Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Niken


__ADS_3

"Kamu minta pelajaran tambahan dengan alasan apa?" tanya Alvin tanpa basa-basi.


"Pak, saya ini kurang bisa memahami pelajaran Pak Alvin kalau keadaan kelas ramai," kata Niken --mahasiswi yang meminta kelas tambahan.


Alvin menepati janji. Tepat pukul empat sore pelajaran tambahan diberikan Alvin. Hal luar biasa yang bahkan tidak bisa terbayangkan sebelumnya. "Di bagian mana yang tidak bisa kamu mengerti? Saya akan jelaskan secara pribadi di sini."


Alvin berdiri di depan, sedangkan Niken duduk di meja paling depan.


"Benarkah? Secara pribadi?" Nike bertanya balik.


Alvin mencium gelagat yang tak enak. "Tentu. Selama itu masih berhubungan dengan materi yang dipelajari dalam kelas saya."


Niken tersenyum manis, merasa bangga. Rupanya Alvin tidak sesulit yang diceritakan orang lain. "Saya kesusahan dalam mempadupadakan warna untuk satu gaun. Saya juga masih belum bisa menentukan bayangan gaun seperti apa untuk sebuah tema."


Alvin diam. Sebagai perancang busana tentu harus lebih peka dalam hal ini. Bisa memutar otak lebih dalam agar bisa menghasilkan ide segar paling baik.

__ADS_1


"Sebenarnya saya penasaran sejak kapan Pak Alvin punya bakat sebagus ini? Orang tua saya salah satu pelanggan tetap di butik Bapak." Niken menyunggingkan senyum seraya menyebutkan sebuah nama yang tak asing bagi telinga Alvin. "Mereka selalu bilang kalau bisa saya belajar banyak pada Pak Alvin. Bisa berkarir seperti Bapak. Tapi ... saya rasa susah. Bisa berada di puncak seperti ini saja pastinya butuh perjuangan dan pengorbanan. Bisa saja sampai mengorbankan orang lain."


Niken memperlihatkan wajah paling manis. Suasana sedikit menegangkan.


Alvin bergeming. Orang tua Niken menjadi pelanggan tetap sejak berdirinya butik. Sudah tentu tidak asing baginya.


"Kamu harus lebih mengasah diri dengan terus membuat karya. Jangan dulu ciptakan dalam seutas kain, tapi coba gambar dan ekspresikan diri," jawab Alvin.


Mata Niken bermain. Ruangan ini luas, tetapi hanya mereka yang ada di sini.


Alvin tenang. "Saya seorang dosen di sini bukan sebagai teman. Bisa lanjutkan acara pelajaran tambahannya."


Niken menyunggingkan senyum kecil. "Saya tau kartu As Pak Alvin, lho. Gaun merah itu masih ada, kan?"


Mata Alvin terbelakak. Berusaha tetap berada di jalur tenang. "Saya rasa tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Sesi pembelajaran tambahan selesai. Ini pertama dan terakhir."

__ADS_1


Alvin membereskan buku besar yang selalu dibawanya. Bergerak berbalik badan ke samping kanan dan berjalan ke arah pintu.


"Dia masih ada, Pak." Tiba-tiba Niken berkata demikian. "Selama ini kita sama-sama tidak saling kenal. Menarik juga." Niken berdiri. Menatap lekat Alvin yang memiliki bahu selebar harapan manusia. "Dia nggak tau, kan?"


Alvin bergeming. Terus saja menenangkan diri. Semoga perbincangan mereka tidak terdengar orang lain.


"Kepindahan saya ke sini sudah pasti Pak Alvin tau, kan?" Niken tersenyum miring. "Seorang Dosen dengan jam terbang tingi tentunya sudah bisa menebak. Mana mungkin bisa dibodohi."


Atmosfer sekitar sana terasa panas. Bagi Alvin.


"Apa tujuanmu yang sebenarnya?" Alvin berbalik badan lagi. Menatap balik Niken. Namun, ekor mata kanannya menemukan sebuah pemandangan tak terduga di sekitar sana.


"Jangan pura-pura. Saya tidak mungkin melepaskan begitu saja. Kurang tenang hidup kalau seperti itu," jawab Niken.


Alvin mengalihkan pandangan ke sasaran lain.

__ADS_1


"Jangan bersembunyi dibalik sifat diam dan baik, Pak Alvin. Menjijikan!" seru Niken kesal.


__ADS_2