Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Album foto


__ADS_3

Dani pulang setelah berbicara dengan orang tersebut. Senyumnya mengembang penuh kemenangan. Bagaikan takdir yang sudah disusun rapi oleh semesta, pertemuannya dengan orang itu pun terjadi begitu saja. Berharap ini jalan baik menuju kebahagian.


Dani pulang ke apartement. Ponselnya sejak tadi terus saja berbunyi. Banyak pesan yang dikirimkan Keysa untuknya. Namun, Dani memilih mengabaiakan. Lelah jika harus terus bersandiwara.


"Aku mendingan tidur. Capek." Dani merebahkan diri di ranjang. Perlahan, tetapi pasti memejamkan mata pergi ke alam mimpi.


###


Rina sendiri sudah selesai dengan urusan dapur ketika Alvin mengajaknya ke kamar. Jiwa perempuan itu memberontak. Ingin pergi, tetapi kenyataan tetaplah tidak sesuai keinginan.


Sesampainya di kamar, mata Rina mendapati Alvin tengah duduk di kursi dekat meja kerja. Berada di pojok kanan dari ruangan tersebut. Tangan Alvin memegang sebuah album kecil yang berisikan berbagai jepretan foto dari kamera dan ponsel.


Alvin mengangkat kepala. Menatapnya lekat. "Kamu mau lihat?" Tangannya mengangkat album tersebut. "Saya bisa jelaskan dengan pasti."


Rina awalnya ragu. Takutnya justru menimbulkan rasa sakit pada diri. Namun, jiwa penasaran menarik dirinya untuk lebih mendekat pada Alvin. Jika tidak sekarang, kapan lagi? Hubungan sebuah pernikahan harus berjalan dengan baik dan itu dimulai dari kejujuran. Jelas ia belajar banyak dari kejadian Dani. Beruntung Alvin bukan tipe suami yang memandang dari satu arah saja.


Kedua kaki Rina bergerak mendekati Alvin. Berdiri di depan meja dengan wajah menunduk.


Alvin menyimpan album itu di meja. Menyodorkan pada Rina dan berkata, "Kamu bisa lihat isinya."

__ADS_1


Rina bergeming. Jika wanita lain jelas akan langsung menyambar dan melihatnya langsung. Berbeda dengan Rina. Perempuan itu berpikir keras beberapa kali termasuk dampak dari keputusannya.


"Jangan ragu. Kamu perlu mencari tau lebih detail. Setidaknya biar hatimu tidak penasaran," sambung Alvin.


Setelah mendengar itu Rina lebih kuat. Ia mengulurkan tangan dan mengambil album tersebut. Banyak foto Alvin dan seorang perempuan berambut hitam lurus. Manis sekali wajahnya. Bahkan Rina terpana, walaupun perempuan.


"Namanya Nara. Usianya di atas kamu tiga tahun. Anak dari pelanggan tetap butik saya dari dulu," tutur Alvin mulai menjelaskan.


Rina mengamati sosok wanita yang sangat mirip sekali dengan Niken. Bahkan Rina susah membedakan antara Niken dengan Nara.


"Dia itu kembaran Niken, Mas?" tanya Rina ingin memastikan.


Rina terkejut. Ternyata gosip itu memang benar. Kembaran Niken sangat cantik dan manis.


"Dia meninggal lima tahun lalu," imbuh Alvin yang berhasil membuat Rina mengangkat kepala dan menatapnya.


"Me-meninggal?" Rina bertanya balik dengan gugup. Sungguh ini di luar dugaan. "Bukannya kembaran Niken itu masih hidup. Dia sendiri, kan, yang bilang?"


Telinganya tidak salah dengar. Niken memang mengatakan begitu. Entah benar atau tidak.

__ADS_1


Alvin diam sejenak. Dadanya mulai sesak sejak sore hari. Sudah pasti Rina akan mempermasalahkan hal tersebut. Selain lunturnya sedikit rasa kepercayaan pada Alvin, perempuan itu pun sudah pastinya memiliki pemikirannya sendiri.


"Mas, bisa jelaskan lebih banyak lagi? Aku butuh penjelasan yang jujur," tanya Rina yang hatinya kini terdorong untuk lebih ingin tahu.


Alvin menghela napas kasar. Sudah sepantasnya Rina mengetahui apa yang ia sembunyikan dalam hati. Sudah berusaha mengubur agar tidak bisa ditemukan. Akan tetapi, serapi apa pun menyembunyikan bangkai. Jelas pasti akan tercium juga.


"Kamu percaya sama saya?" Sebelum menjelaskan banyak hal. Alvin lebih dahulu bertanya, "Kalau kamu percaya, pastinya kamu bakal bisa menilai mana yang baik dan buruk. Mana yang menurutmu benar atau bohong."


Rina menatap dalam suaminya. Mengamati setiap gerakan bola mata Alvin yang pastinya penuh arti. "Aku tanya sebaliknya."


ketegangan mulai terjadi. Aura Rina berbeda. Akvin bisa merasakan keinginan berdebat yang kuat hanya dengan menatap Rina saja.


"Silakan," kata Alvin.


Dada Rina naik turun merasakan lonjakan emosi yang datang secara tiba-tiba. Ini seharusnya tak ada. Barangkali muncul akibat melihat foto di album.


"Apa Mas sayang sama aku?" tanya Rina begitu saja.


Alvin tersenyum miring. "Saya rasa, ya." Lelaki itu tidak menampik sedikit pun. "Memangnya kenapa?"

__ADS_1


Rina diam. Hanya pandangannya saja yang tajam. "Kalau Mas sayang, artinya Mas wajib terbuka tanpa aku tanya. Kalau tidak, jelas Mas bakal milih menutupi separuh."


__ADS_2