Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Jangan pergi


__ADS_3

Alvin kembali ke ruangan dosen. Ada satu kelas lagi yang harus diselesaikan hari ini. Belum termasuk tugas mahasiswa yang perlu diperiksa. 


"Semangat!" Dalam hati Alvin memberi semangat agar segera bisa pulang dan menemui Rina.


Lelaki itu berkerja sebaik mungkin. Sekali pun sudah memiliki penghasilan dari butik, ia perlu mencari peluang untuk mengamalkan ilmu yang sudah susah payah didapat. Berbagi pengalaman sebisa mungkin dengan calon desainer mendatang.


Ronal mendekati meja Alvin. Berdiri di samping Alvin dan berkata, "Pak Alvin sepertinya sedang banyak masalah." Tanpa basa-basi lelaki itu langsung ke inti pembicaraan.


Alvin yang tengah memeriksa tugas pun terpaksa mengangkat kepala. "Memangnya kenapa, Pak?" 


Ronal tersenyum tipis. "Wajah Pak Alvin kurang bergairah."


Alvin menyikapi dengan bijak. Ia tetap tenang. "Mungkin karena saya terlalu pusing dengan pekerjaan."


"Ah, bisa jadi." Ronal memahami akan hal itu. Ia pun mengalami. "Oh, ya, Pak, saya kasih tau, ya." Nada bicara Ronal berubah serius. Tatapannya pun lekat. Berhasil membuat Alvin merinding. 


"Kalau masih pengantin baru itu jangan sampai nunda kehamilan. Nanti lama dapatnya," saran Ronal.


Sebenarnya Alvin risih jika sudah membahas masalah pribadi. Bukan ia tak suka diberi saran. Hanya saja kurang beretika seseorang jika ikut campur perihal masalah kehidupan pernikahan orang lain. Seperti halnya momongan, selain memang hanya Tuhan yang tahu. Itu pun menjadi pembahasan yang seharusnya dibahas dengan pasangan saja.


"Teman saya saja ada yang lama sekali dapat momongan karena dua tahun ditunda." Ronal berbicara seakan ia tahu segalanya. "Makanya, saran saya sih jangan ditunda. Cepat aja."


Alvin masih sabar. Sudah paham sikap Ronal yang suka dengan permasalahan orang lain, meskipun orang itu tidak meminta pendapatnya.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena Pak Ronal sudah membuang waktunya untuk memberi saran. Tapi … kalaupun istri saya hamil. Tidak perlu diberitahu banyak orang," jawab Alvin cepat.


Ronal tertegun. Memilih lawan bicara seperti Alvin memang salah. Seharusnya ia diam saja. Ia menepuk pundak kanan Alvin. Melunturkan rasa malu dalam diri. "Santai saja, Pak. Saya cuma kasih saran. Memang sebaiknya sih tidak usah dikasih tau. Takutnya kena ain."


Alvin tersenyum kecil. "Pak Ronal lebih paham daripada saya. Apalagi pengalamannya lebih banyak."


Ronal mengangguk-anggukan kepala cepat. "Ya, betul itu." Wajahnya penuh malu, tetapi tetap saja tak ingin terlihat. "Saya permisi dulu, Pak."


"Silakan, Pak."


Ronal kembali ke tempat duduk. Alvin sendiri meneruskan pekerjaan. 


Waktu terus berjalan sampai waktu Ashar pun tiba. Sehabis shalat dan mengisi kelas terakhir, Alvin langsung tancap gas keluar dari gedung kampus. Mengingat Rina katanya sudah menunggu. Belum lagi cuaca mendung. Awan hitam menggantung di angkasa.


Mobil Alvin keluar dari area kampus. Terus berjalan di jalanan sekitar empat menit, lalu berbelok ke kanan. Bergerak ke halte bus di seberang sana dan melihat sosok sang Istri sudah menunggu.

__ADS_1


Mobil Alvin berhenti di depan halte. Memberi klakson pada Rina yang langsung menyadari kedatangannya. Perempuan manis itu pun bergerak ke arah mobil. Masuk sambil berkata, "Mas, lama!'


Omelan tersebut menyapa telinga Alvin. Merdu baginya. Entahlah. Mungkin karena sudah cinta atau memang sudah terbiasa. Sepertinya beda tipis.


Rina memakai sabuk pengaman. Alvin menatapnya. "Bukannya salam."


Rina cengengesan. "Astagfirullah, maaf, Mas. Habisnya kesel, sih."


"Jangan ngomel terus. Kelamaan salamnya!" Alvin kembali menyetir setelah memastikan Rina siap. 


"Assalamualaikum, Mas Alvin," kata Rina.


