Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Rayu Allah


__ADS_3

"Jangan melewati batas!" Rina menyimpan sebuah guling di tengah sebagai pembatas. Berjaga-jaga. Bukankah kucing yang terlihat diam justru sedang mengincar mangsanya. "Kalau ngelewatin batas. Pak Alvin, tanggung akibatnya!"


Alvin acuh. Naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.


Rina melirik ke samping. Memperhatikan reaksi Alvin yang tak ada sedikit pun. "Pak Alvin, dengar atau nggak?"


Alvin lelah. Matanya terpejam.


"Pak Alvin!" seru Rina.


Alvin terpaksa membuka mata lagi. "Pelankan suaramu! Saya mau tiduar."


Ujung manik-manik kanan Rina menyipit. "Aku, kan, cuma bilang aja. Kalau Pak Alvin paham, Alhamdulillah."


"Saya nggak ada niatan deketin. Yang saya mau itu tidur dengan tenang seperti malam biasanya."


"Oh ... syukurlah." Rina lega.


"Tidur yang nyenyak, tapi jangan lupa bangun lagi."


Rina terkejut. Kedua bola matanya terbuka sempurna, lalu menoleh ke samping. Wajah Alvin memang tampan, tetapi menyebalkan. "Pak Alvin, doain aku nggak bangun lagi?"


Dengan mata tertutup Alvin menggelengkan kepala.


"Terus, tadi apa?" Rina kesal.


"Kan, saya bilang jangan lupa bangun lagi. Takutnya kamu kelamaan main di alam mimpi."


Sebuah bantal melayang ke badan Alvin. "Aku masih pengen nikmatin masa muda, Pak. Ngeselin banget!" Rina membaringkan badan. Miring ke kiri dengan mulut terus saja mengoceh. hijabnya masih dipakai. Belum berani dibuka didepan Alvin.


Alvin mengambil bantal. Memeluknya. "Nikmatilah semaumu asal jangan ngerepotin orang lain. Nggak usah protes lagi. Cepet tidur. Malam saya kurang indah karena dengar kecerewetanmu!"


Rina bergeming. Masa bodo dengan ucapan Alvin. Matanya mulai terpejam dan siap berlayar ke lautan mimpi. Barangkali di sana bisa bertemu pangeran. Ya, pangeran yang hangat bukan menyebalkan seperti laki-laki di sampingnya sekarang.


Setengah jam berlalu. Alvin membuka matanya kembali. Meyakini jika Rina sudah terlelap lebih dahulu. Lelaki itu bangun, berjalan ke arah balkon hotel dan diam di sana menatap angkasa.


Pernikahan ini bukan rencana awal. Tentu bisa dikatakan sebuah jalan ninja yang diambil. Entah akan berjalan seperti apa? Yang jelas semua hanya Tuhan yang tahu.


"Malam pertama. Kata orang, sih, menyenangkan," gumam Alvin belum ingin beranjak menikmati indahnya sinar rembulan.

__ADS_1


****


Dua hari berlalu. Masa cuti yang diajukan Alvin berkahir. Lelaki itu menyembunyikan pernikahannya dengan Rina. Tentunya demi kepentingan kedua belah pihak.


Alvin masih satu rumah dengan orang tua. Rencananya, ia akan pindah hari ini dengan Rina ke sebuah rumah yang sudah disetujui bersama.


Rina sibuk di dapur setelah salat Subuh. D sini, banyak yang ia pelajari. Entah resep baru atau kehangatan keluarga yang sudah lama hilang dari ingatannya.


"Nak, kamu potong bawang merahnya, ya. Biar Ibu yang siapkan bumbu pelengkap," kata Bu Lala sambil mengiris kol.


Menu sarapan mereka kali ini adalah soto ayam. Sebuah menu yang sangat disukai Pak Arga dan Alvin. Dua lelaki yang paling antusias saat dihidangkan menu tersebut.


"Iya, Bu." Mata Nina mulai mengeluarkan cairan bening, menangis.


Bu Lala memperhatikannya. "Kamu nangis, Sayang?"


"Bawangnya jahat, Bu."


Tawa Bu Lala pecah. Dua hari ini ada temannya bercanda. Ada tempat meluapkan kasih sayang selain pada Alvin yang memang sudah dewasa. "Kalau gitu, biar Ibu aja yang ngiris."


Rina menolak. "Nggak pa-pa, Bu. Ini belum seberapa. Coba kalau pedagang bawang goreng, mungkin air mata mereka bisa habis."


