia bukan juga orang kaya yang mudah mendapatkannya tanpa kerja keras.


"Sebenarnya uangnya ada, tapi dua hari lagi harus bayar uang sewa. Kasian anak saya kalau nggak minum susu, Pak," sambung Ronal.


Membayangkannya saja membuat Alvin ikut sedih dan terluka. Anak itu memang perlu dipenuhi kebutuhannya termasuk gizi. "Berapa, Pak? Nanti saya transfer." Batin Alvin tergerak. Semua dilakukan hanya demi seorang anak juga sesama teman.


"Satu juta aja, Pak." Wajah Ronal berubah bahagia. Pertolongan itu datang setelah semalaman mencari ke beberapa tempat. "Saya ganti setelah dapat."

__ADS_1


Alvin mengeluarkan ponsel. Meminta nomor rekening temannya, lalu mulai membuat transaksi keuangan melalui online. "Sudah, ya, Pak."


Ponsel Pak Ronal berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk. Ia tersenyum, lalu berdiri. "Terima kasih, Pak."


Ujung bibir kanan Alvin terangkat membentuk senyuman. "Sama-sama, Pak."


Ronal pamit. Ia langsung keluar ruangan untuk ke arah anjungan tunai mandiri yang berada di lingkungan kampus juga.


Alvin mengamati punggung Ronal. Merasakan senyum bahagia seorang Ayah yang berjuang demi anaknya.


"Mungkin kalau aku punya anak juga bakal sebahagia itu," imbuh Alvin.


Pikirannya melayang ke angkasa. Membayangkan hal yang belum terlewati, lalu dengan cepat tangan kanan Alvin menampar pipi kanannya juga. "AW, sakit!"


Dua dosen perempuan menoleh. "Ada apa, Pak?" Salah satunya bertanya. Pandangan penuh heran diberikan untuk Alvin.


Alvin tertegun, lalu berkata, "Ada nyamuk, Bu Nadia. Maaf, saya mengganggu."


Dua dosen senior itu tertawa kecil melihat dosen paling muda di kampus tersebut. Alvin malu. Tingkahnya terkadang memang random jika sudah berhubungan dengan Rina. 


***

__ADS_1



Yang mau ikutin ceritaku yang ini. Silakan meluncur.🥰🥰


__ADS_2