
Resepsi telah dilewati. Rina akhirnya selesai menyambut tamu, walaupun dengan hati berdebar. Sorot mata sosok itu begitu lekat padanya. Namun, Rina tetap berusaha tersenyum.
Rina membaringkan badan di atas ranjang hotel. Lelah. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan kaku. Sungguh ... ini benar-benar menyiksa diri.
"Menikah itu ternyata melelahkan," gumam Rina.
Alvin sendiri masih bertemu seseorang. Entah siapa. Yang jelas, orang itu katanya sangat penting.
"Ngobrol sampai malam juga nggak masalah. Aku pengen tidur pokoknya!" Rina berdiri. Tak mungkin juga tidur dengan memakai gaun pengantin serta riasan.
Hal yang pertama dilakukan adalah mengganti pakaian, kemudian menghapus riasan, lalu tidur. Itu siklus yang perlu dilewati.
Merasa aman, Rina membuka sembarangan resleting gaun berwarna putih itu. Tangannya kesulitan, tetapi tetap saja diusahakan. "Astagfirullah, ini tanganku yang pendek atau memang kancingnya panjang banget."
Gadis itu berusaha semampunya. Akan tetapi, nihil. Hasilnya tetap tidak terbuka sepenuhnya. Rina menghela napas kasar, kesal.
Ia menarik napas panjang. Mengembuskannya perlahan. Mencoba sekali lagi berharap kali ini berhasil. Resleting turun setengah, lega. Ia hanya perlu berusaha setengah lagi. Namun, sulit.
Dua detik kemudian, sebuah tangan memegang tangan Rina. Menuntun tangan lembut itu ke bawah, hingga resleting bisa terbuka sepenuhnya.
Rina tertegun, kemudian tersadar. Sontak gadis itu berbalik badan dengan kedua tangan berada di depan dada. "Pak Alvin!"
Lelaki berjas putih itu terdiam.
"Kenapa Pak Alvin bisa masuk?" tanya Rina.
Sorot mata Alvin tajam. "Siapa pun bisa masuk kalau pintunya nggak dikunci."
Mata Rina terbelalak. "Nggak dikunci?"
__ADS_1
"Ya. Bukan saya aja yang masuk. Pencuri pun bisa leluasa."
"Astagfirullah." Rina menepuk keningnya dua kali. Sifat cerobohnya ini hampir mengundang kejahatan. "Terus, kenapa Pak Alvin malah bukain resleting gaun saya tanpa izin? Itu nggak baik. Bagaimanapun kita perlu izin."
Alis kanan Alvin terangkat ke atas. "Saya rasa kamu kesulitan. Jadi, apa salahnya membantu?"
"Tapi, kan ...." Bibir Rina tertutup. Tak mungkin juga membicarakan hal yang tabu ini. Bodoh!
"Apa?" Alvin bergerak selangkah ke depan. Netra Rina memang indah, tetapi jelas ia tahu mana yang harus dilakukan. "Kamu mau ganti pakaian, kan? Cepatlah! Saya mau tidur."
Alvin berbalik badan, keluar kamar lagi, dan menunggu di luar. Tak lupa ia menutup pintu. Tak membiarkan siapa pun masuk melihat istrinya.
"Astagfirullah, gila!" Alvin memejamkan mata. Baru setengah hari terlewati, rasanya ia sudah gila.
Sementara di kamar, Rina bergegas mengganti gaun pengantin dengan setelan tidur berlengan panjang. Ia juga tak lupa menghapus riasan, mencuci wajah, dan memakai lagi hijab. Kali ini Rina hanya menggunakan hijab merah yang tinggal pakai saja, bukan pasmina.
Rina siap. Ia berdiri di dekat pintu. Tak enak hati juga pada Alvin. Tentu ia perlu berterimakasih pada suaminya itu.
Rina masih menunduk tanpa melihat siapa yang ada di depan pintu. Merasa tidak ada jawaban, akhirnya Rina memberanikan diri mengangkat kepala. Kedua bola mata itu membulat sempurna. Yang berdiri tegap itu bukan Alvin, melainkan Bu Lala. Sungguh ... tak tahu harus dibuang ke mana muka Rina sekarang.
"I-Ibu," ujar Rina gugup sekaligus malu.
Bu Lala tersenyum manis. "Suamimu udah selesai ngobrolnya, Sayang?"
