
Rina pergi ke kampus bersama Alvin. Tentu gadis itu meminta turun jauh dari gerbang kampus demi menghindari pertanyaan dari orang lain. Mereka sepakat merahasiakan hubungan ini.
"Nanti siang jangan lupa ke rumah baru. Hari ini harus beres," pesan Alvin sebelum Rina turun dari mobil.
Gadis itu mengangguk pelan. "Ya."
"Senyum dikit. Kamu lagi ngobrol sama suami bukan lagi sama Dosen."
"Ya." Rina melebarkan kedua bibirnya agar tersenyum manis. "Nah, udah, kan?"
Alvin menatap Rina, lalu tertawa kencang.
Kening Rina berkerut. "Kenapa? Tadi Pak Alvin yang minta aku senyum."
Ah, Alvin teringat sesuatu. Tentang nama panggilan. "Kamu mau panggil saya Bapak terus?"
"Sepertinya begitu."
"Yakin nggak mau ganti jadi Sayang atau Honey?"
Kedua pupil mata Rina membulat. Telinganya terasa merah mendengar hal itu.
"Tapi, geli juga." Alvin menjawab pertanyaan sendiri. "Nggak usahlah! Saya juga nggak mau."
Rina semakin mengerutkan dahi. "Pak Alvin ini aneh. Yang nanya siapa. Yang jawab juga siapa. Makanya, Pak, kalau mau gila. Jangan ajak orang lain."
"Sembarangan kamu!"
Rina cepat pamit. Ia harus segera mulai perjalanan. Sebab, bisa saja dirinya ketinggalan kelas.
"Aku pamit dulu, Pak. Assalamualaikum." Rina mempercepat jalannya. Ia harus extra mengayunkan kedua kaki agar bisa sampai tepat waktu.
"Wa'alaikum salam," jawab Alvin.
Mobil Alvin segera meluncur melewati Rina. Hari ini ada tiga mata pelajaran yang perlu ia isi. Belum lagi beberapa rancangan juga perlu diteliti. Mencari uang memang tidak mudah. Maka dari itu, Alvin selalu berusaha hemat dalam mengelola keuangan.
Singkat cerita Rina sampai di gerbang kampus. Mengatur napas lebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan ke dalam. Masih ada satu tangga yang perlu didaki. Ah, ini gila!
Rina terus berjalan. Sesekali menyapa mahasiswa lainnya yang tidak bertemu. Berbincang sebentar.
Begitu sampai di kelas, ia mendapati sosok Caca sudah ada di kelas. Gadis manis itu menunduk. Entah sedang apa.
Rina bergerak pelan, mencoba tanpa suara. Hal ini bisa jadi mengangetkan. Namun, pasti seru. Dengan kencang Rina menepuk kedua bahu Caca. Otomatis gadis itu melompat dari bangku .
"Rina!" serunya ketika melihat Rina tertawa kecil.
Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Sudah biasa.
"Kamu ini kebiasaan!" Caca kembali ke bangkunya. Duduk. "Gimana kalau aku jantungan?"
Rina ikut duduk di dekat Caca. "Ya, kamu yang sakit."
__ADS_1
Caca memukul pelan lengan kiri Rina. "Ih, kamu jahat!"
Rina tertawa lagi. Pelan, tetapi lepas. Beberapa menit kemudian semua orang sudah siap. Rupanya kali ini kelas Alvin yang dihadiri. Sebagai istri sekaligus murid, Rina perlu menyeimbangkan perasaan.
"Eh, Pak Alvin masuk tuh." Caca menyenggol.
Rina santai. Gadis itu masih setia bermain ponsel.
Terdengar bisik-bisik mahasiswi di depan Rina.
"Gila, Pak Alvin emang keren banget."
"Gue mana nolak kalau dia mau."
"Jangankan hatiku. Jiwaku juga rela diambil."
Rina tersentak. Kalimat terakhir yang didengar telinganya menggelitik perut. Ingin tertawa, tetapi sedang kelas.
"Yang sedang sibuk dengan ponsel. Bisa keluar kelas saya!" Tiba-tiba suara Alvin menyapa telinga Rina. Dengan cepat gadis itu menyembunyikan ponselnya di tas. "Saya tidak suka ada murid yang kurang menghormati kelas saya!"
Semua orang diam. Tak ada satu pun dari puluhan yang ada di sana berani menjawab.
"Ok. Sudah siap semuanya?" tanya Alvin lagi.
"Siap." Semuanya menjawab serentak.
"Kita mulai kelas hari ini."
