Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Alvin cerewet


__ADS_3

"Ayo, cepat. Saya mau ke butik dulu!" Alvin sedikit berteriak karena Rina berada di dapur, sedangkan ia ada di ruangan tamu.


"Iya, Mas bentar." Rina keluar dengan terburu-buru. Sengaja berangkat pukul sembilan pagi karena Rina hanya ada kelas di waktu siang saja. Alvin sendiri tidak ada kelas hari ini.


Rina memakai setelan tunik berwarna hitam dengan tas hitam pula. Alvin menatap lekat. Tak lupa pula jilbab berwarna nude.


"Kamu gelap banget hari ini," komentar Alvin.


Rina sudah berdiri di depannya. Memanyunkan bibir, kesal. "Apaan, sih, Mas!" Merapikan jilbab yang sempat diikat ke belakang.


"Juntaikan jilbabnya," kata Alvin mengoreksi penampilan sang Istri.


Rina menurut. Membiarkan jilbab menutupi dada. "Iya, Mas."


"Nah, seperti itu."


Rina tersenyum manis. Cukup bersyukur karena memiliki suami yang mengomentari sang Istri menuju kebaikan. Sungguh ... Siapapun akan merasa bahagia.


Rina dan Alvin pun keluar bersama. Tak lupa Rina mengunci pintu juga menyimpan di tas ransel. Menurut Alvin, lelaki itu mungkin akan pulang malam. Jadi .. Rina diharapkan pulang dahulu ke rumah Caca.

__ADS_1


"Jangan lupa kabari saya kalau sudah pulang dari kampus. Jangan lupa juga shalat dan makan siang," tutur Alvin seraya masuk mobil.


Rina cukup mengangguk saja. Berdebat sepagi ini dengan Alvin bukanlah sebuah keputusan terbaik.


"Ya, Mas," kata Rina cepat masuk mobil juga.


Keduanya siap. Kendaraan berwarna hitam pun melaju keluar pekarangan rumah. Meluncur bebas dengan kendaraan di jalan raya.


Sepanjang jalam Alvin juga berkata banyak hal. Entah sejak kapan lelaki dingin ini berubah menjadi sangat cerewet dan memiliki banyak kata dari mulutnya. Seperti halnya anak bayi yang baru bisa bicara, Alvin terus saja berceloteh.


"Kamu harus banyak belajar juga biar cepat lulus. Suamimu ini lulusan terbaik, istrinya juga harus bisa," kata Alvin.


Rina tertarik dengan ini. "Kalau misal suaminya masuk jurang. Apa istri juga harus ikut? Kalau aku sih mending lihatin aja dari atas." Rina terkekeh geli.


Rina tertawa lepas. Sejak semalam istrinya terus bersikap ketus. Mungkin balas dendam karena kejadian itu.


"Mas, aku ini bukan anak kecil. Aku tau, kok, mana yang harus dilakukan. Tenang aja," ujar Rina.


keadaan lalu lintas ramai lancar. Mungkin karena bukan jam kerja atau pulang sekolah. Senang juga bisa menikmati seperti ini.

__ADS_1


"Kalau kamu anak kecil, sudah dipastikan saya kena pasal." Alvin langsung menjawab dengan cepat. "Mana boleh menikahi anak kecil. Nggak asyik juga." sedikit tawa ikut serta di kalimat lelaki itu.


Rina memutar kedua bola mata. "Makin ke sini. Mas, makin ke sana."


"Asal jangan makin masuk jurang aja. Saya susah keluarnya."


Rina mendelik. Membayangkan jika mereka dikarunia anak. Entah akan seperti apa sifat anak itu? Sudah pasti akan ada sifat orang tuanya yang menurun. Tidak bisa dipungkiri.


Mereka sampai di halte bus seperti biasa. Rina turun dan berkata, "Mas, hati-hati di jalan. Jangan banyak ngomel nanti cepat tua. Assalamualaikum."


Alvin menggelengkan kepala sambil berdecak kesal. "Iya, ya. Waalaikum salam." Menyodorkan tangan kanan supaya Rina menciumnya.


Rina peka. Melakukan ritual perpisahan biasanya.


"Saya berangkat. Hati-hati menyebrang," pesan Alvin.


"Iya, Mas."


Alvin berat hati meninggalkan Rina. Namun, tetap dilakukan karena mereka punya aktivitas masing-masing. Kendaraan itu melaju lagi setelah semuanya selesai. Rina pun berjalan ke depan dua langkah.

__ADS_1


Ketika baru empat langkah, sebuah mobil hitam berhenti di samping Rina. Seseorang keluar dengan menggunakan jaket hitam dan masker hitam. Mengeluarkan sebuah tisu, lalu membungkam mulut Rina dari belakang.


Keadaan di sekitar halte sunyi. Tak ada perjalanan kaki. Rina terkulai lemas dan dibawa ke mobil. Entah siapa sosok itu. Yang jelas ia langsung pergi setelah mendapatkan tangkapan besar.


__ADS_2