Rina salah tingkah. Lebih tepatnya sangat malu. Bisa-bisanya ia ceroboh lagi. Ingin kabur, tetapi tidak mungkin. Memang sudah seharusnya menghadapi kenyataan.
"Ah, Pak Alvin, ya. Sudah, Bu," jawab Rina.
Kening Bu Lala mengerut mendengar panggilan Rina untuk Alvin. Memang benar Rina adalah mahasiswi dari anaknya, tetapi tentu setelah menikah ada panggilan khusus dari istri kepada suami. "Sayang, kamu nggak selamanya panggil Alvin dengan sebutan Bapak, kan? Kalian sudah menikah. Kenapa nggak panggil Mas Alvin saja."
__ADS_1
Mendengarnya saja Rina sudah geli, apalagi harus mengucapkan. Terlebih sikap Alvin yang menyebabkan tersebut, hingga membuat Rina selalu kesal. Mengambil keputusan seenaknya sendiri. Menyebalkan bukan?
"I-iya, Bu. Maaf, aku belum terbiasa," jawab Rina.
"Ya udah, Ibu, cuma mau kasih ini aja ke kamu." Bu Lala memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah. "Ini kalung turun temurun dari Nenek Ibu. Sekarang kamu jadi mantu Ibu, jadi kamu berhak memakainya."
Rina segan. Tangannya enggan mengukur untuk mengambil. Rasanya ia tak berhak akan itu. Sebab, pernikahan ini terlalu mendadak dan ada misi di dalamnya.
"Ambillah, Nak. Ibu, nggak mau terlalu lama mengganggu waktu kalian." Bu Lala meraih tangan kanan Rina, memberikan kotak itu dengan sangat lembut. Sentuhan tangan seorang Ibu tersebut sampai terasa ke sanubari Rina. "Semoga kalian jadi pasangan yang berbahagia dunia akhirat. Ibu, cuma bisa mendoakan."
Rina terharus. Terpaksa menerima benda itu atas dasar tidak enak hati. Ia mengukir senyum semanis madu. "Terima kasih, Bu. In syaa Allah, aku jaga baik-baik benda ini."
Bu Lala mengangguk pelan, selanjutnya pamit pergi karena tidak mungkin mengganggu lebih lama. Rina menunggu di pintu, melihat kepergian ibu mertuanya sampai tidak tampak di mata.
Selang dua menit dari itu, Alvin datang. Melihat sosok istrinya sedang mematung di ambang pintu dengan menatap ke arah kanan. Ia menghampiri, lalu berkata, "Sedang apa kamu di sini?"
Rina kaget. Reaksi membuat kakinya oleng, sehingga hampir jatuh ke depan. Alvin bergerak cepat, menarik tangan kanan Rina. Tubuh Rina tertarik, tetapi kini justru kaki Alvin yang oleng. Sampai akhirnya kedua insan itu terjatuh bersamaan dengan posisi Alvin di bawah dan Rina ada di atasnya.
Mereka saling bertumpuk. Menatap mata lawan tanpa berkedip. Kejadian yang sulit dihindari dan tak terencana ini. Cukup dua menit keduanya berada di fase itu sebelum akhirnya Rina sadar, dan segera berdiri.
Dada Rina naik turun karena terlalu gugup. Kejadian ini di luar skenario yang disusunnya. "Pak Alvin, sengaja, kan, narik aku?"
Alvin baru saja berdiri. Ia menatap punggung Rina dengan lekat. "Saya membantumu, bukan sengaja."
"Tapi, nggak perlu pakai ikutan oleng juga. Kalau tau ujungnya sama aja jatuh, mending aku jatuh sendirian!"
"Siapa yang tau? memangnya saya Tuhan!" Alvin kesal.
"Ya, tapi, nggak usah nyari kesempatan juga!" Rina masih usaha menetralisir rasa gugup dalam diri. Ini terlalu mendadak seperti halnya pernikahan yang berlangsung.
__ADS_1
Alvin berjalan dua langkah ke depan. Mendekati Rina, lalu berbisik dari belakang, "Kalau saya tau ujungnya seperti ini. Memang lebih baik saya biarkan kamu jatuh tersungkur. Bukannya terima kasih, tapi justru malah memaki. Kamu perlu belajar lagi apa itu etika yang baik dan benar!"
*********