
Sebelum pergi ke rumah orang tua, Alvin dan Rina menyempatkan lebih dahulu salat magrib di masjid terdekat. Di mana area salat tersebut masih tidak jauh dari toko.
" Mas, aku ambil wudu dulu sebentar. kamu duluan aja masuk ke masjid." Rina segera pergi ke arah tempat duduk khusus perempuan.
Alvin paham. Ia pun melakukan hal yang sama dengan Rina, lalu masuk ke area masjid paling dalam. duduk tenang menunggu waktu salat yang akan datang sekitar dua menit lagi. keduanya sengaja datang sebelum Azan agar bisa menikmati suasana tentram yang disuguhkan rumah yang Maha Kuasa. rasanya akan sangat nikmat ketika berada di tempat paling aman tersebut.
Rina selesai wudhu. dengan cepat perempuan itu pun masuk ke dalam dan duduk di tempat yang seharusnya. menunggu seperti Alvin dengan beberapa jemaah lainnya. kedua ekor mata perempuan itu menyusuri setiap sudut masjid, ia teringat akan Masa Lalu di mana pernah menangis tersebut di sebuah masjid yang dekat dengan rumah Dani.
Dulu, ia tak menyangka akan bertemu Alvin di tempat yang seperti ini. sekalipun, Alvin baru membuka rahasia tersebut setelah mereka menikah. Andaikan Rina mengetahui lebih dulu, tentu saja rasa malunya akan sangat menggunung melebihi rasa cintanya saat ini. namun, setiap ukir jalan yang sudah ditentukan Tuhan adalah takdir yang harus dilalui tanpa protes sama sekali.
kumandang adzan pun terdengar merdu. Tandanya setiap muslim yang ada di penjuru dunia harus segera pergi menunaikan kewajiban terhadap Tuhan. setelah itu, seluruh jemaah yang ada di masjid tersebut bersiap-siap melaksanakan salat bersama. seorang imam masjid yang sudah sepuh memimpin semua jemaah.
Salat dimulai. Begitu takbir dikumandangkan, jiwa Rina bergetar hebat. Ada tangis yang ditahan dalam diri, ada perasaan yang sukar untuk dijelaskan. Akan tetapi, ia terus berusaha memusatkan pikiran dan diri agar tidak terpengaruh oleh godaan setan ketika salat.
Barisan depan, tepatnya di belakang Imam. Alvin pun merasakan getaran hebat dalam jiwa ketika salat itu terjadi. Sebisa mungkin untuk khusyuk sampai salah selesai. Tidak menutup kemungkinan, perkataan Dani cukup meresahkan jiwa. Pasalnya, lelaki yang memang menjadi sepupunya itu tidak pernah bermain-main pada satu keputusan.
Salat selesai. Baik Alvin ataupun Rina tidak langsung beranjak Pergi dari sana. Keduanya masih menikmati suasana tentram dan damai di rumah Tuhan. Bibir mereka saling mengucapkan kalimat dzikir untuk membasahi jiwa dan menentramkan hati. Sebaik mungkin melupakan apa pun yang terjadi dan akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi ke depannya, Baik sebagai pasangan ataupun pribadi sendiri.
Lima menit setelah itu, Alvin beranjak berdiri. bergerak ke arah saf perempuan, lalu mendapati sosok perempuan yang kini tengah berdoa sambil berlinang air mata. Hal ini mengingatkannya kembali pada masa lalu, terasa seperti Dejavu.
__ADS_1
Di masa lalu, Rina pernah memberikan pemandangan tersebut tepat di depan matanya. dan saat ini pun wanita itu melakukan hal yang sama. Entah ini sengaja atau Memang rencana Tuhan, tetapi Alvin merasakan gejolak Jiwa yang tak bisa dipungkiri.
Setiap kata yang keluar dari mulut Rina menjadi perhatian bagi Alvin. terlebih perempuan itu meminta yang terbaik untuk rumah tangganya dengan Alvin, tentu saja Alvin merasa tertantang untuk membuktikan pada Rina bahwa ia bukan lelaki yang senang bermain-main. termasuk untuk urusan pernikahan.
