Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Alvin cemas


__ADS_3

"Saya ada perlu dulu keluar. Kamu bisa handle beberapa pelanggan yang ada seperti biasanya," pesan Alvin pada salah satu karyawan.


Alvin bersiap pergi menemui sang Istri setelah salat Dzuhur. Menyempatkan diri untuk bertemu Rina adalah sebuah apresiasi Alvin pada pernikahan ini.


Lelaki itu segera menjalankan kendaraanya ke arah tujuan. Jarak antara butik dengan cafe memang lumayan. Akan tetapi, demi seorang istri. Rasanya tak masalah.


Jika diingat lagi pesan Rina bisa membuat Alvin melambung ke angkasa. Terbang bersama para burung sambil bercerita banyak hal. Mengarungi semesta tanpa takut merasakan kemacetan. Mana mungkin di atas ada penilangan polisi.


Selama di perjalanan Alvin mencoba menghubungi Rina. Tak ada jawaban. Perempuan itu memang memiliki misteri yang terkadang sulit untuk dipecahkan. Tak jarang Alvin dibuat gila hanya karena kurang peka. Padahal sebagai seorang suami, ia bisa dikatakan sempurna. Menurut kaca mata batin Mbak Sasro sepertinya begitu.


"Dia yang minta bertemu, dia juga yang susah dihubungi! Kadang susah banget nebak maunya dia. Kalau anak TK, mungkin bisa dibilang banyak rewelnya," gumam Alvin sedikit kesal.


Mengingat tengah menyetir, lelaki itu memilih fokus ke jalanan. Setelah sampai, ia bisa lagi memikirkan lagi tentang Rina.


Waktu tempuh sekitar sepuluh menit. Cafe dengan suasana modern adalah salah satu tempat favorit mereka. Terkadang Rina yang sering mengajak Alvin ke sini. Tidak banyak yang mereka lalukan selain menikmati suasana dan melepas penat saja.


Alvin masuk cafe. Tak ada tanda-tanda Rina datang. Ia memilih duduk di meja dekat kaca. Memesan jus jeruk sambil menunggu sang Istri yang tak kunjung tiba. Haruskah menunggu? Mungkin itu yang diinginkan istrinya. Baiklah, menuruti sedikit tak akan melukai harga dirinya.


Ponsel canggih dikeluarkan dari saku jas. Bermain sebentar bisa mengusir kejenuhan. Barangkali Rina masih berada di jalan. Semoga saja ini bukan prank. Kalau iya, tentu Alvin punya sederet hukuman yang ditawarkan pada Rina. Tinggal wanita itu saja yang memilih bentuk serta durasinya.


Satu, dua, tiga menit berlalu. Bahkan sudah menginjak ke angka sepuluh. Rina tidak ada. Alvin mulai resah. Mengelilingi sekitar dengan kedua bola matanya. Memang tak ada Rina.


"Astagfirullah, kalau bukan istri. Mana mau aku seperti ini!" Ada sedikit kesal di kalimat Alvin. Ini sama saja dengan membuatnya menunggu. Tidak masalah jika itu hanya sekadar satu atau dua menit, tetapi ini sudah melebihi dari sepuluh menit. Ia saja tak pernah melakukan itu pada client.


Oleh karena itu, lelaki berjas hitam tersebut memutuskan untuk menghubungi Rina. Semoga saja ada kabar yang lebih membahagiakan.


Sekali, dua kali Alvin terus menelepon istrinya. Ponselnya memang aktif, tetapi tidak ada yang menjawab. Timbul rasa cemas yang bersumber dalam diri. Mengurung Alvin sampai susah berpikir. Ia berusaha lagi, tak peduli seberapa banyak namanya di catatan panggilan tidak terjawab pada ponsel Rina. Ia akan terus menghubungi wanita itu. Bahkan sampai ponsel wanita itu kehabisan baterai sekali pun.


"Astagfirullah, dia ke mana?" Wajah Alvin resah gelisah. Istrinya tidak kunjung datang. Berdiri. Menyapu bersih sekitar dengan kedua bola mata, berharap dari pintu masuk itu sosok Rina ada.

__ADS_1


Dua menit selanjutnya perasaan Alvin semakin cemas. Rasanya susah dijabarkan bagaimana isi hatinya sekarang. Bahkan untuk sekadar berpikir menghubungi Caca pun, tak ada. Ia kembali duduk. Memerika media sosial Rina, barangkali ada petunjuk di sana.


Nihil. Tidak ada jejak perempuan itu hari ini. Biasanya, sang Istri akan membuat postingan jika sedang berada di sebuah tempat.


Alvin menghela napas berat. Beristigfar beberapa kali, sampai sebuah pesan masuk dari nomor yang sama sekali tidak dikenalnya.


Ada kalimat yang berhasil membulatkan kedua bola mata Alvin. kata-kata yang dirangkai dari pengirim itu pun sangat singkat, tetapi padat


Datanglah ke jalan Akralina nomor 18. Temui istrimu.


