
dua hari berlalu setelah kejadian itu. Alvin dan Rina pun mengumumkan pernikahan mereka pada publik. Alvin di sini berperan sebagai seorang dosen sekaligus suami untuk Rina selama di kampus.
hal ini jelas mengejutkan seluruh isi kampus. sejak pengakuan Alvin, Rina bahkan mendapatkan berbagai Respon yang kurang menyenangkan. kaum hawa di gedung tersebut belum menerima Rina sebagai wanita pilihan Alvin. Namun, perempuan berhijab tersebut tidak peduli apapun.
seperti halnya siang ini, Rina dan Alvin makan di kantin bersama. beberapa pasang mata dari wanita di sekitar setuju pada mereka. terutama untuk Rina.
"Sayang, malam ini kita pulang ke rumah ibu. " Alvin sedang menikmati mie ayam yang merupakan menu paling diminati oleh mahasiswa juga dosen. "Ibu sama ayah katanya kangen sama kita."
panggilan "Sayang" dari Alvin kepada Rina, memicu semakin rasa benci dari beberapa jiwa perempuan di sekitar sana. namun, hal ini tidak sama sekali mengganggu kemesraan mereka. Rina sendiri melakukan feedback dari perlakuan manis Alvin. perempuan berhijab merah tersebut tersenyum manis seolah senang bukan main dipanggil dengan kalimat manis. " Oke, Mas. aku juga kangen sama ibu juga Ayah. Tapi, aku agak was-was juga."
__ADS_1
Alvin yang acuh pada sekitar langsung mengerutkan kening Seraya berkata, "Memangnya kenapa?" pria yang memakai kemeja hitam tersebut merasa orang tuanya bukaah sesuatu yang harus ditakuti. bahkan, sang Ibu juga Ayah sangat senang sekali mendengar dirinya dan Rina akan menginap. "Anaknya saja sudah jinak apalagi induknya. " Alvin tertawa kecil.
Rina terkejut. "Astagfirullah, Mas, nggak baik loh bilang seperti itu. "Rina menggelengkan kepala beberapa kali pertanda heran dengan perkataan Alvin.
Alvin seketika mengucap kalimat istighfar dua kali. Bercandanya memang terlalu melampaui batas. " Maaf, Sayang, aku lupa."
"Jangan ngomong gitu loh, Mas. Walaupun bercanda, tapi kalau menyangkut tentang orang tua itu memang nggak baik. Aku hidup tanpa orang tua sudah lama, jadi Mas yang masih punya orang tua sebaiknya lebih berhati-hati dalam berbicara." Rina disini bertindak seolah menjadi seorang dosen yang sedang memberikan arahan pada Alvin.
Rina menelan ludah. Dua hari ke belakang, Alvin memang sudah beberapa kali bertanya tentang hal ini. ia sendiri belum bisa memastikan, apakah siap atau tidak untuk perihal anak. akan tetapi, pernikahan yang sebenarnya adalah memastikan buah hati ada di antara mereka. tentu hal ini bisa berjalan ketika Tuhan sudah menentukan.
__ADS_1
Alvin berusaha untuk tidak memaksa kehendaknya pada ringan. pada dasarnya, Rina berhak memilih untuk memiliki momongan ataupun tidak. bukan ia tidak punya pendirian sendiri, tetapi menikah bukanlah tentang memaksa ego kita pada pasangan, melainkan bisa berjalan bersama bergandengan tangan untuk terus menjadi lebih baik. "Aku paham bahwa kamu belum bisa menerima sepenuhnya tentang hal ini, tapi kalau boleh usul coba pikirkan dengan matang." Cara bicara Alvin sudah mulai santai dan tidak lagi memakai bahasa terlalu formal.
Rina mengukir senyum kecil. pandangan beberapa wanita masih saja tertuju padanya, begitu tajam dan seakan ingin menerkamnya dalam keadaan hidup. Sungguh ... Ini ini lebih mengerikan daripada hutan rimba. " Mas, kalau seandainya Allah kasih kita rezeki anak, kamu mau berapa?" Rina sengaja bertanya hal itu.
Entah ini Iseng atau memang keinginan Alvin sebenarnya, dengan cepat pria itu menjawab, "Kalau misalnya aku diberi kepercayaan sama Allah tentang anak. jelas saja aku tidak akan menyia-nyiakannya."
perasaan Dina tidak enak. biasanya, hal ini akan menjerumus pada sebuah keterkejutan yang luar biasa. "Jangan bilang kalau Mas mau 11 anak?" hati Rina berdebar kencang, berharap firasatnya tidaklah benar.
Alvin menyimpan Garpu di mangkuk mie ayam. lengkungan senyum bak rembulan pun dipersembahkan pada sang istri. "Kamu Ternyata istri yang sangat peka. " senyum itu terus merekah di wajah Alvin.
__ADS_1
sontak Rina berdiri dan berkata, "Apa sebelas anak!" suaranya cukup kencang, sehingga orang lain bisa mendengar. tentu saja pandangan wanita yang tidak menyukai Rina semakin tajam sempurna.