
Malam datang menyapa manusia. Dani yang penasaran pun pulang lebih awal. Ia sudah berada di rumah setelah azan Magrib berkumandang. Begitu pun dengan Rina dan Alvin.
"Mas, kamu mau makan apa malam ini?" tanya Rina yang baru saja membuka mukena setelah salat bersama suaminya.
Seharian di rumah membuat Alvin suntuk. Namun, begitu kedatangan Rina. Lelaki tersebut lebih baik.
Alvin merebahkan diri. Menaruh kepala di pangkuan sang Istri yang belum beranjak sama sekali dari atas sajadah. "Saya bingung."
Rina tersentak. Adegan romantis perlahan pasti terjadi dan mentalnya harus terbiasa akan hal ini.
Alvin mendongkakkan kepala ke atas. Memandangi wajah istrinya dari bawah. Cantik juga. "Antara makan di rumah atau di luar."
Rina bergeming.
"Saya mau ajak kamu makan di luar, tapi belum sempat tanya," sambung Alvin dengan penuh kelembutan. Sorot matanya pun teduh seakan penuh cinta.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Rina mendapati perlakuan manis dari lelaki. Dia lupa jika masa lalunya sendiri bahkan lebih senang mencaci daripada mencintai.
"Kamu mau yang mana?" tanya Alvin. Memberi jeda pada istrinya agar berpikir lebih matang.
Rina mengerutkan kening. Bimbang juga. Ingin keluar, tetapi ada seseorang yang ditunggu. "Aku juga bingung, Mas."
__ADS_1
"Kalau gitu, kita makan sama bingung saja."
Kedua bola mata Rina terbelalak. "Hah!"
Alvin tertawa lepas. Sebuah pemandangan yang bahkan langkah bagi Rina.
"Kamu manis." Pujian pun terlontar setelah itu dari mulut Alvin. Lelaki dengan profesi Dosen tersebut mulai bisa menerima kehadiran Rina. "Kita makan di rumah aja. Aku buatkan steak."
"Yakin Mas bisa masak?" Rina meragukan. Berhasil membangkitkan Alvin dari kenyamanan dan menatap Rina lekat. "Aku cuma tanya, Mas." Gugup juga.
"Kamu belum pernah makan masakan saya, ya?" Alvin bertanya balik.
Sepertinya begitu. "Kapan Mas masakin. Sarapan sama makan malam, aku yang bikin."
Kepercayaan diri yang dimiliki Alvin memang tinggi, tetapi tidak baik juga jika terlalu berlebihan. "Mas, PD banget bilang tampan." Rina ikut berdiri. Membuka mukena bagian bawah dan melipatnya bersama sajadah. "Masih ada lho yang lebih tampan dari Mas, tapi diam aja."
Candaan itu rupanya membangkitkan kecemburuan diri Alvin. Tak disangka lelaki itu melingkarkan tangan kanan di pinggang Rina, menarik tubuh istrinya agar mendekat, lalu berkata, "Kamu berani menatap laki-laki lain?"
Rina bergeming. Jantungnya meledak kali ini. Mukena itu sampai jatuh ke bawah. "Mas." Suaranya tertahan di tenggorokan.
Tatapan Alvin lekat dan tajam. "Jangan bandingkan saya dengan yang lain karena saya adalah saya!"
__ADS_1
Rina menelan ludah. Suaminya ini tipe lelaki yang memang bisa sangat menakutkan saat serius. Bola matanya saja bisa bulat sempurna dengan warna sedikit coklat. Manis memang jika tengah dipandang, tetapi menyeramkan ketika mengeluarkan amarah.
"Eh, bukan gitu, Mas." Rina gelagapan. Susah sekali menjelaskan apa yang menjadi tujuannya.
Tangan kiri Alvin membelai pipi kanan Rina. Lembut, tetapi berirama. Sentuhannya membelai. Menghanyutkan perempuan itu ke alam lain.
"Saya tidak suka dibandingkan karena saya sendiri juga tidak pernah membandingkan orang lain," bisik Alvin. Sengaja mempermainkan irama jantung istrinya yang pasti akan semakin kencang.
Tentu saja Rina tertegun. Atmosfer di sekitarnya sudah ditemukan, hingga rasanya sulit untuk bernapas. Ia kehabisan kekuatan. Ingin terkulai lemas karena terlalu banyak serangan mendadak yang diluncurkan suaminya.
Alvin tersenyum miring melihat Rina. Bebrapa detik kemudian melepaskan tangannya dari pinggang Rina, lalu menjauh sedikit. "Ayo, ke dapur. Jangan sampai saya gila."
Alvin bergerak melewati Rina. Lelaki itu keluar kamar dan berjalan ke arah tangga. Berdiam di dekat sana, menetralisirkan perasaan. "Astagfirullah, aku yang menggoda, tapi aku yang gila." Wajahnya memerah.
Alvin menuruni anak tangga satu per satu. Kedua kakinya baru saja mendarat di lantai bawah ketika suara gaduh itu terdengar dari ruangan tamu.
"Kenapa kamu ada di sini?" Suara wanita yang ia kenal.
"Ternyata benar kata Rina, kamu ada di sini!"
Alvin penasaran. Berjalan perlahan ke arah ruangan tamu dan berhenti ketika sebuah kalimat menyapa telinganya.
__ADS_1
"Mantan istrimu itu sudah berani sekarang. Dia pikir dengan menikahi Alvin, dia bisa kuat!" Nada kesal tersebut keluar dari mulut wanita paruh baya sembari kedua tangan berada di pinggang. "Dia itu cuma wanita murahan yang kamu nikahi aja! Dasar perempuan tidak tau diri!"