
Rina tersenyum kecil. Niken sepertinya sedang bermain-main.
"Aku sepertinya tidak langsung mau," jawab Rina.
Niken menatap Rina lekat. "Kenapa? Bukannya Pak Alvin itu kriteria lelaki yang sempurna. Banyak juga fansnya di sini?"
Rina tak bisa memungkiri hal itu. Alvin memang bisa dikatakan sempurna menurut mata manusia. Tak ada cacat dan bahkan salah. Terlebih statusnya yang seorang Dosen sekaligus pemilik butik menjadi daya tarik tersendiri untuk lawan jenis.
"Bukan soal itu saja yang perlu dipertimbangkan," kata Rina.
"Lalu?"
Rina mulai risih. Namun, ia perlu meladeni Niken agar tidak memandang semua wanita sama menyukai lelaki dari segi fisik saja. "Yang dinilai bukan cuma segi ketenaran, ketampanan atau kemapanan lelaki tersebut. Tapi juga bagaimana seorang lelaki itu punya adab yang baik dan bisa menuntun kita ke jalan yang lebih baik. Menikah itu bukan permainan semata."
Rina menyindir dirinya sendiri. Menyesali keputusan menikah dengan Alvin hanya karena sebuah kecerobohan, sekali pun memang pernikahan inilah yang menjadi gerbang kebahagiannya sekarang. Tidak semuanya memang, hanya saja setengah besarnya.
Sudut bibir kanan Niken terangkat ke atas. "Benarkah? Apa masa lalu seseorang juga perlu diselidiki sebelum menikah?"
Dari sini Rina merasa Niken memang sengaja mengambil topik tersebut karena tahu jika dirinya adalah istri dari Alvin. Sebaik mungkin Rina tetap tenang. Tak perlu menggunakan emosi supaya terlihat elegan.
"Jelas perlu, tapi ada yang namanya etika. Di mana kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menceritakan masa lalunya atau justru kita menyelidiki sampai ke akar. Menggali apa yang sudah lama terkubur dan bisa saja itu menjadi luka paling berat bagi orang tersebut."
Niken cukup tertantang untuk berbicara dengan Rina. Menarik sekali. "Wah, kamu cukup baik dalam berbicara. Aku rasanya cocok jadi temanmu."
Rina bergeming. Niken ini berbahaya, sebaiknya menghindar. Bukan artian tidak ingin didekati. "Semua orang boleh berteman, kok. Tapi … mungkin aku tipe orang yang jarang sekali bisa akrab dengan orang kecuali Caca. Bukan sombong, semua orang sudah paham. Aku berteman dengan siapa pun, tapi tidak terlalu dekat."
Niken terasa seperti di-skakmat. Permainan ini menyenangkan, hanya saja ia kalah. Rina lebih pintar menghindar dan melindungi diri. Bukan lawan yang mudah.
"Nggak masalah. Kan, sama-sama teman. Lagian aku juga kadang nggak terlalu dekat." Niken tersenyum tipis.
__ADS_1
Kelas berlangsung sekitar setengah jam. Dosen itu memberikan banyak pelajaran yang terbaik bagi mahasiswanya.
***
Dua hari berlalu setelah itu Niken selalu saja mendekati Rina. Terkadang juga ikut makan ataupun belajar di perpustakaan. Rina berusaha sebaik mungkin agar tidak terlalu hanyut dalam permainan Niken. Caca tak tahu apa pun, cukup bahagia dengan adanya Niken.
"Oh, ya, aku ke toilet sebentar," kata Niken sambil berdiri.
Mereka sedang berada di kantin saat ini.
Rina dan Caca mengangguk pelan.
Niken segera meninggalkan mereka. Ingin buang air kecil ini tidak bisa ditahan. Sesegera mungkin ia pergi ke toilet khusus perempuan.
Sebelum keluar, ia sempat mengetik pesan pada seseorang. Sebab, lupa membalas pesan orang itu sejak pagi.
