
Alvin menenangkan Rina. Membiarkannya istirahat dan menggantikan memasak.
"Mas, maaf." Sesal pasti ada dalam diri Rina. Tak jujur semuanya pada Alvin memang bentuk penyesalan terbanyak.
Alvin menyuapi Rina dengan ayam bakar yang dimasaknya. "Kenapa harus minta maaf?"
Perempuan itu awalnya menolak makan. Namun, Alvin terus mendesak. Tak peduli seberapa susahnya medan jalan, lelaki itu berusaha sampai menghasilkan keajaiban.
Rina menunduk. "Aku nggak cerita soal Dani karena kupikir Mas nggak tertarik sama masa laluku. Mas, kan, menikah cuma karena butuh istri saja."
Alvin mencubit hidung Rina pelan seraya berkata, "Saya memang nggak mau tau masa lalumu, tapi sayangnya saya sudah tau duluan. Awalnya saya mau diam, tapi Dani sendiri yang bergerak. Bukannya sekarang kamu milik saya?"
Rina bergeming.
Alvin mengangkat dagu Rina. "Milik itu dalam artian kamu sudah terikat pernikahan dengan saya. Jadi … saya berkewajiban melindungi kamu sebagai seorang suami."
Mata mereka bertemu. Debaran jantung Rina terus berpacu mengalahkan apa pun.
"Jangan berani membohongi saya lagi karena saya sendiri bukan tipe lelaki pembohong. Kamu mau tau masa lalu saya, kan?" tanya Alvin.
Rina mengangguk pelan.
"Pasti saya ceritakan, tapi nggak seseru milik orang lain. Sekarang tidur dan istirahat. Kalau nggak, saya mungkin jadi binatang buas malam ini." Alvin mengedipkan mata kanan menggoda Rina.
"Mas Alvin!" pekik Rina.
Alvin melepaskan tangan. Tertawa kencang. Suaranya bahkan bisa memenuhi ruangan kamar ini. Entah bagaimana pernikahan mereka selanjutnya. Yang jelas keduanya akan tetap melanjutkan jalan ini sesuai visi misi yang diemban.
***
Dua hari setelah kejadian itu Dani bagaikan ditelan bumi. Tak ada tanda-tanda keberadaannya di depan Rina atau Alvin. Lelaki yang datang hanya dengan membawa sekoper baju itu pun tidak pernah lagi terlihat ke rumah Alvin.
Bagi Alvin tak masalah. Ia membela apa yang patut dibela. Tentunya dengan pertimbangan yang luar biasa.
"Kamu ada kelas saya siang ini, kan?" tanya Alvin ketika sarapan pagi hari.
__ADS_1
Rina mengoles selai coklat di roti tawar. "Iya, Mas. Kenapa?"
"Jangan bolos. Saya nggak bakal kasih toleransi, sekali pun kamu berstatus istri."
Mata Rina mendelik. "Mas, kejam banget."
"Saya bukan kejam, tapi adil!" Alvin menegaskan.
"Ya, ya. Pak Alvin yang super adil sejagat kampus. Muridmu ini pasti datang." Rina mengalah. Berdebat di pagi hari dengan Alvin bukanlah sesuatu yang baik untuk mood hari ini. "Oh, ya, Mas."
Roti itu siap santap. Disimpan lebih dulu di piring. Alvin menoleh. "Aku mau izin."
Kening Alvin mengerut kencang. "Izin untuk apa?" Penasaran juga.
Rina ragu. Mulutnya mengatup.
Alvin berdecak kesal. "Bicara. Jangan cuma diam! Mana bisa saya kasih izin kalau kamu diam!"
Benar juga. Rina akhirnya memberanikan diri membuka suara. "Aku mau ikut study tour kampus."
"Astagfirullah, maaf." Alvin kaget. Mengelap dengan tisu di dekat. "Tadi kamu ngomong apa?"
"Mas, nggak dengar?" Bukannya menjawab Rina justru bertanya balik. "Ya Allah, Mas, padahal masih muda."
Alvin menatap tajam. "Saya tanya baik-baik! Jangan sampai sarapan pagi ini jadi berantakan."
Rina bukannya takut. Akan tetapi, perempuan itu justru tertawa kecil. "Maaf, Mas. Aku mau izin pergi studi tour."
"Sama siapa? Ke mana? Ngapain aja?" Sederet pertanyaan keluar begitu saja dari mulut lelaki yang bertitle dosen tersebut.
Rina melongo. Mengedipkan mata dua kali. "Nggak sekalian tanya naik apa? Ada Pak Lurah nggak? Pak RT diajak?" Kesal.
"Saya serius." Alvin tidak sedang bermain-main.
Rina menghela napas. "Sama teman. Cewek cowok, campur kayak gado-gado. Ke daerah yang adem. Di sana mau jungkit balik juga, boleh."
__ADS_1
Kedua bola mata Alvin membulat sempurna. Enteng sekali istrinya menjawab. "Nggak ada izin!"
Rina tersentak.
"Saya nggak mau izinkan kalau tujuannya nggak jelas!" tegas Alvin.
Rina bergeming. Padahal suaminya ini Dosen, jelas sudah tahu tujuan studi tour itu untuk apa.
"Ya sudah, nggak ada tidur bareng malam ini. Peluk guling aja sana!' protes Rina. Kesal sendiri.
"Kok, merembet ke sana?" Alvin jelas tidak terima.
"Suka-suka aku lah. Mas juga segitunya. Padahal Mas, kan, dosen. Pastinya tau tujaun kegiatan ini!"
Perdebatan dimulai.
Alvin paham dengan jiwa muda yang menggelora dalam diri istrinya. Bagaimanapun perbedaan usia di antara mereka yang terpaut sekitar enam tahun itu pun akan melahirkan perbedaan yang mencolok. Baik dari segi pola pikir ataupun cara pandang pada sebuah masalah.
Rina berdiri. "Aku, kan, cuma minta seperti ini sekali aja. Nggak aneh-aneh. Selama menikah pun, aku melakukan kewajiban sebagai istri. Aku juga punya batas dalam bergaul dengan lawan jenis, kalau memang itu yang Mas takutkan." Perempuan itu melangkah melewati meja dan Alvin tentunya.
Baru enam langkah berjalan, tak disangka Alvin memeluknya dari belakang. Menyalakan mesin bom dalam jantung Ririn sampai rasanya sebentar lagi akan meledak. Selalu saja terjadi. Gila memang!
"Kalau itu beda lagi. Kita ini pasangan sah," bisik Alvin.
Rina mati kutu.
"Saya izinkan kamu, tapi dengan satu syarat. Mau?" tanya Alvin mencoba bernegoisasi.
"Syaratnya?" Bibir Rina bergerak ingin tahu. Dalam benak seorang Rina sebuah ide gila pasti sedang dirancang Alvin. Entah seperti apalagi sekarang. "Kalau aneh-aneh, aku ngambeknya tujuh turunan!"
"Ya, jangan!"
"Kenapa?"
"Satu turunan aja belum kesampaian, gimana mau tujuh turunan?" Alvin tertawa kecil. Berhasil menambah kekesalan Rina.
__ADS_1