
Di kampus, Rina dan Caca menunggu Dosen sambil berbincang-bincang. Mereka sesekali tertawa kecil ketika hal lucu diceritakan.
"Kamu kebanyakan nonton drama. Jadi, begitu," kata Rina menggelitik Caca.
"Habisnya aku suka." Caca membela diri.
"Lebih baik ikut aku kajian nanti sore. Di masjid yang dekat kampus itu."
"Ada cogannya nggak?"
"Astagfirullah, cogan aja yang dipikirin." Kamila memegang dahi Caca. "Lama-lama aku minta ustad untuk ruqyah kamu."
"Jangan!" Caca menolak keras.
Dosen pun datang. Kelas dimulai. Semua mahasiswa mengikuti dengan baik. Tak ada yang berbisik ataupun berbicara satu kata pun. Mereka fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung.
Kelas selesai. Rina dan Caca sepakat pergi ke kantin. Keduanya menginginkan makan mie ayam yang terkenal paling enak di seluruh kampus.
"Jadi, mau atau nggak?" tanya Rina memastikan.
Caca berjalan sambil berpikir. Menimbang dengan bijak ajakan temannya.
"Kita perlu banyak belajar. Selain ilmu dunia, ilmu agama juga perlu," ujar Rina.
Hal ini berlaku dan ditekankan hanya untuk dirinya. Sebagai cambuk jika saat malas belajar.
"Ya udah, boleh. Tapi, beneran ada cogan nggak?" Caca masih saja penasaran.
"Ada."
Mata Caca berbinar-binar. "Beneran? Banyak?"
"Satu aja." Rina mengukir senyum.
"Kalau satu, mana ada pilihannya. Memangnya siapa?"
Dengan enteng Rina pun menjawab. "Pak Ustad. Cogan ganteng beranak tiga."
"Astagfirullah, itu mah bahaya. Kamu mau aku jadi pelakor." Caca bergedik ngeri.
Rina mengucapkan kalimat istighfar dua kali juga seraya menggelengkan kepala. "Astagfirullah, mana mungkin, Ca. Lagian kamu pengen kajian kalau ada cogannya aja. Nggak baik tau."
Caca terkekeh geli. Keduanya berjalan ke arah kantin. Duduk berdua dan memesan mie ayam seperti tujuan awalnya.
Kantin dipadati oleh banyak orang. Ada yang duduk sendiri menikmati kesendirian, adapula yang beramai-ramai sambil bercerita banyak hal.
Rina dan Caca menjadi opsi yang kedua, walaupun hanya duduk berdua. Mata Rina menatap lurus ke depan. Ada hal yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
Caca merasakan hal itu. "Kenapa, Rin?"
Rina terkejut. Kembali menyuap mie ayam dengan garpu ke mulut. Rasanya memang luar biasa, tidak heran dinobatkan sebagai makanan terfavorit di sini.
"Aku ketemu dia lagi," ungkap Rina.
Kening Caca mengerut kencang. "Dia siapa? Suamimu? Kan, tiap hari juga ketemu."
"Bukan Mas Alvin."
Caca tersenyum sendiri mendengar Rina menyebut dosennya dengan panggilan Mas, seolah ia iri karena temannya sudah mendapatkan pujaan hati.
Rina menghela napas. Mengingat kejadian kemarin di halte bus. "Dia yang dulu aku cintai."
Pupil kedua mata Caca membesar. "Si Cowok berengsek yang nggak punya pendirian itu?" Suara Caca kencang, sehingga beberapa lelaki di ujung sana meneriakinya.
"Woy, jangan teriak dong!"
"Lo, pikir cowok berengsek semua."
"Dasar cewek nggak mau salah."
Caca menoleh ke belakang. Dengan wajah kesal, perempuan itu menjawab. "Yang nggak diajak, diam!"
Rina malu. Terkadang sifat tomboy Caca ini bisa keluar tanpa melihat kondisi. "Ca, udahan. Biarin aja."
"Iya."
"Ngapain tuh orang di sini?"
Rina diam.
Caca merasakam ada yang tersembunyi dalam diamnya Rina. "Kamu punya rahasia?"
Rina menarik napas dalam. Mengembuskannya prlahan. Hal ini tak ada yang tahu.
Caca memegang kedua tangan Rina. "Na, kamu tau, kan, gimana sakitnya kamu di masa lalu? Kalau ada masalah, cerita."
