
"Jangan bilang kalau Mas yang …." Rina diam. Menenangkan hati. Berharap ini tak seperti dugaannya.
Alvin memejamkan mata. Sulit juga meneruskan cerita.
"Nara meninggal karena tertabrak mobil saya." Pada akhirnya Alvin mengungkapkan apa yang selama ini tersembunyi. "Dia meninggal di tempat. Di depan mata saya. Darah merah itu sama dengan warna gaun yang saya siapkan."
Rina tersentak. Sukar menerima. Bukan karena ia cemburu pada Nara saja, tetapi terluka karena begitu tragisnya kisah cinta sang Suami.
"Dia menutup mata di depan saya. Meninggalkan segalanya termasuk membawa pergi perasaan yang belum sempat diungkapkan," tambah Alvin.
Suasana malam semakin sendu mengiringi cerita sedih Alvin di masa lalu. Pantas saja lelaki itu seakan menutup diri, ternyata ada cerita menyakitkan dibalik hidupnya.
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Rina yang masih penasaran.
Alvin meneruskan kembali. Menceritakan bagaimana Niken tidak bisa menerima kepergian kembarannya serta dendam pada Alvin juga bagaimana Alvin mempertanggungjawabkan kesalahan dibalik jeruji besi.
"Mas." Rina merasa terluka. Bukan karena masa lalu Alvin, melainkan ia tersayat hati karena begitu rumit kisah cinta suaminya tersebut. "Yang kuat, ya. Aku yakin Nara udah tenang di sana. Dia pengen Mas bahagia juga."
"Saya menyesal, Rin. Saya belum sempat menyematkan cincin di jarinya, tapi saya sadar kalau semua memang takdir Allah. Bagaimanapun saya nggak bisa nentang kehendak-Nya." Wajah Alvin masih penuh linangan air mata. Sebuah kisah paling menyedihkan yang pernah terlewati begitu saja. Serpihannya masih ada, tersimpan rapi dan tetap dikenang untuk diri sendiri.
Rina memeluk lagi Alvin. Menenangkan suaminya sebisa mungkin. "Jangan sesali apa pun yang udah terjadi, Mas. Semua tetap bakal dilewati karena itu udah ditakdirkan buat, Mas. Sebaiknya kita tidur, ya."
Alvin memeluk balik. Merasakan ketenangan yang luar biasa. Bersyukur Rina bisa menerima dengan lapang dada masa lalunya. "Tapi, bacain dongeng dulu, ya."
Rina tersentak. Melepas pelukan dan berkata, "Astagfirullah, Mas, kan, bukan anak kecil."
"Justru itu. Seharusnya yang dibacain buku dongeng itu orang dewasa bukan anak kecil.'
"Alasannya?"
"Karena orang dewasa itu udah terlalu penat dengan dunia dan segala sandiwaranya, jadi dia perlu diantar tidur dengan cerita manis seperti ratu dan pangeran."
Rina tertawa kecil. "Mas, bisa saja. Ayo, tidur. Sudah malam. Aku bisa terlambat nanti salat malam."
Rina berbaring lebih dulu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Semoga saja malam ini tidak tertinggal.
__ADS_1
Alvin ikut berbaring di samping kanan Rina. Memeluk istrinya dari belakang seraya berbisik, "Semoga Allah menjaga pernikahan kita. Nggak masalah sekarang kita belum saling cinta, tapi setidaknya kita bisa punya kesamaan masa lalu yang kelam. Terima kasih, Istriku."
Tak dipungkiri hati Rina berbunga-bunga. Rasanya melayang ke angkasa, lalu terbang mengelilingi dunia.
"Selamat malam, Pak Alvin bawel," kata Rina.
Alvin menyunggingkan senyum kecil. "Selamat malam, Mahasiswiku."
Malam terus saja bergulir menuju puncaknya. Menemani mereka ke alam mimpi agar bisa menikmatinya. Semoga saja hari esok lebih baik lagi.
###
"Kamu Rina, kan?" Niken tiba-tiba menghampiri Rina ketika kelas akan berlangsung. Ternyata mereka satu kelas di mata pelajaran ini juga.
Rina yang hanya sendiri itu pun langsung mengangguk cepat. "Ya."
