Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Jaga hati


__ADS_3

Rina pergi ke supermarket setelah pulang dari kantor Alvin. Perempuan berhijab itu menggunakan transportasi umum yang ada. 


"Mas Alvin kayaknya suka makan sambal cumi. Aku coba buat lah," kata Rina mengambil sekotak cumi di etalase. Tak luput beberapa bumbu yang memang diperlukan. 


Mengingat Alvin itu anak Bunda yang suka dengan masakan rumahan. Entah dia itu memang gemar atau memang menyebalkan. Jarang sekali mengajak Rina ke tempat mahal seperti restaurant.


"Kadang ngeselin juga, sih. Tapi, suami sendiri. Kalau dibuang, sayang." Rina terus saja berbicara seperti orang gila, sampai anak laki-laki yang baru berusia lima tahun memandanginya.


"Bunda, Tante itu kenapa?" Telunjuk tangan si Anak mengarah pada Rina. Seorang Ibu muda berdiri di samping si Anak. "Dari tadi tantenya bicara sendiri."


Rina melirik sekilas. Bertemu pandangan dengan netra si Anak.


Ibu muda itu menggeser anaknya lebih jauh dari Rina seakan takut. "Jangan diganggu, ya, Nak. Takut tantenya marah."


Rina melongo. Mereka pergi.


"Astagfirullah, aku disangka orang gila." Rina heran. Akan tetapi, tak ingin banyak bicara. Dengan cepat mendorong troli ke arah etalase sayuran. Memilih brokoli, wortel dan beberapa sayuran lainnya.


Belanja selesai. Pembayaran pun dilakukan. Rina segera pulang karena malam akan datang. 


Senja menyapa semesta. Rina bisa melihat keindahan itu dari bus yang ditumpangi. Indah sekali. Mereka datang ketika dunia selesai mengerjakan misi siang hari. Seakan memiliki arti jika di akhir hari akan selalu ada keindahan yang sulit ditebak.

__ADS_1


"Kamu cantik," gumam Rina.


Perjalanan menuju rumah tidaklah memakan waktu yang lama. Rina sampai ketika kumandangan azdan terdengar. Bergegas menyimpan belanjaan dan membersihkan diri.


Setelah melewati berbagai rangkuman kejadian, perempuan itu menghadap Tuhan. Bercengkrama melalui salat dan doa. Melantunkan untaian dzikir serta aya-ayat suci Al-quran. Damai sekali.


Lima belas menit selanjutnya Rina turun. Alvin belum pulang, apalagi Dani. Perempuan tersebut memilih membereskan belanjaaan serta memulai masak.


Dengan menggunakan celemek kesayangan, Rina mulai bertempur. Cabai yang digunakan pun tidak tanggung-tanggung, sekitar seperempat kilo. Cuminya sendiri pun sama. Rasanya akan nendang, mungkin.


"Pasti habis ini mata melek." Rina terkekeh geli sendiri.


Di tengah peperangan masak, rupanya Alvin datang. Masuk sembari mengucap salam, hanya saja Rina tak mendengar. Lelaki itu menghampiri ke dapur. Menemukan sang Istri sedang bernyanyi riang dengan tangan kanan mengaduk masakan di wajan.


Kini posisi Alvin berada di belakang Rina. Ingin melangkah, tetapi sebuah kalimat menghentikannya.


"Sambal ini memang pedas, tapi lebih pedas kritikannya Mas Alvin. Kalau biasanya sambal itu level sepuluh paling gila, omongan Mas Alvin bisa level tiga puluh. Pedes banget," gerutu Rina yang belum menyadari.


Alvin diam. Mendengarkan.


Beberapa omelan masih terdengar. Alvin masih saja membungkam. Ingin tahu seberapa kesal istrinya. Tak disangka Rina berbalik badan, membulatkan mata dan berteriak. "Astagfirullah!"

__ADS_1


Alvin menatapnya tajam. Perempuan itu menggigit bibir, bersalah. "Mas, sejak kapan di sini?" Kejadian tadi sore terbayang-bayang di mata. "Mau makan atau mandi dulu, Mas?"


"Siapa yang omongannya paling pedas daripada sambal?" tanya Alvin tegas.


Rina tersentak. Rupanya Alvin mendengar. Pantas saja wajah lelaki itu merah merona karena marah. "Maaf, Mas. Lagian itu fakta, kok."


Pandangan Alvin semakin tajam. Rina takut juga. 


Bermaksud mengalihkan pembicaraan, Rina berjalan ke arah depan. Melewati Alvin begitu saja, tetapi hal di luar skenario terjadi. Entah dari mana air itu berada, yang jelas Rina terpeleset dan hampir terjatuh ke depan.


Alvin reflek menarik pinggang istrinya. Berhasil. Tubuh Rina berada di depan dengan napas memburu. "Kamu ini ceroboh!" Suara napas Alvin bisa terdengar jelas di telinga Rina. Merinding.


Tubuh Rina terpaku. Sulit bergerak. Bernapas pun, sesak. "Mas, sebaiknya mandi dulu." Suara Rina pelan. 


Alvin terdiam.


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Alvin bisa memastikan itu siap. Lelaki tersebut memutar badan Rina sampai menghadapnya. Mengeratkan pinggang sang Istri, hingga tak ada jarak di antara mereka. "Berani menjauh, saya beri kamu nilai C."


Kedua pupil mata Rina membesar. Ancaman Alvin merembet ke hal di luar pernikahan. "Nggak bisa lah, Mas!" Jelas Rina protes.


Mulut masih basah ketika mendadak Alvin mendaratkan kecupan singkat di pipi kanannya. Berhasil meruntuhkan sebuah tembok besar yang sengaja dibangun agar tak jatuh hati.

__ADS_1


Alvin berbisik pelan, "Jaga hati jangan sampai jatuh cinta." Lirikan mata Alvin sekilas mengarah pada ambang pintu. Sudut bibir kanannya menyeringai. "Suatu saat kamu pasti terima kasih sama saya."


__ADS_2