
"Hari itu aku tidak tau dia kenapa, tapi yang aku yakini kalau perempuan bergamis itu terluka," sambung Alvin.
Rina mendekat. Berdiri di belakang Alvin. Rupanya ada hal yang tak diketahui selama ini.
"Jadi, selama ini kamu kenal Rina? Kamu tau siapa dia?" tanya Dani yang juga merasa tertipu.
Alvin melirik ke belakang lagi. Rina ada di belakangnya. "Seperti yang kamu bilang, aku bukan orang bodoh. Sehari setelah bertemu dia lagi di ruangan dosen. Aku jelas cari tau. Ternyata hal menakjubkan diterima. Dia mantan istri saudaraku sendiri."
Semua terkejut. Alvin memang terkenal dengan kepintarannya. Benar kata pepatah jika harus berhati-hati pada orang yang pendiam karena begitu bergerak membuat lawannya tak berkutik. Itulah yang dirasakan Dani.
"Kamu tau semuanya?" tanya Dani sekali lagi.
"Menurutmu?" Alvin bertanya balik. Mundur sekali ke belakang. Mensejajarkan tubuhnya dengan Rina. Menggandeng tangan kanan sang Istri. "Dia istriku sekarang. Mau sekelam apa pun masa lalunya, itu bukan urusanku."
Rina tersentak. Rupanya Tuhan mengirimkan lelaki yang luar biasa. Bukan hanya dalam segi tampan dan materi saja, melainkan juga dalam bentuk ketulusan. Sungguh … ini di luar dugaan.
Bu Nani membelalakan kedua bola mata. Menatap Rina dengan penuh kebencian. "Nak, kamu nggak tau bagaimana orang tuanya. Ibunya itu seorang pelacur!"
Alvin sama sekali tidak terkejut. Inilah yang berhasil menggelitik rasa penasaran Rina.
"Apa orang tuamu nggak tau soal ini? Seharusnya Tante bilang kalau tau calonmu itu dia!" Telunjuk kiri Bu Nani mengarah tepat pada Rina.
__ADS_1
"Turunkan tangan Tante!" Alvin geram. Amarahnya keluar dan berada di ubun-ubun.
"Nak, Tante berkata jujur. Dia itu wanita dari keluarga murahan!" Bu Nani masih saja menyudutkan Rina.
"Maaf, Tante, Ibu saya bukan pelacur! Dia wanita biasa," kata Rina tidak terima. Almarhum sang Ibu adalah sosok wanita pejuang dengan tingkat semangat paling tinggi. Membesarkan dirinya dengan tenaga sendiri karena dinilai rendah.
"Hei, anak haram!" seru Bu Nani. Matanya menyorotkan kebencian. "Kalau bukan tuduhan kalau Dani melecehkanmu, mana sudi aku punya menantu sepertimu!"
Amarah Rina naik. Dia yang korban, tetapi dia yang disalahkan. "Anak Tante itu tidak punya malu. Menyentuh anak gadis orang, menikahinya untuk menutupi nama baik keluarga, lalu meninggalkan begitu saja. Sedangkan saya, harus menanggung kesakitan luar biasa setiap hari. Sampai Allah ambil anak dalam kandungan saya diusia yang masih kecil!"
"Karena itu kamu menggodaku!" Dani protes. Tak terima.
"Aku melawan sekuat tenaga, tapi kekuatanku lebih lemah darimu. Aku kehilangan kehormatan dalam sekejap mata dan kamu masih menyudutkanku. Apa kamu gila?" Nada bicara Rina tinggi dan menggebu-gebu. Tak peduli tanggapan Alvin perihal sikapnya saat ini.
"Aku ini perempuan yang berusaha menjaga diri dengan selalu menyendiri. Bukan karena itu saja, aku juga terpaksa menghindari orang lain karena mereka terus menghinaku sebagai anak haram. Lalu, kamu?" Dada Rina naik turun. Rasanya menyakitkan mengingat masa itu.
"Kamu memang cinta pertamaku, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau kamu orang yang merusak masa depanku! Orang yang aku kagumi lebih kejam daripada binatang buas!" tekan Rina tanpa ragu.
Alvin tersenyum senang. Membiarkan istrinya meluapkan rasa kesal yang pastinya semakin memuncak dalam diri sejak lama.
"Berani kamu membentak anak saya!" Tangan kanan Bu Nani melayang hendak mendarat pada pipi kanan Rina. Perempuan itu memejamkan mata, tetapi Alvin lebih sigap.
__ADS_1
"Jangan berani menyentuh istriku!" Alvin menangkap tangan tantenya. Tak peduli siapa pun itu, ia perlu membela orang yang benar dan tersakiti. "Sebaiknya Tante segera pergi dari sini. Bawa sekalian anak Tante yang seharusnya peka dari dulu."
Bu Nani melepaskan tangan dari genggaman Alvin. Menakutkan memang berhadapan dengan Alvin. Sebab, anak kakaknya ini punya banyak cara dalam melawan orang lain.
Rina lelah. Alvin menarik tubuh perempuan itu bersembunyi di belakang punggungnya.
"Kamu seharusnya malu karena membuat wanita menangis! Dewasalah sedikit dan jangan bersembunyi di belakang punggung ibumu!" tekan Alvin tertuju untuk Dani.
Dani mengaku kalah kali ini. Dia pergi ke lantai atas untuk mengemas barang dan juga mengambil kunci mobil. Namun, dibalik itu ada amarah yang terpendam dan menumbuhkan dendam.
"Jangan harap aku diam saja!" pesan Dani sebelum angkat kaki dari rumah Alvin.
Bu Nani pun sama. Keluar bersama anak semata wayangnya tersebut.
Dani dan Bu Nani pergi dari pekarangan rumah Alvin memakai mobil masing-masing. Dani menyetir sambil meracau tidak karuan.
"Sialan!" Lelaki itu memukul stir dua kali. Melihat Rina memiliki pelindung yang lebih tinggi dan kuat membuat kesal dalam diri mencuat. Perempuan yang dahulu mencintainya, kini berubah drastis. "Semua karena Alvin. Lihat saja nanti! Kalian pikir aku bakal terima begitu saja penghinaan ini! Jangan harap."
Dani tertawa kencang. Menakutkan. Tujuannya kali ini adalah apartemen Keysa. Hanya wanita itu yang ada di pikirannya ketika sedang kacau.
"Dia pasti senang kalau aku datang," kata Dani mengarahkan laju mobilnya pada jalur kanan. Hendak menemui Kekasih hati yang pasti menerimanya dengan baik. Tak ada tempat tujuan yang lebih baik dari ini.
__ADS_1