Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Rina melamun


__ADS_3

Rina mengikuti kelas Alvin dengan pikiran kacau. Beberapa kali Alvin melirik istrinya. Bahkan perempuan itu tertangkap basah tengah melamun ke arah luar melalui jendela.


"Jadi sebuah rancangan baju itu memiliki makna dan keindahannya tersendiri. Kalian harus bisa melahirkan trend terbaru untuk menarik minat pasar," kata Alvin.


Semua mahasiswa yang hadir sibuk mendengarkan, hanya Rina saja kurang fokus. Tangan kanannya mencoret-coret kertas tak jelas. 


"Kalian paham?" tanya Alvin sengaja meninggikan nada bicara agar Rina bisa mendengar. Nihil. Perempuan itu justru diam tak jelas.


"Paham, Pak!" serentak semua mahasiswa menjawab.


Pelajaran berlangsung sekitar empat puluh menit. Alvin sengaja tidak langsung keluar. Menunggu semua siswanya pergi untuk menghampiri istrinya. Berpura-pura mengecek keadaan padahal sedang memantau.


Kelas kosong. Tinggal Rina dan Alvin saja. Memastikan sekitar aman, Alvin berjalan ke arah Rina yang termenung. Sepertinya suasana hati perempuan itu tidak baik.


Alvin berdiri tepat di depan meja dan berkata, "Kamu datang ke sini untuk belajar bukan?" 

__ADS_1


Awalnya suara Alvin belum tertangkap telinga Rina. Butuh beberapa detik, akhirnya perempuan itu terkejut. Dua bola matanya membulat sempurna. "Astagfirullah."


Alvin menatap tajam. Rina merinding.


Kedua netra Rina menyelusuri sekitar. Kosong dan hening. Terkejut bukan main. "Maaf, Pak, kelasnya sudah selesai, ya?"


Pertanyaan Rina berhasil menggelitik Alvin. Ingin tertawa, tetapi gengsi. "Jadi benar selama empat puluh menit kamu tidak sedetik pun memperhatikan saya?" Nada bicara Alvin tegas. Didukung oleh suasana sepi. Menyeramkan juga.


Rina menelan ludah. Ketahuan. "Maaf, Mas." Yakin tak ada orang yang mendengar. "Aku salah."


Alvin menghela napas kasar. "Seharusnya saya tidak beri kamu izin untuk masuk kelas."


Alvin bergeming. Hanya tatapannya saja yang tajam.


Rina cemas. Bergerak mendekati Alvin. Mengikis jarak di antara mereka. "Mas Alvin beneran marah sama aku?" Wajahnya dibuat semanis mungkin. Menggelikan rasanya untuk Rina. Namun, para lelaki biasanya luluh. "Jangan, ya. Mas Alvin, kan, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung."

__ADS_1


Rina memalingkan wajah sebentar ke samping. "Di warung tetangga." Kali ini suara Rina pelan. Semoga saja Alvin tak mendengarnya.


Alvin tetap sadar. Jangan sampai terbuai. Ini hanya permainan Rina. Tetap pertahankan diri. "Jangan merayu. Saya bukan anak kecil!"


"Siapa yang merayu?" Rina menahan diri untuk tertawa. Dalam situasi seperti ini diperlukan ketangguhan diri. "Aku beneran, kok. Mas Alvin itu baik."


Pandangan keduanya bertemu. Suasana yang hening memberikan dukungan paling baik. Alvin hampir saja khilaf. Larut dalam keadaan yang tersedia.


"Kali ini saya maafkan, tapi lain kali jangan harap bisa aman. Ini kelas. Kamu seharusnya lebih paham," imbuh Alvin.


Rina tersenyum. Selamat. "Iya, Mas." Seuntai senyum dipersembahkan untuk sang Suami. Rina bergegas membereskan buku di meja. Memasukkan ke ransel dan berkata lagi, "Aku pamit ke kantin dulu, Mas. Nggak enak juga kalau keliatan sama yang lain."


Rina melangkah dua kali ke depan, melewati tubuh Alvin. Baru sekitar satu meter menjauh. Alvin mendadak mengeluarkan pertanyaan. "Apa sesuatu terjadi? Dari tadi kamu melamun saja."


Rina berhenti. Dadanya kembali bergemuruh mengingat percakapan dengan orang tersebut beberapa waktu lagi. "Nggak ada, Mas. Aku cuma ngantuk aja."

__ADS_1


Alvin kurang percaya. "Yakin?"


Rina tersenyum kecil. "Iya dong, Mas. Kapan aku nggak yakin? Bukannya pas nikah sama Mas juga aku selalu yakin."


__ADS_2