Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Dani kedatangan seseorang


__ADS_3

"Apa! Kamu datang!" Dani kaget bukan main. Ia berdiri, bergegas pergi dari ruangannya ke arah koridor kantor yang sepi. Ponsel di telinga masih di dekat telinga. "Jangan mengada-ngada! Aku di sini bukan main, tapi kerja!"


Dani marah. Seseorang di sambungan telepon selalu saja mengganggu waktunya. "Jangan hubungi aku sampai waktu makan siang. Ingat itu!" Sambungan telepon dimatikan. Wajahnya tersirat kekesalan. "Padahal aku udah usaha buat nutupin dari dia! Kenapa bisa ketahuan? Perempuan itu!"


Dani balik. Sebagai karyawan baru di perusahaan kakak tirinya, ia perlu bekerja sebaik mungkin untuk menarik perhatian. Sebab, ada tujuan yang paling penting dari sekadar bekerja saja.


Bayangan Rina menari-nari di mata. Wajah cantik perempuan itu menggoda. Namun, ucapan Alvin di makan malam kemarin memang menjadi peringatan yang harus ia pertimbangkan juga. 


Tangan kanan Dani mengepal di bawah. Rasa kesal bercampur cemburu membuat konsentrasinya hari ini buyar. Ingin segera pulang, tetapi pekerjaan tetap harus terjaga.


"Sialan!" Dani mengutuk diri sendiri.


Waktu terus berjalan, hingga jam makan siang datang. Dani punya janji dengan seseorang. Jika tidak dituruti, sudah pasti orang tersebut akan mengirimkan banyak pesan.


Di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor, Dani berada. Menunggu seseorang yang sebenarnya sudah bertemu seminggu lalu. Hanya saja tidak menyangka bisa menyusul ke sini.


"Hai, Sayang." Seseorang yang ditunggu menyapa dari kejauhan. Beberapa pasang mata tertuju pada Dani. Malu. 


Wanita dengan gaya pakaian modis serta seksi mendekati meja Dani. Mengecup pipi kanan lelaki itu sambil berkata, "Aku sampai mau gila karena nggak ketemu kamu terus."

__ADS_1


Dani memasang wajah manis. Jangan sampai mood menghancurkan rencana. "Aku juga kangen, Sayang."


Wanita itu menarik kursi di depan Dani. Wajahnya cemberut. "Kamu itu sudah banget dihubungi, padahal kamu tau kalau aku nggak bisa digituin." Nadanya kesal. 


Dani sudah menduga.


"Maaf, Sayang, aku kan banyak kerjaan. Apalagi aku ini karyawan baru. Udah pasti harus bisa kerja dengan benar," jawab Dani. Yakin jika Keysa--kekasihnya–bisa paham. "Kamu ngerti, kan?" tanyanya.


Keysa luluh. Tak bisa lama bermuram durja. "Iya, deh. Sayangku ini kan pekerja keras."


"Itu, kamu tau." Dani mengedipkan sebelah mata. 


Seorang karyawan lelaki datang membawa pesanan. Dua piring spagety dan dua gelas es jeruk manis. Sesuai keinginan Keysa.


Keysa menyeruput es jeruk. Cuaca hari ini lebih panas dari kemarin. Wajar saja jika minuman dingin akan lebih laku dari biasanya. "Tenggorakanku rasanya keset, Sayang."


Dani mengikuti permainan Keysa. Jalur yang dipilih perempuan tersebut sambil memperhatikan dengan seksama.


"Kamu sengaja datang ke sini?" tanya Dani penasaran juga.

__ADS_1


Keysa menatap lekat Dani. "Nggak. Aku ada perlu."


Kening Dani mengerut. "Perlu apa?" 


"Ada lah."


"Sama kakakmu?" Dani mencoba menebak.


Perempuan itu menggeleng cepat. "Bukan. Seseorang."


Ingin tahu lebih banyak, tetapi paham sifat Keysa yang terkadang menyebalkan. Maka dari itu, Dani cukup sampai di sini. "Oh … aku kira kamu mau datang ke kakakmu. Bukannya kalian udah lama nggak ketemu? Nggak rindu?" 


Keysa mengangkat kedua bahu. "Nggak tau. Kakak juga nggak rindu, mungkin."


Seutas senyum miring tercetak di bibir Dani. Bagus.


"Lagian aku juga malas ke Kakak. Segalanya harus diatur sesuai keinginan dia. Awal aja kalau sampai dia juga ikut campur urusan percintaanku!" Dari cara bicara Keysa, perempuan itu seperti punya hubungan tidak baik dengan sang Kakak. "Aku sayang kamu. Jadi, kalau dia larang. Aku bakal marah selamanya!"


Sudut bibir kanan Dani terangkat ke atas, menyeringai. Namun, hanya beberapa detik saja. "Jangan seperti itu. Dia itu kakak kandungmu, beda sama aku."

__ADS_1


Keysa memonyongkan bibir. "Tetap aja kesal. Lagian dia itu banyak ngatur, nggak kayak kamu." Rasa rindunya terobati saat melihat wajah Dani. Perasaan yang terus mengganggu, hingga rasanya sulit bernapas. "Kamu lebih pantas aku sebut Kakak daripada dia!" Lagi-lagi Keysa menunjukkan perasaan tidak sukanya pada sang Kakak.


"Siapa pun yang menghalangiku, nggak bakal tenang hidupnya. Termasuk orang yang aku temui hari ini." Keysa tersenyum tipis membuat Dani berpikir keras mencari alur perbincangan sang Kekasih. "Jangan harap."


__ADS_2