Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Bertemu Saudra


__ADS_3

Sebulan pernikahan, hubungan Alvin dan Rina masih baik-baik saja. Pergi ke kantor seperti biasa tanpa adanya sentuhan lebih dari cium tangan. Alvin mulai bisa menerima keadaan Rina, begitu pun sebaliknya. Sekali pun terkadang mereka masih sering terlibat perdebatan.


Pagi ini Rina lebih dahulu berangkat karena harus menemui Caca. Alvin membiarkan, itu hak istrinya untuk bertemu dengan siapa pun. Ia hanya perlu mengawasi dari kejauhan.


"Mas Alvin, aku berangkat. Assalamualaikum." Rina mencium punggung tangan kanan Alvin seperti biasanya. Perempuan itu mengambil ransel dan pergi ke arah pintu luar.


Alvin yang masih sarapan sambil memeriksa laptopnya tersebut tak melihat lagi Rina. Membiarkan sang Istri pergi begitu saja tanpa pelukan atau ritual Suami Istri pada umumnya.


Di tengah kegiatan sarapan, ponsel Alvin berbunyi. Sebuah pesan masuk dari seseorang yang masih kerabat bisa dikatakan Adik sepupu. Lelaki itu membaca isi pesan dan membalasnya cepat.


Rupanya adik sepupunya ini meminta bertemu. Mungkin ada hal yang perlu dibicarakan. Alvin setuju. Sebagaimana yang sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya, ia tak seharusnya memutus silaturahmi dengan siapa pun. Maka dari itu, Alvin sebaik mungkin menjaga erat hubungan kekeluargaan di antara mereka.


Sarapan selesai. Alvin membawa piring kotor ke dapur. Mencucinya di wastafel dan menyimpan di tempat yang seharusnya. Lelaki itu bisa mandiri tanpa bantuan pembantu. Oleh sebab itu, ia pun mendidik Rina untuk terbiasa dengan kegiatan rumah lainnya.


"Aku mandi dulu aja," ujar Alvin. Lelaki yang terkenal memiliki tinggi badan seratus delapan puluh centimeter itu pun bergerak naik tangga menuju kamarnya. Rumah ini luas, tetapi sepi. Ada empat kamar. Dua di lantai atas, dan dua di lantai bawah. Cukup luas untuk Alvin dan Rina tinggali.


Alvin bergegas mandi. Sarapan kali ini memang hanyalah sepiring nasi goreng sosis. Namun, terasa menyenangkan karena dimakan berdua dengan Rina.


Kegiatan mandi selesai. Kali ini Alvin bergerak memakai pakaian. Kemeja biru muda kotak-kotak dipadukan dengan celana jeans hitam. Umurnya yang sudah menginjak dua puluh delapan tahun memang bisa dikatakan cukup baik untuk menikah. Selain mapan, Alvin pun memiliki jejak keturunan yang baik dari orang tuanya. Belum lagi anugrah Tuhan berupa wajah yang tampan rupawan dengan kulit bersih tidak kalah dari perempuan.


Semua dirasa sempurna. Alvin bergegas turun untuk pergi menemui seseorang. Mereka janji bertemu sebelum Alvin mengisi kelas. Sekitar pukul sembilan pagi.


Arloji di tangan Alvin baru menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Masih cukup waktu dengan berkendara tanpa kebut-kebutan.


Alvin pergi mengendarai kendaraanya, meninggalkan perkarangan rumah dan tak lupa menyapa satpam.


Mobil berwarna hitam itu melaju sedang ke arah sebuah cafe yang sudah buka dari jam delapan ini. Tempat ini adalah satu yang sering dikunjungi Alvin ketika kuliah dahulu.


Jalanan masih ramai lancar, tetapi tidak ada kemacetan. Mungkin karena kebanyakan orang sudah masuk kerja dan sekolah. Hal ini lebih baik.


Waktu yang ditempuh Alvin sekitar delapan menit untuk sampai sana. Ia melihat sebuah mobil dengan plat yang diketahuinya. Rupanya dia sudah datang.


Alvin turun. Melangkah ke arah cafe dan masuk. Mengingat ini masih pagi, jelas tidak banyak pelanggan. Sepertinya cafe ini pun sedang bersiap-siap. Orang yang hendak ditemui Alvin sudah berada di bangku dekat dengan kaca.

__ADS_1


"Vin!" Seseorang mengangkat tangannya bertujuan agar Alvin tahu. "Di sini."


Alvin mengangguk sambil berjalan teratur ke sana. Usia mereka yang hanya berbeda beberapa bulan pun menjadikan keduanya seperti saudara kembar. Maka dari itu, mereka lebih nyaman dengan memanggil nama satu sama lain.


"Sorry, agak lama." Alvin menarik kursi. Duduk di depan orang itu. "Apa kabar?"