Setelah memastikan pesan itu terkirim, wanita dengan pakaian yang tampak feminim tersebut keluar toilet. Tidak sengaja bertemu dengan Alvin yang juga baru keluar toilet pria di samping.
Tatapan mereka saling bertemu. Alvin bahkan lebih ganas dari sebelumnya, menatap tajam.
"Selamat siang, Pak Alvin," sapa Niken.
Ada beberapa mahasiswi di sana. Jelas saja ia Niken tak bisa berkata lebih santai.
Alvin dingin. "Pagi." Hendak melangkah. Namun, Niken menghalangi dengan kakinya. "Ada apa?"
Suasana hening. Tak ada orang juga di dalam. Aman. Niken rasa cukup baik. Ia bergerak ke depan melewati Alvin selangkah. Berhenti di depan wajah lelaki itu dan berbisik, "Jaga baik-baik orang tercintamu. Bahaya paling tajam itu datang dari orang terdekat."
Kedua bola mata Alvin membulat sempurna. "Apa maksudmu?" Berusaha tenang sebisa mungkin.
__ADS_1
Niken menyeringai. "Pernah dengar tidak kalau sebaik apa pun kita menyimpan emas di rumah, selalu saja ada maling yang datang. Sama seperti halnya kehidupan."
Alvin tahu tentang Niken dan Rina. "Jangan sentuh dia atau kamu sendiri yang merasakannya."
Niken terkekh kecil. "Yang aku benci itu kamu, bukan dia. Kekanak-kanakkan sekali kalau aku mengincar dia."
Alvin kurang percaya. Seseorang akan merubah rencananya jika memang ada umpan lebih baik dari sebelumnya. "Maling akan pergi ke tempat lain saat sasaran sebelumnya kurang menguntungkan. Begitu pun dengan manusia licik."
"Apa itu sama dengan kamu?" Niken memberi penekanan di kalimatnya.
"Dendamu itu terlalu besar sampai sulit menerima keadaan. Memberi maaf lebih baik."
"Aku mana mungkin memaafkan orang yang sudah menghilangkan nyawa kembaranku sendiri! Aku rasa kamu juga begitu?" Niken berbalik badan. Kini pandangan mereka semakin dekat dengan jarak yang hanya satu meter saja. "Jangan mengajariku tentang memaafkan karena selamanya kamu tetap pembunuh!"
Dada Alvin bergejolak. Permainan takdir itu memang bergulir begitu menyakitkan. Ia yang kehilangan, ia juga yang dikatakan pembunuh. Semesta bisa dikatakan tidak adil, tetapi bersadar diri memang diperlukan.
"Buka matamu. CCTV di sana pun membuktikan kalau aku tidak sengaja menabraknya!" Alvin susah mengendalikan emosi. Telunjuk kanan mengarah pada mata Niken. "Jangan menganggap cuma kamu yang kehilangan, kalau kamu tau jelas aku paling hancur."
Niken bertepuk tangan. "Pinter sekali kamu berakting. Cukup baik untuk jadi aktor. Semoga saja ada agency yang mempekerjakanmu. Itupun kalau tidak mencari masa lalumu." Niken seolah meledek.
"Ingat betul kata-kataku, jaga baik-baik," pesan Niken sambil berjalan cepat meninggalkan Alvin. Tak peduli ada orang lain yang mendengarnya atau tidak. Ia sudah muak dengan lelaki tersebut.
Alvin menenangkan diri. Beberapa mahasiswi yang akan ke toilet pun menyapanya. Ia menutupi kegugupan sebisa mungkin. "Aku sebaiknya segera ke ruangan. Masih banyak kerjaan."
Alvin bergegas ke arah koridor kanan. Mengecek pesan dan mengirimkan sebuah untaian kalimat pada istrinya.
To Rina
Assalamualaikum. Sore ini tunggu saya di dekat halte. Jangan lupa.
__ADS_1