Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Dia tidak tau


__ADS_3

Alvin sudah mengisi semua kelas hari ini. Tepat pukul satu siang, ia pun meninggalkan kampus. Ada project yang perlu selesaikan di kantornya.


Lelaki dengan mobil hitam itu meluncur bebas di jalanan. Beberapa kali sebuah pesan diterima dari costumer spesial butiknya. Dengan itu, ia juga harus merancang busananya hari ini.


Jarak kampus dan kantor tidak terlalu jauh. Hanya ditempuh dengan waktu sekitar delapan menit. Alvin sampai. Disambut beberapa karyawan.


"Kita kehabisan kain dengan motif ini, Pak," kata wanita dengan rambut pendek.


Alvin melihat. Ia paham. Sulit mencari kain tradisional, sebab harus memesan jauh-jauh hari.


"Pesankan ke penenun terpercaya. Minta dikirim secepat mungkin, " jawab Alvin. Lelaki itu masuk ke ruangannya. Duduk di kursi yang biasa dipakai.


Sebagai seorang perancang busana serta Dosen. Waktunya memang banyak tersita untuk bekerja. Jarang sekali bisa bermain ataupun mencari kekasih hati. Namun, Tuhan langsung memberinya seorang istri dari kalangan muridnya sendiri. Terdengar gila, tetapi itulah suratan takdir.


"Aku lupa bilang ke dia kalau mau lembur. Tapi, dia juga tadi bilang bisa pulang setelah Magrib. Sama saja," gumam Alvin.


Pikirannya jauh terbang ke angkasa. Masih membekas bagaimana diamnya Rina saat mendengar jawaban Alvin. Memang terasa menyakitkan. Akan tetapi, itulah kenyataannya.


"Dia pasti paham. Sebaiknya, aku belikan kue pas pulang nanti." Alvin mulai membuka buku dan mengambil pensil. Jari jemari lentur itu harus bisa digerakkan sebaik mungkin agar menciptakan karya yang baik. Hal yang menjadi kewenangannya selama ini serta sumber pendapatannya juga.

__ADS_1


***


Rina pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi. Beberapa buku dipinjamnya dari sana. Ia juga tak lupa untuk membeli beberapa perlengkapan rumah yang habis sebelum pulang.


Azan Magrib berkumandang ketika Rina berada di dekat halte bus dengan membawa dua kantong belanjaan yang lumayan berat. Ia menunggu. Lama sekali datangnya. Untung saja ia sedang datang bulan. Tidak terlalu khawatir dengan kewajiban.


"Busnya lama banget," kata Rina. Kedua tangannya terasa pegal karena dua kantong belanjaan tersebut.


Duduk sendirian di halte dengan langit yang mendung memang terasa sepi. Akan tetapi, juga menenangkan. Hal yang ingin ia nikmati sedari dahulu, walaupun suara kendaraan tetap terdengar bising mengganggu telinga.


Langit yang mendung itu ternyata mengalirkan air hujan. Menyiram semesta dengan jutaan air segar. Rina mendongakkan kepala ke atas. tersenyum manis melihat hal itu.


Bus datang. Rina masih terbuai dalam khayalan, hingga sama sekali tak menyadari hal itu. Saat kendaraan besar itu sudah berjalan, ia baru teriak. "Pak Sopir, tunggu!"


Nasi sudah menjadi bubur. Rina tidak bisa berbuat apa-apa. Menangis meronta-ronta di antara para pengunjung halte pun, rasanya percuma. Ia lengah. Akhirnya ia pun duduk kembali dengan penyesalan segunung.


"Aku harus nunggu lagi!" Helaan napas kasar menyiratkan rasa kecewa serta menertawakan kebodohannya.


Deras hujan makin tinggi. Para pengunjung bus pun sudah bubar, hanya tinggal Rina sendiri. Menunggu dengan wajah cemas.

__ADS_1


Jika seperti ini, ia teringat masa lalu. Beberapa kilas balik pun berputar kembali di benak. Merasakan bagaimana kisahnya dahulu yang menyedihkan. Namanya hidup pasti selalu ada lika-liku. Tak ada yang mulus di dunia ini.


Berselang dua menit, sebuah mobil berhenti tepat di depan halte. Rina menatap pada kendaraan beroda empat itu. Matanya terbelalak karena diberi kejutan, melihat siapa yang keluar dan menghampirinya.


Rina tak percaya. Pertemuan ini terjadi lagi. Ia bahkan bisa melihat sosok tinggi itu berdiri tegak di depan tanpa dosa. "Apa kabar? Kamu nunggu bus?"


Rina bergeming dengan pikiran kacau.


"Kenapa diam? Ini bukan pertemuan pertama, kan?" Orang itu menyunggingkan senyuman.


Rina berusaha tenang. Ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah. "Ada apa? Bukannya kamu yang memutuskan untuk tidak saling bertegur sapa sekali pun bertemu? Tapi, justru sekarang kamu yang datang sendiri."


Orang itu tertawa kecil. Rina tersinggung. Ini seperti sebuah ledekan.


"Jangan tertawa seperti itu. Kamu lebih menakutkan!" tegur Rina. Berharap bus cepat datang.


Orang itu duduk di samping Rina. Dengan cepat Rina pun menggeser ke kanan. Tak sudi berdekatan.


"Sepertinya kita jadi keluarga lagi, tapi dalam konteks yang berbeda. Aku cukup terkejut." Tawa kecil keluar dari orang itu. "Yang lebih menariknya itu karena dia tidak tau tentang kita. Cukup menantang." Sebuah tepukan dilakukan dengan baik oleh orang tersebut.

__ADS_1


Rina merinding. Ini seperti sebuah bendera perang yang berkibar tegak di atas. Ia harus kuat.


__ADS_2