Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Masjid An-nur


__ADS_3

"Ada apa ini?" Alvin menghampiri mereka. Berjalan dengan tegak dan penuh wibawa. "Kenapa Tante merendahkan istri saya?"


Dani dan Bu Nani terkejut. 


"Sayang, Tante bisa jelaskan ini," kata Bu Nani berusaha menenangkan Alvin. 


Alvin sama sekali tidak goyah. Ia perlu tahu apa yang terjadi. "Bisa jelaskan ke saya, Tante?" Senyuman tipis itu bermakna lain.


Bu Nani bergetar. Mengenal betul bagaimana sifat Alvin yang tersembunyi dalam diamnya.


"Dia mantan istriku!" sela Dani tegas.


Kedua bola mata Alvin terfokus pada Dani. Pandangan mereka bertemu. Suasana terasa panas, bahkan rasanya bisa membakar seluruh tubuh manusia dalam sekejap.


Posisi keduanya saling berhadapan dengan jarak yang hanya setengah meter saja. Bu Nani panik. Melerai keduanya. "Kita bicarakan baik-baik," katanya.


Terlanjur. Alvin merasa terhina akan pembicaraan anak dan ibu tersebut. Sesuram apa pun masa lalu Rina, perempuan itu adalah istrinya yang berhak memiliki masa depan lebih baik.


"Sebelum kamu, aku sudah tau duluan," kata Dani seolah menjadi pemenang.


Alvin terpancing. "Tidak peduli siapa yang duluan. Yang patut digarisbawahi justru siapa yang bersamanya sekarang!"


Dani mulai kesal. Amarahnya terpancing juga. Bu Nani pun bimbang.


Dani menyunggingkan senyuman. "Kamu sedang berakting di depannya, kan?"

__ADS_1


Dani bergeming.


Telunjuk kanan Dani mengarah pada wajah Alvin seraya berkata, "Kamu tau dari awal, tapi diam!"


Saat itu Rina datang. Diam tak jauh di belakang suaminya.


Netra kanan Dani mendapati sosok Rina. Pas sekali.


"Kamu bukan orang bodoh yang tidak berpikir jernih. Menebak teka-teki segampang ini pastinya mudah," sambung Dani. Sengaja.


Bu Nani terkejut, sedangkan Rina sendiri menunggu jawaban suaminya.


"Kenapa? Kamu takut?" tanya Alvin yang menandakan perkataan Dani memang benar. Alvin pun tak menyangkal tentang itu.


"Jadi … selama ini kamu sudah tau soal Rina dan Dani?" tanya Bu Nani pads Alvin. Ingin tahu dari mulut keponakannya.


Kalimat ini mengejutkan Rina. Apa maksudnya?


"Sebentar, maksud kamu dari dulu itu seperti apa?" Bu Nani terus menggali informasi.


Dani bersikap seolah tenang, walaupun hatinya kurang baik. Tak sabar menunggu kalimat terbaru yang akan Alvin sampaikan pada mereka.


Rina sendiri susah bergerak. Kedua persendian kakinya melemas, hingga rasanya ingin pingsan seketika. Kenyataan apalagi ini? Mungkinkah ada kejutan manis.


"Dia, Rina, mantan istri Dani bukan orang asing bagi saya!" tegas Alvin tanpa ragu.

__ADS_1


Dani membulatkan mata. "Apa maksudmu? Jangan bertele-tele. Ini bukan waktunya menjalani drama."


Kali ini Alvin yang menyunggingkan senyuman manis. "Santai, Brother." Sikap Alvin sekarang lebih tenang melebihi air sungai yang tengah diam. "Kamu bangga jadi yang pertama, tapi tanpa sadar kamu lukanya yang paling besar."


Dani tidak sabar. Bergerak ke depan mencengkram kerah baju Alvin dan berkata, "Katakan yang jujur, sejak kapan kamu kenal Rina?" Sorot mata Dani menakutkan. Alvin ini sulit ditebak.


Alvin menghempaskan kedua tangan lancang Dani ke bawah. Membenarkan kerah baju. 


"Cepat katakan!" seru Dani.


"Iya, Nak. Ayo, katakan. Jangan sampai kamu terjerumus ke lembah suram seperti Dani dulu. Rina itu bukan wanita baik. Tante tau sendiri." Bu Nani ikut mendesak. Memprovokasi Alvin sebisa mungkin.


"Jangan asal bicara, Tante!" Alvin tidak terima. Sabarnya berada di ujung batas. "Saya mengenal betul siapa wanita yang saya nikahi!"


Bu Nani tertegun. Tak berkutik jika berurusan dengan keponakannya ini.


hati Rina berdebar tak karuan bukan karena jatuh cinta, melainkan rasa penasaran yang kian lama menggerogoti jiwa dan pikirannya. Ini gila, sangat gila!


"Ceritakan semuanya!" Dani mendesak kembali. Tak peduli harus menumpahkan darah sekali pun, ia perlu tahu kenyataan. "Jangan berani membohongiku!"


Alvin tenang. Lirikan mata kanan ke belakang itu seakan menunggu reaksi seseorang. Hanya saja tak ada apa pun. Oleh sebab itu, Alvin memutuskan membuka suara lebih jauh lagi.


"Hari Minggu, setelah salat Dzuhur di masjid An-nur dekat rumah kelahiranmu. Wanita bergamis coklat muda menangis penuh kemalangan. Mengangkat kedua tangan, mengadu pada Allah. Air matanya mengalir deras dan hari itu aku jadi satu-satunya saksi hidup di sana," ungkap Alvin yang berhasil meledakkan jantung Rina.


"Jadi Mas Alvin …." Rina bersuara, walaupun susah meneruskan lagi. 

__ADS_1


Akhirnya yang ditunggu keluar. Alvin tersenyum tipis. "Aku masih ingat doa perempuan itu, dia meminta seseorang bernama Dani dihukum adil karena sudah menghancurkan masa depannya. Aku masih ingat wajah penuh air mata itu yang khusyu bertemu sang Khalik. Semuanya terekam jelas dan terbawa di ingatan sampai semesta mempertemukan kami kembali."


__ADS_2