"Baik. Kabarmu gimana?" tanya orang tersebut.


"Seperti yang kamu tau, aku baik."


"Romannnya, kamu makin tampan aja sehabis menikah."


Alvin menyunggingkan senyuman. "Itu perasaan kamu saja. Gimana kerjaan lancar?"


Lelaki berkemaja hitam polos yang ditemui Alvin itu sedikit diam, hingga Alvin mencium hal yang tidak baik.


"Ada apa?" tanya Alvin. Sebagai seorang keluarga, Alvin mencoba mencari tahu. "Butuh bantuan?"


Lelaki itu membenarkan pertanyaan Alvin dengan sebuah anggukan cepat.


Lelaki tersebut menghela napas. "Aku butuh tempat tinggal."


"Lalu?"


"Tapi, untuk kost. Sepertinya belum ada yang pas."


"Detailnya."


"Aku mau numpang di rumahmu dulu sebentar. Nggak lama, Vin. Cuma sampai dapat rumah yang cocok aja. Kamu paham, kan, kalau cari rumah yang cocok itu nggak gampang?"


Alvin mengangguk kali ini. Ia juga melakukan hal yang sama dengan Rina hampir dua harian. Mencari rumah yang dijual, tetapi dengan kebutuhan yang mereka inginkan itu memang sedikit rumit.


"Aku nggak bisa langsung memutuskan. Ada istriku juga di sana," jawab Alvin cepat.

__ADS_1


"Jangan takut sama istri, Vin. Mereka itu seharusnya nurut sama kita sebagai suami."


Alvin tak sepemikiran. Baginya, pendapat Rina adalah hal yang perlu dipertimbangkan. Sebab, setiap rumah tangga itu dilakukan berdua. Jadi, apa pun keputusan yang ada di dalamnya harus disetujui oleh kedua belah pihak.


Alvin melipat kedua tangan di dada. Melihat lelaki yang dahulu paling angkuh di keluarganya. "Kenapa kamu nggak ikut ke Kakak tirimu saja, Dan?"


Lelaki bernama Dani tersebut menunjukkan wajah kesal. Ia tak ingin ikut campur masalah kakak tirinya. Padahal ia tahu betul sang Kakak punya banyak rumah di sini.


"Jangan tanya aku, Vin. Malas aku soal, dia," jawab Dani kesal.


Alvin mengerutkan kening. "Kenapa? Dia itu saudaramu, walaupun sekarang Om udah nggak ada. Nggak baik memutuskan silaturahmi sama saudara sendiri."


Alvin memang memiliki sifat sosial yang tinggi. Lelaki itu sering membantu saudara atau kerabat sebisanya, baik itu dari pihak Ibu atau Ayah. Seperti halnya pada Dani.


"Jangan bahas dia, Vin. Kamu izinin atau nggak?" Dani mulai marah. Ia menyempatkan diri menemui Alvin karena tahu lelaki itu pasti mempertimbangkannya.


Alvin diam. Menimbang apa yang menjadi permintaan Dani. "Datang saja ke rumah nanti malam. Aku tanya istriku dulu."


Sorot mata Dani mengisyaratkan lelaki itu kesal, tetapi karena ia yang butuh. Tentu ia perlu bersabar. "Beri tahu alamat rumahmu. Aku ke sana selesai kerja."


Alvin menyebutkan sebuah nama perumahan yang elit. Dani cukup paham, karena Alvin pasti mencari hunian yang nyaman dengan fasilitas cukup banyak.


Alvin berdiri. Waktunya hanya tinggal sepuluh menit lagi untuk bisa sampai ke kampus yang jaraknya hanya dua kilo meter dari sini. "Aku harus mengajar. Kamu bisa hubungi aku dulu sebelum ke sana. Takutnya tidak ada orang."


"Ok. Nanti sore aku datang. Istrimu suka apa? Aku harus bawa sesuatu ke sana?


"Nggak perlu. Semua ada di rumah."


Dani bergeming. Makanan apa pun mungkin tersedia di sana, sebab itu Alvin merasa tidak membutuhkan buah tangan darinya. Cukup sedikit menyinggung perasaan Dani.


"Aku pamit. Assalamualaikum." Alvin berbalik badan. Sejujurnya, ia bisa saja memberi izin untuk Dani tinggal. Namun, ia pun perlu berdiskusi dengan Rina lebih dahulu. Menolong orang juga perlu.


Dani tersenyum menyeringai. Ia mencatat alamat rumah Alvin di ponsel. "Aku datang."

__ADS_1


Lelaki itu pun segera berdiri. Membayar pesanan dan pergi dari sana. Ia yang keluar kantor di jam kerja pun berharap permintaannya bisa dipenuhi. Setidaknya, ia tak perlu sering pulang.


####


__ADS_2