Rina selesai berdoa. Menurunkan kedua tangan dan menoleh ke samping kiri lalu menemukan sang suami sambil tersenyum kecil. "Mas, lagi apa di sana?" perempuan itu segera membuka mukena dan melipatnya kembali. dari arah kiri, Alvin mendekati dirinya lalu duduk di samping. "Mas udah selesai dzikir-nya?"
Alvin bergeming. Hanya tatapan penuh cinta yang diberikan sebagai jawaban. Tentu saja perbuatan ini membuat Rina semakin mencerca dirinya dengan berbagai pertanyaan.
Rina mengembalikan mukena ke tempat. duduk lagi di mana ia salat lalu menoleh ke samping kiri. kini keduanya duduk saling menatap satu sama lain.
"Mas, kenapa, sih?" tanya Rina.
Alvin terdiam.
Tanpa diduga Alvin langsung menarik tubuh Rina masuk dalam pelukan. Kedua tangannya mengusap pelan punggung perempuan yang kini sudah menjadi istri sah. " Rina, aku pernah lihat kamu menangis di masjid waktu itu. Dan, sekarang aku juga melihat kamu menangis, tapi konteks menangisnya berbeda."
Rina tersentak. Rupanya bukan hanya Ia yang merasakan masuk ke masa lalu. Untung saja Suasana masjid sudah tidak seramai tadi, bahkan bisa perempuan hanya tinggal Rina saja. sehingga, mereka tidak terlalu canggung satu sama lain.
"Kamu mau tahu tidak doaku setelah keluar dari masjid waktu itu?" tanya Alvin.
__ADS_1
Jelas aja Rina mengangguk cepat. Ingin tahu lebih lanjut tentang perjalanan pertemuan mereka dahulu. Memangnya apa, Mas?"
tangan kanan api mengusap pucuk kepala Rina yang terbalut hijab. Pelan tetapi penuh dengan cinta. "Aku berdoa bisa berjodoh denganmu. Tidak peduli kamu akan ditemui dalam keadaan apa pun. Aku memohon di setiap sepertiga malam, seperti sedang merayu Allah. Dan, lihatlah sekarang, permainan semesta itu mengantarkanmu ke pelukanku."
Rina terharu. Membalas pelukan dan menikmati kehangatan yang bisa dirasakan luar biasa di jiwa. Tidak menyangka kisah mereka akan berakhir dengan indah. "Mas, bilang aku cinta kamu dong biar aku percaya."
Kedua bola mata Alvin terbelalak, lalu menjauhkan tubuh Rina darinya. Memalingkan mata dan berkata, "Eh, udah malam. Ayo, cepat pulang!" lelaki itu berdiri cepat dan pergi begitu saja. Yang pasti hal ini didasari rasa malu.
Rina melongo. Ikut berdiri dan menyusul Alvin ke luar dengan mulut terus mendumel "Sekali aja, Mas. Aku cinta kamu." Ia memakai sandal dan terus berjalan ke arah mobil menyusul Alvin.
Rina merajuk sampai masuk mobil, bahkan sampai Alvin menyalakan mobil. Rina masih belum selesai berbicara, perempuan itu terus berusaha keras agar Alvin membuka mulut.
Alvin hendak menjalankan kendaraan, tetapi Suara berisik dari Rina terus saja terdengar hingga mengusik dirinya.
"Ayolah, Mas!" Rina mulai kesal. Wajar saja begini karena dia merasa sangat bahagia. "Mas, nyebelin." Perempuan itu memalingkan wajah ke samping kiri, terlalu kasar. Namun, hal paling mengejutkan dilakukan Alvin. Lelaki itu menarik dagunya, lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir secara singkat, tetapi membekas di jiwa Rina.
"Jangan berisik. Aku nggak perlu bilang cinta, karena cintaku ridho karena Allah. Kamu nggak akan kuat kalau dengarnya. Cukup nikmati saja." Suara Alvin lembut dan hampir menghanyutkan Rina. "Istri baik, kita pulang dan tidur malam ini."
Jantung Rina dibuat meledak dengan perlakuan Alvin. Setelah itu, Alvin langsung menjalankan kendaraan ke arah luar pekarangan masjid. Semoga saja kisah mereka akan terus didominasi kebahagian selamanya.
__ADS_1
####
TAMAT.