"Wa'alaikum salam, Mahasiswaku," jawab Alvin


Keduanya saling meledek. Tak ada tembok di antara mereka. Melupakan masa lalu di antara keduanya yang kelam.


"Malam ini kita makan di luar, ya," imbuh Alvin.


"Tumben, Mas. Ada apa?" Rina kurang percaya jika itu suaminya. 


Alvin menoleh ke samping sekilas. "Kamu nggak mau? Ya sudah, saya ajak istri orang lain saja."


"Kalau mau seru, kamu harusnya nikah sama pelawak!" Alvin mendadak ketus.


Rina mengerutkan kening. "Mas, lagi dapat, ya?" Pertanyaan gila itu keluar begitu saja dari mulut perempuan berhijab tersebut. 


"Iya." Alvin tak ingin ribet.


Mata Rina melotot. "Astagfirullah, Mas. Eling, Mas. Mana ada laki-laki dapat."


"Ada lah." Alvin seakan berbicara dengan anak seumurannya. "Dunia ini udah gila. Yang tidak masuk akal saja, sekarang ada."


"Contohnya?" 


"Kamu sudah besar, pasti paham pembahasan ini." Alvin masih saja kesal.


Rina mengendus kesal. Bertemu Alvin justru membuat moodnya hancur. Padahal tadi ia biasa-biasa saja.


Mobil Alvin sampai di rumah. Mereka akan membersihkan diri lebih dulu dan berangkat setelah shalat Magrib.

__ADS_1


Rina yang ikut kesal pun keluar dari mobil begitu saja. Masuk rumah dan berjalan tanpa menunggu Alvin lebih dulu. Namun, hal di luar dugaan menghampirinya. 


Alvin berada di belakang. Menarik tangan kanan Rina, membalikkan badan istrinya, menariknya ke pelukan.


Rina tersentak. Serangan ini terlalu mendadak. Kini wajahnya berada di dada bidang Alvin yang terbalut kemeja. Tangan Alvin memeluk erat.


"Mulai sekarang berangkat atau pulang harus sama-sama. Mau pergi ke mana pun harus sama saya. Paham?" tanya Alvin.


Rina dibikin kaget. Sejak kapan suaminya bisa seposesif seperti ini? Aneh saja.


"Mas," panggil Rina pelan.


Detak jantung Alvin terdengar begitu cepat. Rina bisa merasakan ada yang tidak beres pada suaminya.


"Saya tau kamu milik Allah. Saya paham kalau kamu cuma titipan, tapi …." Alvin diam sejenak. Susah sekali meneruskan. "Saya akui rasa ini mendesak saya untuk egois. Jangan menjauh, jangan pergi, jangan memilih yang lain. Kehilangan di lima tahun lalu mengajarkan saya kalau kita tidak tau sampai kapan bisa bersama."


Hati Rina tersentuh. Kalimat Alvin dirangkai semanis mungkin. Sungguh … siapa pun yang mendengarnya akan melayang ke udara. Semoga saja tidak dihempaskan begitu saja. Pastinya sakit luar biasa. 


"Mas, kenapa?" tanya Rina. Alvin sama sekali tidak melepaskan pelukannya.


Alvin diam sejenak. Pandangannya lurus ke depan. "Saya cuma kita sama-sama terus. Kecuali."


"Kecuali apa, Mas?" 


"Kecuali kalau saya ke kamar mandi. Setor tunai. Jangan ikut, ya." Alvin tertawa kecil.


Layaknya layangan yang sedang menikmati terbang, lalu tiba-tiba putus dan akhirnya hinggap di pohon tinggi. Rasanya marah sekali. Bisa-bisanya Alvin bercanda di saat suasana semanis ini.


Rina memberontak dari pelukan Alvin. Mengangkat kepala dan berkata, "Mas Alvin, nyebelin!" Berbalik badan segera pergi dari hadapan suaminya


Alvin heran. Merasa tidak salah. Keningnya berkerut kencang. "Loh, kok, menyebalkan? Memangnya saya salah?" Alvin menyusul.


"Pikir aja sendiri sama, Mas!" Rina naik tangga.


"Jangan seperti itu. Saya sudah pusing sama pekerjaan." Alvin ikut naik.


Rina berhenti, otomatis Alvin pun sama. Mereka hanya berjarak tiga anak tangga saja. Perempuan itu berbalik badan lagi. Kesal rasanya. "Itu derita masing-masing. Malam ini Mas dilarang minta dipijat. Aku marah besar!"


Rina kembali membalikkan badan dan terus berjalan sambil menghentakkan kaki tanda dirinya memang marah.

__ADS_1


Alvin menghela napas kasar. "Perempuan itu memang misterius. Punya bini satu aja, pusing. Apa mungkin harus punya dua, ya? Biar gila sekalian."


__ADS_2