
Rina sadar. Orang pertama yang dilihatnya sudah pasti Alvin. Lelaki yang dengan setia menemani sang Istri yang kini sudah dipindahkan ke ruangan inap rawat.
"Mas Alvin." Rina mulai bersuara. Lembut dan masih lemah.
Alvin yang sejak tadi berdiri menemani pun bahagia. "Alhamdulilah, kamu sadar juga." Rasa syukur itu sampai ke sanubari. Tanpa canggung langsung memegang tangan kanan Rina. "Jangan takut, ya. Kamu aman."
Rina mengukir senyum kecil. Kekhawatiran di wajah suaminya menjadi saksi bahwa lelaki memang bertanggungjawab.
"Saya bakal usut tuntas semua sampai ke akar! Kali ini kalimat Alvin diiringi dengan rasa kesal. "Beraninya berbuat seperti ini ke istri saya!"
Rina terkekeh geli di sela sakitnya. "Mas, hebat. Terima kasih." lagi-lagi lengkungan senyum itu diberikan Rina pada suaminya. "Mas, udah selamatin aku dari marabahaya."
Mata Alvin berkata tidak. Ia justru memaki diri karena tidak bisa menyelamatkan lebih dini Rina. "Kamu salah, Rin. Saya ini justru suami yang kurang tanggung jawab. Bisa kecolongan atas keselamatan istrinya sendiri."
Rina perlahan bangun dibantu Alvin. Menarik tubuh Alvin ke pelukan dan mengelus lembut punggung lelaki itu. "Bagiku Mas, itu hebat. Suami yang selalu setia dan berusaha yang terbaik. Terima kasih, Mas. Setelah Ibu tiada, aku berusaha sendirian. Tapi, sekarang semesta menggantikannya dengan kehadiran Mas Alvin."
Hati Alvin tersentuh. Kehangatan pelukan itu berhasil menggerakkan kedua tangan Alvin supaya merangkul tubuh Rina juga. "Janji jangan pergi dari saya?"
__ADS_1
Rina tertegun. Untuk pertama kalinya mendengar kalimat itu dari Alvin.
"Apa Mas mulai ketakutan?" tanya Rina penasaran.
Alvin sejenak diam. Susah memang mengakui hal ini, sudah sifat seorang lelaki.
"Mas, kok, malah diam!" Rina tak sabar.
Alvin menelan ludah. "Bisa dikatakan seperti itu. Yang jelas saya nggak mau kamu jauh!"
Untuk kedua kalinya Rina tertegun. Tersihir oleh kata-kata yang dilontarkan Alvin.
"Bentar, Mas." Kening perempuan itu mengerut kencang. "Ngapain ke lubang semut?"
Alvin ikut mengerutkan kening. Heran juga dengan kalimatnya barusan. "Mana saya tau. Kamu mau ngapain?"
Rina melongo. Terjadi lagi percakapan receh setelah melewati ketegangan fase penculikan beberapa jam lalu. "Perasaan aku nggak ngomong mau ke lubang semut, Mas?" Semakin heran.
__ADS_1
"Ya, kali saja kamu gabut tingkat kecamatan." alvin tak ingin kalah.
"Astagfirullah, Mas." Rina menghela napas kasar.
"Kan, saya nggak bisa memperkirakan reaksimu di masa depan. Bisa aja itu terjadi."
Rina tak habis pikir. Terkadang Alvin bisa menjadi sosok lelaki dewasa yang penuh dengan pemikiran luas, tetapi bisa juga langsung merubah diri menjadi sosok anak kecil yang memiliki pemikiran lucu.
"Lagian aku nggak ada kerjaan banget ke lubang semut. Kalau pun memang gabut, mending main ke mall. Ngabisin uang jatah dari Mas." Rina sengaja.
Tanpa diduga Alvin langsung mencubit hidung Rina kencang dan berkata, "Berani, ya, kamu habiskan uang. Saya kerja capek dari pagi pulang pagi."
Bukannya marah, justru Rina merasa itu sebuah candaan. "Mana ada kerja pagi pulang pagi. Orang paling lambat itu habis magrib!"
Alvin bergeming.
Rina langsung menghempaskan tangan Alvin dari hidungnya. "Sehari keluar kota aja langsung pulang, apalagi lembur sampai pagi. Nggak percaya aku!" Rina menahan tawa. Sudah hapal sifat suaminya. "Bilang aja kalau Mas jauh sama aku itu, rindu. Ya, kan?"
__ADS_1
Alvin terpojokkan. Berbalik badan dan wajahnya berubah merah merona. "Kalau sudah tau, nggak usah nanya."