
Malam pun datang. Alvin salat Magrib di masjid terdekat, sedangkan Rina di rumah saja. Dani sendiri mengurung diri di kamar sebelah. Menunggu suara pintu Rina terbuka.
Rina selesai mengaji Al-Qur'an. Perempuan itu bergegas membuka mukena, melipat sajadah, kemudian memakai hijab. Mulai detik ini, ia harus memakai pakaian tertutup dengan jilbab karena ada non-mahram di rumah ini.
"Sebaiknya aku ke dapur buat ngangetin makanan tadi," kata Rina setelah memastikan penampilannya baik.
Rina melangkah pelan ke arah pintu. Membuka dengan pelan, keluar seperti biasa. Namun, ketika kakinya akan kembali mengayun. Suara Dani mengagetkannya.
"Kamu terlihat lebih baik sekarang," kata Dani.
Rina melirik sekilas. Ia berjalan dua langkah kembali, tetapi suara Dani kembali menghentikannya.
"Sepertinya dia nggak tau, ya." Dani mendekat. Berdiri di belakang Rina, mengamati punggung perempuan tersebut. "Seharusnya kamu bersyukur karena aku tutup mulut."
Rina menghela napas. Percakapan ini memancing amarahnya. Akan tetapi, ia tetap menahan sebaik mungkin. "Itu hakmu. Tutup atau buka, itu keinginanmu."
Kedua sudut bibir Dani terangkat bersamaan membentuk senyuman kecil. "Jadi, kalau aku bilang. Tidak masalah? Apa dia bakal percaya lagi sama kamu?"
Tangan Rina mengepal. "Seperti kata Mas Alvin, kita perlu hidup dengan damai. Jadi, jangan ungkit apa pun lagi."
Dani tertawa kencang. Ia yakin jika Alvin masih ada di masjid sekarang. "Kenapa harus damai kalau rusuh itu menyenangkan?" Kedua kaki Dani bergerak melewati Rina. Berdiri di depan perempuan itu. "Bukannya perusuh itu lebih beringas dan menantang?"
Dada Rina naik turun. Tak baik meladeni Dani, tidak ada gunanya juga. Oleh sebab itu, Rina memilih berjalan melewati Dani dan turun ke lantai bawah. Belum genap dua belas jam lelaki itu di sini, tetapi sudah mengusik kehidupan damainya lagi.
"Dia itu pengen dicincang pisau kayaknya!" Rina terus mengomel sampai ke dapur. Moodnya hilang. Hanya saja menyajikan makanan pada Alvin adalah sebuah keharusan.
__ADS_1
Dani yang ditinggalkan seketika masuk kamar lagi. Menghantui Rina dengan berbagai bayang-bayang seperti sebuah permainan anak kecil. Penuh kebahagiaan.
Di dapur, Rina menghangat beberapa menu dengan cepat. Sebab, Alvin selalu makan malam setelah pulang dari masjid.
Benar saja. Suara langkah kaki seseorang mendekat ke arah dapur. Rupanya Alvin baru pulang dengan masih memakai baju koko dan sarung kebanggaannya. Lelaki itu mengamati Rina dengan teliti, lalu berkata, "Apa Dani keluar rumah?"
Rina kaget. Ia hampir saja menjatuhkan piring kosong yang dipegangnya. Menoleh ke arah pintu dengan wajah kesal. "Mas, bisa nggak kalau datang itu ucap salam dulu. Baru, nanya!"
Saat ini rasanya Alvin sedang diceramahi oleh orang tua kandung. Mulut Rina memang sering membicarakan apa pun, bahkan hal yang tidak penting saat bersama.
Rina mendaratkan piring dengan selamat.
"Saya sudah ucap salam pas masuk tadi. Salah kamu sendiri tidak mendengar!" Alvin membela diri.
Alvin memilih pergi dari dapur. Naik ke lantai atas untuk mengganti pakaian dan mengajak Dani makan malam.
Rina kesal, tetapi ia tetap melakukan kewajibannya. Beberapa menit kemudian akhirnya Dani dan Alvin turun bersama. Pergi ke dapur dan duduk di kursi yang saling berdekatan.
Rina sendiri berusaha untuk tetap tenang saat ini. Ia hanya perlu menganggap Dani itu patung. Tak ada pergerakan.
"Ini Mas Alvin makannya." Rina memberikan piring yang sudah diisi nasi dan beberapa lauk.
Dani menatap Rina tajam, tetapi perempuan itu dengan acuh duduk di kursi dekat Alvin bagian kanan.
Posisinya Alvin dihimpit oleh Dani dan Rina.
__ADS_1
"Ayo, makan. Masakan istriku enak semua," ajak Alvin.
Rina tersedak. Sejak hari pertama dirinya memasak, baru kali ini Alvin memuji. Entah ada modus apa yang tersembunyi di balik itu.
Rina segera minum untuk meredakan kesakitannya.
Dani mengambil nasi dan lauk yang tersedia. Mencicipi satu suap dan merasakan sensasi yang luar biasa. Ini bukan Rina, Dani yakin.
"Dia pintar masak, makanya aku betah di rumah." Alvin memuji kembali.
Kali ini Rina tidak tertipu.
"Benar. Masakan istrimu enak. Di mana kamu dapat perempuan sepintar dia?" tanya Dani dengan lirikan nakal ke arah Rina.
Dani menikmati lebih dulu makanannya dua suap. Rasanya memang enak. Ia beruntung.
"Dia itu limited edition. Susah ditemukan," jawab Alvin.
Rina sontak mengangkat kepala. Melirik Alvin dengan sudut mata yang menyipit. Lelaki itu selalu saja punya jawaban yang memancing kemarahan orang lain.
Dani terkekeh geli. Entah ini ledekan atau memang dia merasa perkataan Alvin itu sebuah lelucon.
"Makanya, sebisa mungkin harus dijaga dari orang yang berniat jahat. Dia berharga," sambung Alvin.
Seperdetik kemudian, Dani mendadak tersedak. Mungkin karena salah satu makanan yang disajikan Rina bernuansa pedas. Lelaki itu meneguk air sebanyak setengah gelas sambil ujung netra kanannya melirik Alvin. Mendapati sebuah senyuman kecil dari bibir Alvin, walaupun sepintas saja.
__ADS_1