Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Kampus lagi


__ADS_3

"Ah, iya." Dani tak berkomentar apa-apa lagi. Ia memperhatikan Rina dan Alvin yang kian dekat.


Makan malam pun selesai. Alvin ada keperluan, sehingga lelaki itu memilih naik ke lantai atas. Dani sendiri mendadak rajin dengan membantu Rina di dapur.


"Nggak perlu. Aku bisa sendiri," tolak Rina.


Dani diam di dekat wastafel. Mengamati Rina yang ternyata selalu menghindari saat bertemu pandang dengannya. "Kamu menghindariku, ya?"


Rina diam. Tak peduli banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Dani, ia akan tetap membungkam.


"Rina!" Kini suara Dani sedikit kencang


Rina menoleh dan berkata, "Kalau kamu ke sini cuma mau ganggu aku aja. Sebaiknya pergi ke kamarmu!"


Entah mengapa Dani merasakan kemarahan yang terpancar dari jiwa perempuan itu. Perasaan yang jelas terlihat.


"Suamimu itu sulit ditebak," kata Dani.


Rina tetap diam. Yakin dengan hal ini Dani akan segera pergi dari pandangannya.


"Ok, aku mengalah. Selamat malam." Dani pergi meninggalkan Rina yang terus saja membersihkan piring kotor sisa makan. Perasaannya campur aduk. Ada yang berbeda dengan Alvin malam ini. Mungkinkah lelaki itu?


"Mana mungkin. Lagian kalau Mas Alvin tau juga pasti bodo amat!" Rina menghela napas kasar.

__ADS_1


Semua urusan dapur selesai. Rina naik ke lantai atas dan masuk kamar. Namun, ia sama sekali tidak menemui sang Suami. Bisa jadi lelaki itu berada di ruangan kerjanya.


Kantuk menimpa Rina. Pertahanan perempuan itu lemah. Dengan cepat membaringkan badan di sisi kanan ranjang. Menarik selimut ke dada dan membaca doa sebelum tidur.


Sekitar satu jam selanjutnya. Tepat ketika Rina sudah berselancar ke alam mimpi, Alvin masuk sembari membawa sebuah buku bersampul merah. Lembaran di dalamnya adalah kenangan yang tak bisa ia lupakan.


Alvin berjalan mendekati Rina. Memandangi wajah perempuan itu yang kini berada di sela-sela sinar lampu tidur saja. "Tidurlah. Mungkin kamu butuh lebih banyak istirahat."


Dengan membawa buku bersampul merah. Alvin bergerak ke sisi ranjang bagian kiri. Lelaki itu menyimpan di salah satu laci meja kecil, kemudian menyusul Rina ke alam mimpi.


Biarkan malam ini berlalu begitu saja. Malam akan segera berganti dengan pagi. Berbagi kehidupan tanpa saling mendahului karena memiliki lajurnya sendiri.


***


Ada dua mata pelajaran yang perlu diikuti termasuk yang dipimpin Alvin.


"Nggak, deh, Rin. Aku lagi kurang enak badan. Ini aja mau pulang lagi," jawab Caca.


Rina melihat wajah Caca yang pucat. "Kamu kalau sakit kenapa malah datang ke sini?" Ia khawatir. Memegang kening Caca. "Astagfirullah, panasnya."


"Tadinya aku pikir bakal biasa aja. Sembuh gitu." Caca batuk sekali.


"Astagfirullah, Ca. Ayo, pulang sana. Biar nanti aku bilang ke Dosen kalau kamu sakit."

__ADS_1


Keduanya berada di taman kampus. Rina sendiri tengah membaca sebuah buku novel dari karangan penulis terkenal.


Caca menurut. Rasanya memang sulit mengikuti pelajaran hari ini. "Ya udah, aku pamit dulu, ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan, ya," ujar Rina.


"Iya."


Caca pergi.


Rina kembali duduk di hamparan rumput hijau kering seperti yang lain. Pandangannya tak sengaja melihat Alvin yang berjalan di koridor lantai dua. Dengan penampilan yang tampak sangat muda, mudah bagi lelaki itu mencari wanita.


Tak berapa lama Alvin berhenti karena dua mahasiswi mencegahnya. Salah satu mahasiswi mendekati dari samping kanan sambil menunjukkan sebuah buku. Entah sedang apa mereka?


Rina terdiam. Pandangannya tak ingin beralih. Melihat kepopuleran Alvin di gedung ini memang tak bisa ia pungkiri. Namun, hal ini pun jangan sampai membuat ia oleng dan lantas berbuat gila.


"Mas Alvin itu sebenarnya orang seperti apa, sih? Aku sendiri nggak bisa nebak karena rasanya sifat dia itu kayak bunglon. Berubah sesuai keadaan." Rina mengikut sertakan tawa kecil di akhir kalimatnya.


Sekitar satu menit kemudian seseorang datang. Awalnya, mengamati Rina, selanjutnya orang itu pun bergerak dan berdiri di samping Rina.


"Permisi, apa benar kamu yang namanya Rina?" Orang itu langsung bertanya.


Sontak Rina menoleh ke samping. Mengangkat kepala, seketika mengerutkan kening.

__ADS_1


Tanpa sadar pandangan Alvin memergoki Rina dengan orang itu. Alvin bahkan tak mendengar lagi pertanyaan dari mahasiswi yang tengah menunjukkan hasil rancangannya. Terlalu polis melihat sang Istri bersama yang lain.


__ADS_2