Niken tersenyum kecil. "Aku boleh gabung di sini. Soalnya nggak ada teman lagi." Seluruh kelas memang penuh. Mungkin karena dosennya adalah lelaki muda, sama seperti Alvin.
Rina awalnya ragu. Teringat cerita Alvin, tetapi bergegas menyingkirkan perasaan itu karena pada dasarnya mereka berhak berteman semana lainnya. Rina tidak punya hubungan apa pun atas masa lalu Alvin. Yang artinya ia juga tidak hubungan dengan Niken.
Niken menyambut hangat. Ia duduk di samping Rina. Menyimpan ransel di meja dan berkata, "Oh, ya, perkenalkan aku Niken." Tangannya mengulur ke depan.
Rina pun mengikuti dengan tersenyum kecil. Ia harus pura-pura tidak tahu apa pun. "Salam kenal, aku Rina."
"Senang kenalan sama kamu." Niken antusias.
Rina mengangguk kecil.
Tangan mereka terpisahkan. Beberapa mahasiswa membuat gaduh dengan bernyanyi tak jelas. Membuat ruangan menjadi ricuh dan tidak terkendali.
Niken risih. Ia lebih suka ketenangan. "Kalian semuanya diam!" Tangannya menggebrak meja.
Beberapa mahasiswa itu menoleh ke arah Niken dan Rina.
"Ini kelas bukan lapangan. Kalau kalian mau nyanyi, sebaiknya cari konser," kata Niken lagi.
__ADS_1
Salah satu mahasiswa lelaki mendekati meja. Rina diam.
"Hei, siapa Lo?" tanya si Mahasiswa itu.
"Gue Niken. Lo, kalau mau konser jangan di sini. Ini kelas buat belajar!" Niken menjawab dengan sedikit emosi. Bisa-bisanya melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. "Kalau Lo keberatan, sebaiknya keluar dari kelas ini!"
Rina menenangkan. Terlebih mahasiswa lelaki itu mulai terpancing amarah. "Sudah, Niken. Nggak baik bertengkar."
Belum sempat menjawab seorang dosen lelaki masuk. Mahasiswa yang tadi mendekati mereka akhirnya menjauh. Rina lega. Setidaknya bisa terbebas dari perdebatan yang paling dibenci.
"Selamat siang. Mari, kita mulai kelas," kata dosen lelaki.
Semua mahasiswa menjawab. Niken masih saja kesal, tetapi Rina terus menenangkannya.
"Kamu anak baik, ya." Tiba-tiba Niken berkata seperti itu. '"Coba saja aku punya teman sebaik kamu. Mungkin bisa lebih tenang lagi kalau marah."
Rina tersenyum kecil. "Aku orang biasa aja, kok. Kamu bisa lakuin itu dengan usaha lebih baik."
Pelajaran dimulai. Namun, pandangan Niken tetap saja terfokus pada Rina.
"Aku nggak bisa seperti kamu. Aku lihat-lihat kamu wanita baik, pasti lelaki yang jadi suamimu nanti beruntung. Biasanya orang baik itu jodohnya baik juga," kata Niken.
Entah ini sengaja atau memang spontan saja, tetapi Rina rasa perkataan Niken memiliki arti yang luas.
"Aku jadi penasaran lelaki seperti apa yang mendapatkan kamu," sambung Niken.
Rina bergeming sejenak. Menoleh ke samping dan berujar, "Tentunya semua itu kembali ke takdir masing-masing. Baik atau buruk itu rahasia Allah. Kita nggak bisa menilai orang begitu saja, belum tentu yang kita anggap buruk itu, juga buruk di hadapan Allah."
Sudut bibir Niken menyunggingkan senyum. "Aku berharap kamu nggak ketemu lelaki gila. Minimal tampan dan solehnya seperti Pak Alvin. Menurutmu dosen kita itu masih lajang atau sudah menikah, ya? Aku pernah lihat dia nurunin seseorang di dekat kampus."
Dada Rina naik turun. Niken semakin lama memancing ikan dengan kail yang lebih besar.
"Semua wanita pasti mau jadi istrinya. Kalau kamu sendiri gimana?' tanya Niken dengan senyum kecil.
Dua bola mata Rina membesar. Salah besar memang mempersilakan Niken duduk di sampingnya. Kini hati Rina seolah terpanah busur besar.
__ADS_1