Sejenak Alvin diam. Berpikir dengan tenang dan berusaha mencerna. Keabsenan Rina pada pertemuan siang ini bisa jadi memiliki hubungan dengan pesan ini.


Alvin tak langsung pergi. Ia memilih mencari di mana lokasi itu berada. Rupanya lumayan jauh, sekitar setengah jam dari temparnya berada.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Alvin bertanya pada diri sendiri.


Sesekali mata lelaki itu melirik meja Alvin seakan sedang mengamati. Alvin yang tengah dilanda cemas, sama sekali tidak menyadari.


Alvin berdiri. Tak perlu berpikir panjang lagi. Jika hanya diam, ia tak mungkin mendapatkan jawaban dari teka-teki absennya sang Istri. Lelaki itu memutuskan untuk keluar cafe, kembali ke mobil. "Di mana kamu sebenarnya, Rin." Masih terus bergumam sendiri.


Mobil berwarna hitam itu meluncur bebas dari parkiran cafe. Membelah jalan ibu kota yang padatnya mulai terasa. Mengingat waktunya jam pulang sekolah anak-anak tingkat menengah pertama. Banyak pelajar yang menggunakan sepeda motor dan ugal-ugalan tanpa pengaman.


Dalam otak Alvin saat ini hanya ada Rina. Nama itu terus mengusik pikiran dan kini memenuhi semua lerung jiwanya. Berharap segera bertemu agar bisa meyakinkan diri bahwa Rina baik-baik saja.


"Aku pasrahkan semuanya pada-Mu, Ya Rabb." Sesekali mulut Alvin menguntai doa. Semoga perlindungan Tuhan bisa sampai dan menjaga istrinya.


Kemacetan terjadi. Alvin memukul stir. Kenapa harus saat segenting ini?


Ketika sedang menunggu sebuah pesan pun masuk lagi dari nomor yang sama

__ADS_1


Jangan sampai membawa siapa pun.


Alvin mengerutkan kening. Otaknya memberi sinyal jika Rina berada di situasi yang membahayakan. Dengan cepat Alvin menghubungi nomor tersebut. Tersambung, tetapi tidak ada jawaban.


"Aaàaa!" Alvin memukul stir kencang.


Panasnya mentari tidak terasa sama sekali. Perutnya yang belum terisi pun seolah bukan menjadi halangan. Tak ada rasa lapar, padahal sebelum turun dari butik lelaki itu merasakan kekacauan segerombolan cacing di perut yang meminta jatah siang.


"Kamu di mana, Rina?" Setengah berteriak Alvin terus bertanya sendiri. Ia mendekati gila. Kehilangan Rina beberapa waktu saja berhasil memporakporandakan jiwanya. Bagaimana jika Rina benar-benar tidak bisa ditemukan di belahan bumi mana pun? Sudah dipastikan dunia Alvin setengahnya akan hancur. Kenangan lima tahun silam memutar di otak. Menggelitik perasaan.


"Nara, maaf kalau aku mulai menyanyangi Rina. Maaf." Entah mengapa lelaki itu terus meracau. Pandangannya tajam. Tak ada pergerakan sedikit pun dari kendaraan di depannya. Ini gila. "Aku nggak bermaksud menggeser posisimu, tapi sudah kewajibanku mencintai orang yang sudah aku nikahi."


Jiwa Alvin seolah dipermainkan. Semua tentang Rina terkenang dan menari-nari di mata. Bagaimana bentuk wajah, cara debat serta kusutnya mimik muka saat marah. Terekam jelas dalam ingatan Alvin. Naik ke permukaan seperti halnya berita yang sedang viral.


"Astagfirullah, ayo, jalan!" Alvin membunyikan klakson hampir lima kali. Tak peduli bagaimana tanggapan orang lain padanya. Yang jelas ia hanya ingin meluncur lagi agar bisa segera sampai. "Ayo, jalan!" Alvin bahkan menurunkan jendela kaca dan berteriak keluar.


Dua pengendara sepeda motor yang ada di samping mobil pun menoleh. Mengamati Alvin dengan tatapan tidak suka.


"Sayang, dia gila, ya?' tanya si Wanita pada lelaki yang sedang memboncengnya.


Lelaki itu mengangguk, walaupun tidak pasti. "Mungkin, Sayang."


Netra kanan si Wanita melirik sinis. Mengangap Avin sebagai lelaki dengan tempramental yang tinggi. "Bikin malu aja!"


Sekitar dua menit akhirnya kemacetan terurai. Sepeda motor itu meluncur lebih dahulu daripada kendaraan roda empat milik Alvin.


Alvin langsung tancap gas. Menjalankan kendaraanya dengan kecepatan tinggi. Menyalip beberapa roda empat dan roda dua yang ada di depan. Mengesampingkan keselamatan karena diburu rasa cemas pada diri.


Perjalanan terus berlangsung dan masih membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit lagi. Alvin yang terkukung kecemasan pun tidak takut ditilang polisi karena ugal-ugalan. Saat melintasi area rawan kecelakaan pun kecepatannya sama sekali tidak dikurangi, justru bertambah kencang mengejar waktu yang ada.

__ADS_1


__ADS_2