
"Tante," sapa Rina saking kagetnya.
Mobil itu menepi ke samping. Keluarlah seorang wanita paruh baya yang masih tampak muda. "Saya kira nggak bakal ketemu kamu lagi." Suaranya penuh dengan kesombongan.
Jiwa Rina bergejolak penuh kebencian. Pertemuan kedua setelah di pernikahannya dahulu. "Tante, apa kabar?" Sopan santu tetap didahulukan.
Mata wanita itu menatap tajam seakan ingin memangsa Rina. Berdiri di depan bekam menantunya tersebut. "Jangan sok akrab!'
Rina bersabar. Tetap mempertahankan senyum. Melupakan apa yang pernah terjadi beberapa tahun silam.
"Saya masih nggak habis pikir kenapa wanita sepertimu bisa mendampingi keponakan saya? Di mana juga kalian bertemu?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Bu Nani--ibunya Dani.
Rina tersenyum getir. "Semua sudah takdir, Tante. Kita nggak bisa lawan itu." Kali ini perkataan Rina sedikit berani. Tak peduli bagaimana tanggapan bekas mertuanya ini.
"Sekarang kamu sudah berani menjawab, ya!" Mata Bu Nani melotot memperlihatkan rasa marahnya.
__ADS_1
Rina masih saja berusaha tenang dan sopan. "Bukannya tidak baik juga kalau orang yang ditanya cuma diam?"
"Jangan mentang-mentang kamu sudah menikah dengan Alvin. Kamu jadi berani sama saya. Yang harus kamu ingat kalau saya ini tantenya Alvin yang paling disayang." Bu Nani menyombongkan diri. Berharap mental Rina menciut. Yakin, sih.
Alih-alih menciut, Rina justru berkembang lebih baik. Pandangannya lurus ke depan tanpa takut sedikit pun. "Tante, sekali pun saya nggak menikah dengan Mas Alvin. Sikap saya ini tetap sama. Untuk orang di wisata masa lalu yang memyakitkan, saya rasa wajar."
Bu Nani kesal. Melihat ke sekeliling. "Mau ke mana kamu? Di mana Alvin?" Alis kanannya terangkat ke atas. "Ah, apa jangan-jangan kamu diusir atau dicampakan. Kasihan." Tawa sinis penuh kemenangan diberikan pada Rina.
Masih berusaha tenang, walaupun perasaannya mulai kesal. Ingin berkata kasar, tetapi di tahan. "Mas Alvin ada di rumah, Tante. Termasuk anak Tante juga. Kalau Tante mau main, silakan. Bisa jumpa anak Tante nanti malam."
Dari kalimat ini Rina bisa menyimpulkan hal yang luar biasa. Bagus juga. "Bukannya Dani itu anak kesayangan yang selalu jujur dan penurut? Dia bahkan rela meninggalkan saya atas dasar keinginan Tante. Masih ingat, kan, Tante?"
Sindiran halus ini langsung menusuk jantung Bu Nani. Rina sudah pintar dibanding beberapa tahun silam. "Kamu!" Telunjuk kirinya mengarah pada Rina. Amarah memuncak seolah sulit dikendalikan lagi. "Nggak mungkin anak saya menumpang! Jangan mengada-ngada!"
"Kalau Tante nggak percaya, bisa datang ke rumah Mas Alvin. Pintu rumah kami terbuka lebar." Seutas senyum dilempar Rina pada bekas mertuanya tersebut. "Saya bukan orang yang mau berbohong."
__ADS_1
"Tapi, sepertinya Alvin belum tahu antara kamu dan Dani?" tanya Bu Nani dengan sinis.
"Itu kata Tante, tapi seperti Tante lupa kalau Mas Alvin itu bukan orang bodoh. Seorang Dosen yang berwawasan luas dengan jam terbang tinggi. Mana mungkin tidak bisa menebak." Rina berkata sembarangan.
Bu Nani diam sejenak. Rina sukar dilawan sekarang. Pertahannya lebih tinggi daripada dahulu, bahkan sorot mata perempuan itu sudah lebih tajam. Perkembangan yang sama sekali tidak ia duga. "Awas saja kalau sampai kamu berbohong! Saya bakal bongkar semua ke Alvin!"
Ancaman itu menggetarkan jiwa Rina sedikit. Hanya saja perempuan itu tetap berpikir jernih. Yakin jika Alvin akan paham andaikan tahu versi sebenarnya yang ia rasakan. "Silakan, Tante. Saya nggak salah. Seperti yang Tante tau, saya dengan hormat melepaskan anak Tante."
Bu Nani berbalik badan. Menanggapi Rina membuat perasaanya kesal. Hari ini juga harus menemui sang Anak dan bertanya tentang kabar ini. Jika benar, tentu ia perlu tahu penyebabnya.
Bu Nani pergi dengan mobilnya kembali. Rina bisa bernapas lega. Sesak itu ikut pergi. "Astagfirullah." Dua kali mengucapkan kalimat istigfar sambil mengelus dada. Pertemuan singkat yang sebenarnya mampu membangkitkan sakit masa lalu.
"Aku harap nggak ketemu lagi," gumam Rina.
Akhirnya Taksi datang. Rina naik dan pergi ke tempat tujuan.
__ADS_1