Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Bintang kehidupan


__ADS_3

Di tempat lain Alvin berbaring di ranjang hotel dengan resah. Ingin tidur, tetapi mata sulit diajak kompromi. Lelaki itu bangun. Duduk di sisi ranjang bagian kanan. Menatap langit-langit hotel. 


"Padahal ini udah jam sembilan. Biasanya mataku minta tidur kalau di rumah," kata Alvin seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Alvin kembali berbaring. Sekarang mencoba di bagian sisi kiri ranjang. Memejamkan mata dan mendorong diri ke dunia mimpi. Nihil. Hasilnya tetap sama. Jiwanya masih ingin berkeliaran di ramainya semesta. 


Heran? Jelas.


Alvin bangun lagi. Mengecek ponsel yang berada di meja kecil. Tak ada pesan dari pagi. Tidak heran juga. Sudah biasa.


Alih-alih terus bimbang. Lelaki dengan profesi dosen sekaligus desainer tersebut akhirnya memilih keluar hotel. Menghirup udara malam yang tentunya dingin luar biasa. Barangkali harus mencari angin segar agar mata bisa diajak bekerja sama. Semoga saja. Berusaha itu lebih baik daripada hanya diam saja, pepatah mengatakan. 


Alvin turun ke lantai bawah. Bergerak keluar gedung dan melihat sekitar. Ada bangku kecil di dekat taman hotel. Duduk di sana sendiri dengan menatap bintang, mungkin bisa menenangkan jiwa yang resah gelisah ini.


Lelaki itu berjalan ke tempat tujuan. Duduk sendiri, melakukan apa yang ada di pikiran. 


Tenang. Keramaian kota memang masih terasa. Namun, perasaan sepi lebih mendominasi saat ini. Entah apa penyebabnya.


"Kota penuh kenangan, tapi terasa lebih sepi dari biasanya," gumam Alvin. Udara dingin mulai menyelinap ke celah jaket. Menusuk tulang dan masuk ke persendian. Dingin rasanya.


Tak berapa lama seorang lelaki paruh baya datang. Duduk tanpa permisi, sehingga membuat Alvin menoleh.


"Saya cuma ingin melihat bintang," kata Bapak Tua itu.

__ADS_1


Alvin bergeming. Mengamati perlahan, lalu berkata, "Silakan, Pak."


Bapak Tua itu mengangkat kepala. Banyak bintang yang hadir menemani rembulan malam ini. Irism sekali karena mereka begitu setia tanpa batas waktu.


"Bintang dan bulan itu seperti pasangan," tutur Bapak Tua tersebut.


Alvin mengerutkan kening. Tanpa diminta, si Bapak tersebut terus berceloteh.


"Mereka akan bersama melewati malam. Kadang kala bintang juga tidak datang, tapi tentu ada alasannya," sambung Bapak tersebut.


Sampai sini Alvin belum bisa memahami. Ia memilih mendengarkan sampai berada di titik bisa mengerti.


Sesekali Bapak tua itu terdengar menghela napas kasar. "Dulu saya punya bintang yang bersinar terang di hidup. Dia cantik sekali. Warnanya indah dan bisa menyilaukan, tapi …." Mendadak hening seolah ditelan bumi.


"Sayang sekali dia pergi tanpa pesan." Akhirnya mulut si Bapak terbuka lagi.


Alvin mengerutkan dahi. "Maksudnya dia pergi tanpa pesan. Bagaimana, Pak?" 


Pandangan si Bapak beralih pada Alvin. Tersenyum getir, penuh luka yang tersembunyi. "Dia pergi tanpa ada saya di samping. Saat itu saya tinggal dia keluar kota, padahal cuma semalam. Tapi, mungkin ini juga takdir dari Allah."


Alvin tertegun. Ia paham arti bintang di sini. 


"Saya memang menyesal, tapi jalur kehidupan seseorang itu tidak bisa kita tebak. Sehebat apa pun, kita tetap manusia yang lemah." Raut wajah si Bapak penuh penyesalan. 

__ADS_1


Tak banyak kata yang dikeluarkan Alvin. Ia memilih berada di jalur aman, mendengarkan.


"Nak, kamu punya pasangan hidup?" Mendadak Bapak Tua itu bertanya. "Bintang yang bersinar."


Alvin mengangguk. Mengakui akan kehadiran Rina. "Iya. Saya sudah menikah, Pak."


"Bukan menikah, tapi pasangan hidup!" Bapak Tua itu menekan perkataannya.


Alvin kurang paham.


"Banyak orang yang menikah dengan tujuan berbeda. Ada yang tidak mau dijodohkan, ada yang ingin terbebas dari hutang, ada juga yang mau menampik gosip tidak sedap di luaran. Tapi … sayangnya mereka menganggap pernikahan cuma sebatas untuk menutupi itu semua, bukan untuk menjadikan orang yang masuk ke hidupnya pasangan sejati," tutur si Bapak.


"Kalau pasangan hidup artinya dia ada di hati. Mau menikah atau tidak, dia selalu ada di pikiran kita. Dia bintang, pemenang perasaan. Lebih bagus lagi kalau menikah, paket lengkap pastinya," sambung si Bapak Tua.


Alvin bergeming. Mencerna setiap kalimat yang didengar. Menyaring perkataan baik dan membuang sugestif yang buruk.


Si Bapak Tua berdiri, menepuk pundak kanan Alvin dan berkata, "Kalau kamu sudah menikah dan belum paham dia pasangan hidupmu atau bukan. Temui dia sekarang. Tatap matanya dan rasakan apa yang terjadi di hatimu. Kalau bergejolak, dia bisa jadi bagian dari itu. Jangan menunda, kamu bisa menyesal suatu saat nanti."


Setelah mengatakan itu si Bapak Tua tersebut pergi meninggalkan Alvin sendirian. Membiarkan anak lelaki dengan perasaan gelisah tersebut semakin dibuat gila. 


Alvin berpikir matang-matang sekitar lima menit, lalu berdiri dan menarik napas kasar. Menghembuskannya perlahan-lahan.


"Masih belum malam." Alvin menengok arloji di tangan kanan. Lar ke arah gedung tinggi yang seharusnya menjadi tempat beristirahat malam ini.

__ADS_1


Ada banyak pelajaran yang dipetik lewat perjumpaan beberapa detik lalu. Ia paham bahwa bintang bisa pergi tanpa berpamitan pada rembulan, walaupun memang pasti akan tergantikan dengan bintang lainnya. Hanya saja, bintang yang paling dekat mungkin memiliki kesan paling indah.


__ADS_2