
Rina keluar rumah sakit keesokan harinya ditemani sang Suami dan sahabat.
"Saya ada urusan di butik dan harus ngajar. Kamu bisa tunggu di rumah. Jangan pergi ke mana pun selama saya tidak ada!" Tak lupa Alvin berpesan sebelum meninggalkan istrinya.
Rina sendiri juga tidak masalah. Diam di rumah bisa membuat jiwanya sedikit tenang. Sebab, melihat seseorang yang ternyata ada di rumah sakit sama memang terasa menyakitkan. "Dia ada di sana." Helaan napas itu terdengar berat.
Siang ini hujan datang. Semesta rasanya senang, mungkin mereka memang rindu. Layaknya dua sejoli yang sudah lama berpisah dan kini bersama lagi. Rina duduk di kursi dekat jendela. Sengaja membukanya lebar agar bisa menatap betapa deras juga harum wangi tanah yang tersiram hujan.
Sekilas pikiran perempuan tanpa hijab itu teringat kejadian di rumah sakit malam tadi. Di mana Alvin mengatakan bertemu Dani dan mereka akhirnya mengunjungi. Keadaan Dani bisa dikatakan sangat parah, sebab mengalami tusukan di perut. Kasihan juga.
__ADS_1
"Seharusnya dia nggak perlu seperti itu." Rina masih enggan pergi dari sana. Lebih baik seperti ini dulu. Membiarkan diri merasakan ketenangan yang sangat dirindukan dan hanya dipersembahkan oleh sang Hujan. "Aku bersyukur bisa ada di posisi sekarang. Setelah lewati semua kesakitan, akhirnya bisa menemukan titik paling indah."
Perempuan dengan rambut panjang tergerai itu merasakan kasih sayang Tuhan setelah badai cobaan melanda. Ia berterima kasih pada diri sendiri, karena sudah berusaha kuat sampai sejauh ini.
Rina diam sejenak. Memutuskan untuk tetap ada di sana sambil membaca buku. Sebuah cerita novel dari seorang penulis yang sangat ia kagumi. Kisah yang ditulis pun luar biasa menarik. Mengajari pembaca dengan berbagai pengalaman kisah asli si Penulis. Untaian kalimatnya indah dan seakan layaknya syair berirama. Manis dan menenangkan.
Setengah jam berlalu, ketika Rina berada di kehanyutan kisah cerita. Suara pintu terbuka bersamaan dengan derap langkah kaki seseorang datang. Rina menoleh ke arah pintu, menatap sang Suami datang dengan tatapan lekat. "Mas." Kedatangan Alvin penuh tanda tanya. Bukankah lelaki itu mengatakan akan sibuk hari ini? Lantas, mengapa justru ada di sini sekarang?
"Mas, ada apa?" Rina kaget sekaligus penasaran. Tangan itu menutup buku. "Apa ada yang terjadi?" Perempuan manis itu berdiri, menatap lekat Alvin yang kini berhadapan dengannya. "Mas."
__ADS_1
Alvin bukannya menjawab, tetapi justru diam seribu bahasa. Berhasil menarik diri Rina yang kian terjeblos ke dunia penasaran semakin dalam. Membiarkan perempuan itu terombang-ambing di lautan tanpa tujuan.
"Mas, jangan bikin takut, deh." Rina mencoba menetralkan perasaan. Mungkin Alvin sedang memiliki masalah besar. "Muka Mas Alvin tegang banget."
"Jangan bercanda!" Suara Alvin tegas dengan sorot mata sulit diartikan. "Ini bukan waktunya bercanda!"
Kedua bola mata Ririn membulat sempurna. Perubahan Alvin begitu cepat. Padahal saat berangkat tadi sangat lembut dan manis. Sepertinya ia sedang tertipu. "Siapa yang lagi bercanda, sih, Mas!" Rina tak takut. Merasa tidak salah. "Mas ini aneh, tadi berangkat adem ayem. Eh, tiba-tiba pulang lagi dengan mode beda. Astagfirullah." Ia mengusap dada dua kali. Heran
Alvin terus saja menatap tajam, lalu berkata, "Kamu harus dengar ini baik-baik. Saya cuma mengucapnya sekali!"
__ADS_1
Kalimat itu berhasil membuat Ririn menelan ludah. Alvin benar-benar dalam mode serius.
"Jangan berani menyela!" Alvin menambahkan juga.