"Silakan cari referensi untuk tugas kali ini. Mainkan imajinasi kalian sebaik mungkin. Kita akhiri kelas sampai sini. Assalamualaikum," ujar Alvin.
"Wa'alaikum salam." Para mahasiswa kembali menjawab serentak. Suasana tegang mulai mencair begitu punggung Alvin keluar dari kelas.
Rina lega. Caca melihat itu.
"Hei, Rin." Tiba-tiba Caca berbisik. "Kamu punya suami ganteng banget. Aku jadi iri."
Rina merinding. Andaikan Caca tahu. "Dia cuma dapat tampang aja." Rina berdiri. Membawa ransel kembali. "Jangan tertipu. Sesuatu yang kamu lihat, belum tentu sama dengan isinya."
Caca membulatkan mata. Rina berjalan lebih dahulu ke arah depan. Sejak menikah, Rina terbilang susah dihubungi. Mungkin karena sudah beda kondisi.
Rina keluar. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah segerombolan mahasiswi jurusan lain sedang mengerumuni Alvin. Entah sedang apa. Langkah Nina tetap teratur. Ia melewati kerumunan itu tanpa peduli apa pun yang terjadi.
"Saya sudah punya pasangan, tapi belum mau diperlihatkan ke publik. Yang jelas, kami berhubungan baik," ujar Alvin.
Kalimat Alvin ini terdengar Rina. Menghentikan ayunan kedua kakinya.
"Jangan terlalu ingin tahu urusan pribadi saya. Itu privasi. Yang tentu punya hubungan dengan saya pun, bisa jadi belum tahu siapa saya. Saya di sini mengajar bukan mengejar cinta!" tegas Alvin.
Sengaja atau tidak, jelas suara Alvin begitu lantang. Ketika lewat tadi pun, ujung netra Alvin melihat Rina sekilas.
"Mohon hormati privasi saya." Alvin meninggalkan kerumunan tersebut. Kali ini dia yang melewati tubuh Rina. Melirik sekilas, selanjutnya berjalan lurus untuk pergi ke kelas berikutnya.
__ADS_1
Rina diam. Matanya menatap punggung Alvin dari sana. Lelaki itu punya tembok tinggi yang tidak bisa diruntuhkan. Namun, setinggi apa pun itu. Rina tidak peduli.
"Dia pikir, aku pengen tau hidupnya. Nggak mungkin! Urusan sendiri aja, pusing!" Rina mengomel sendiri sambil meneruskan perjalannya.
Caca berlarian menghampiri Rina. Menyamakan langkahnya dengan gadis itu. "Rin, anterin aku ketemu cowokku, yuk? Nggak berani sendiri."
Rina menoleh ke samping. "Cowokmu?" Terlihat kedua bola mata Rina kaget.
Caca mengangguk cepat. "Ya."
"Sejak kapan kamu pacaran?"
"Bukan pacaran."
"Terus."
"Itu cowokku."
Rina bergeming. Sulit sekali mencerna kalimat Caca.
"Cowokku itu bukan laki-laki, tapi kucing. Dia mau aku adopsi dari teman kecilku," jelas Caca.
"Astagfirullah, kucing. Aku pikir ..." Rina tersenyum manis.
Caca merangkul lengan kanan Rina. Berjalan santai seraya berkata, "Aku selalu ingat kata-katamu. Sebaiknya sendiri dulu sampai Allah kasih jodoh terbaik. Memiliki hubungan asmara dengan lelaki itu tidaklah mudah. Banyak menyita waktu juga."
Senyum Rina semakin mengembang. Keduanya memang sepakat tidak berpacaran dan memilih menunggu jodoh datang saja. Tak lupa juga terus memperbaiki diri ke jalan yang lebih baik.
"Kita makan apa, ya, hari ini?" Caca terus saja menggandeng Rina.
"Mie ayam," jawab Rina.
"Jangan tiap hari juga."
"Bakso."
"Lagi nggak mood."
"Soto."
"Aku bosan."
Setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya mereka memutuskan untuk mencari makanan lain saja. Barangkali ada hal yang lebih menggiurkan.
Ketika sampai di kantin. Rina menangkap basah Alvin yang sedang bersantai sambil melahap mie ayam dengan dua Dosen wanita muda. Ada juga Dosen lelaki yang duduk di samping lelaki itu.
Rina sempat mengamati bagaimana sikap Alvin pada rekan kerjanya. Ternyata sama saja. Lelaki itu seperti sebuah bongkahan es yang sulit mencair.
"Jangan harap dia mau tertawa. Dunia bisa perang kelima kalau itu terjadi," gumam Rina yang membuat penasaran Caca.
#########
__ADS_1