Rina memejamkan mata sejenak, lalu berkata, "Kami disatukan lagi sekarang, walaupun bukan sebagai pasangan."
Caca perlu menebak dengan cermat teka-teki tersebut. Namun, belum juga melakukannya. Ia merasakan sakit perut karena memakan mie ayam dengan lima sendok sambal.
"Aku ke toilet dulu sebentar. Tunggu, ya." Caca berdiri. Berjalan cepat ke arah kanan.
Rina menunggu sabar, tetapi sebuah pesan masuk ke ponsel. Perempuan itu melihat, membaca dengan cermat yang ternyata dari Alvin.
Lelaki itu menyuruhnya ke gedung perpustakaan. Ada yang perlu dibicarakan, katanya. Entahlah apa itu. Namun, Rina menuruti. Meninggalkan mejanya dan mungkin Caca bisa saja kebingungan karena kehilangan dirinya.
__ADS_1
Gedung kampus berada di belakang gedung. Rina berjalan dengan teratur. Beberapa teman menyapa, ia pun hanya tersenyum sebagai balasan.
Rina tiba. Masuk ke gedung, tetapi belum ada Alvin. Ia masuk lebih dalam sampai terdengar suara pintu tertutup. Rina terkejut, menggerakkan tubuhnya, berbalik.
"Astagfirullah, Mas."
Rupanya yang datang adalah Alvin. Ia berada di belakang Rina sejak di perjalanan. Alvin mendekat. Terpaksa juga melakukan hal seperti ini karena perlu berbicara.
"Ada apa, Mas?" tanya Rina. Kini Alvin berdiri di depannya.
Suasana yang remang-remang dan hanya ada pencahayaan dari satu jendela saja. Itu pun kecil.
"Aku perlu pendapatmu," ujar Alvin.
"Soal apa, Mas?" Rina penasaran.
"Ada saudara yang ingin tinggal sementara bersama kita. Aku sendiri bisa saja mengizinkan, tapi di rumah itu juga ada kamu. Jadi, izinmu juga perlu."
Rina cukup tersanjung dengan langkah yang diambil Alvin. Setidaknya lelaki itu sedikit menghargai dan mengakui kehadiran dirinya.
"Dia anak adik Ibuku. Bisa dikatakan sepupu," jelas Alvin agar tidak ada salah paham di antara mereka.
"Cewek apa cowok, Mas?" Rina perlu memastikan juga tentang hal ini.
"Cowok. Kenapa? Kamu mau tebar pesona?" Alvin menghujani pertanyaan pada Rina.
Rina menginjak kaki kanan Alvin karena kesal dengan pertanyaan suaminya itu, hingga Alvin mengaduh kesakitan.
"Sakit! Kamu main injak saja!" Alvin tak suka.
"Mas sendiri main suudzhon aja. Aku nanya karena ingin tau aja. Kalau memang cowok, aku mesti hati-hati. Dia bukan mahrom. Kalau cewek, sedikit lega."
Alvin mengelus kakinya yang tersakiti oleh kekejaman kaki Rina. "Dia laki-laki. Dewasa dan sudah bekerja."
"Nggak usah detail juga, Mas."
"Biar jelas." Alvin selesai mengelus. Berdiri tegak lagi. "Jadi, gimana?"
Rina mempertimbangkan lebih dulu. Akan tetapi, jika Alvin saja tak merasa keberatan. Lantas, apa yang perlu ia permasalahkan? Terlebih orang itu memang butuh tempat tinggal. Menolong orang itu memang harus agar Tuhan bisa menolong kita juga.
"Ya udah, aku ikut Mas aja." Rina memberikan jawaban.
"Jadi, kamu setuju?" Alvin harus menegaskan lagi.
Rina mengangguk. "In syaa Allah, Mas. Dengan menolong orang itu justru kita sedang menolong diri sendiri."
Alvin tersenyum. Ada bisikan gila di telinganya yang menggerakkan satu tangannya menarik tubuh Rina masuk ke dalam dekapan. Mengeratkan kedua tangannya ke punggung Rina seraya berkata, "Kamu mungkin bukan wanita yang aku cintai, tapi kamu memainkan peranmu sebaik mungkin. Aku patut bersyukur atas kerja kerasmu selama ini. Terima kasih, Rina."
__ADS_1
Mata Rina terbelalak. Tubuhnya terkunci tak bergerak. Merasakan kembali pelukan hangat seperti milik ibunya dulu. Hangat sekali. Bahkan sinar mentari saja bisa terkalahkan.