Lagi-lagi jawaban Rina membuat Bu Lal tertawa kencang. Alvin datang. Mengamati interaksi keduanya seraya duduk di kursi meja makan. Tawa itu sudah lama tidak ia dengar. Suara yang begitu indah dengan irama yang senada.


Rina diam. Meneruskan kegiatannya yang memang terasa menyiksa mata. Semangat!


"Ini, lho, Nak. Istrimu itu selalu aja bikin happy. Ibu, senang banget." Ungkapan itu berasal dari hati. Jelas akan terasa menyentuh jiwa. "Beruntung banget Ibu dapatin menantu seperti Rina. Anaknya baik, ceria, nurut lagi. Pokoknya, paket komplit."


Alvin tercengang. Begitu takjub ibunya pada Rina. Tentu karena sang Ibu tidak tahu sifat tersembunyi dari menantunya.


"Belum tau aja gimana galaknya," gumam Alvin pelan.


Rina mencincang keras bawang merah. Menakutkan.


"Sayang, jangan keras-keras," tegur Bu Lala. Sepertinya hanya Rina yang mendengar gumaman Alvin. "Kamu kenapa?"


Rina tersadar. Malu juga. "Maaf, Bu. Saking antusiasnya cincang bawang."


"Masya Allah, Nak." Bu Lala tersenyum lagi.

__ADS_1


Kening Alvin mengerut. Mungkinkah? Namun, ia sudah menurunkan ritme suaranya barusan. Mana mungkin.


Bawang selesai. Bumbu yang lain pun. Alvin masih di sana. Sekarang berdua dengan ayahnya.


"Nak, kamu yakin mau pindah hari ini?" tanya Pak Arga.


"Iya, Yah. Lagian udah seharusnya Alvin pisah. Sudah punya istri juga," jawab Alvin dengan yakin dan mantap.


Bu Lala menyicipi kuah soto. Mantap. Ia pun mematikan kompor, menyuruh Rina untuk menyiapkan menu pelengkap di meja makan. Rina membawa nampan yang di atasnya banyak berbagai pelengkap dari mulai irisan kol, tomat, suwiran ayam, bihun, telur rebus, sambal, dan bawang merah goreng. Menggoda lidah mungkin.


"Semuanya udah beres? Perabotan rumah?" Pak Arga memastikan agar anaknya tidak lupa.


Rina sampai di meja makan. Menyimpan nampan itu dan mulai menata piring yang di atasnya agar di meja.


"Alhamdulillah, semua udah selesai, Yah. Kami pilih perabot rumah yang minimalis dan nggak banyak makan tempat," jawab Alvin.


"Syukurlah. Jangan lupa keamanan rumah juga. Siapkan satpam, pembantu untuk istrimu. Dia juga masih perlu mencari ilmu di kampus."


"In syaa Allah, Yah."


Bu Lala membawa kuah soto di panci kecil. Berjalan ke arah meja makan dan menaruhnya di tengah.


"Padahal tinggal di sini aja, Vin. Ibu, senang ada temannya," imbuh Bu Lala. Kehadiran Rina membawa warna tersendiri. Seakan memberi semangat baru di rumah ini. "Biar Ibu ada yang diajak bicara. Kadang Ayahmu banyak tidurnya kalau di rumah."


Puluhan tahun menikah, Bu Lala masih saja sering menggoda sang Suami. Namun, Pak Arga sudah terbiasa.


Rina menahan tawa. Tak menyangka mertuanya punya sifat seperti itu.


"Jangan ditahan, Bu. Mereka juga butuh waktu berduaan. Pacaran setelah menikah, kan, memang menyenangkan," kata Pak Arga. Wangi soto menusuk hidung. Menggoda perut sampai membuatnya berdemo. Ingin diisi.


Rina duduk di dekat Alvin, begitu pun dengan Bu Lala yang selalu bersama sang Suami.


"Benar juga, Yah. Kali saja nggak lama lagi kita bisa nimbang cucu." Bu Lala mengukir senyum.


Alvin yang kala itu sedang minum pun seketika tersedak, sedangkan Rina menunduk karena malu.


"Semoga aja, Bu. Makanya, kita harus rayu Allah setiap habis sholat biar cepat dikabulkan."


"Aamiin."

__ADS_1


Alvin dan Rina saling melempar pandangan. Bayangan bayi ada di antara mereka menari-nari di mata keduanya. Sungguh ... sulit dibayangkan.


#######


__ADS_2