Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Membuat gaun merah


__ADS_3

Mobil Alvin meluncur bebas tanpa beban menuju butik. Di sana sudah ada pelanggan VIP yang ingin bertemu. Pastinya sudah tertebak siapa.


Sesampainya di butik, Alvin langsung masuk. Disambut karyawan perempuan.


"Assalamualaikum," kata Alvin.


"Wa'alaikum salam," ujar karyawan tersebut.


Alvin masuk area butik. "Sudah datang?"


Karyawan itu mengangguk cepat. "Sudah, Pak. Dari lima menit lalu."


"Baik." Alvin segera masuk ke area butik paling dalam. Mengarah pada ruangannya dan benar saja orang itu sudah ada. Mendapati Alvin masuk.


"Akhirnya sang Desainer sampai juga." Ternyata yang menunggu adalah Niken. Perempuan itu bertepuk tangan dua kali. "Lihatlah betapa gagahnya."


Alvin tak ingin menanggapi selama masih di batas masa wajar. "Ada apa?" Ia duduk di kursi. Melepas jas dan menyimpan di gantungan sebelum itu. "Mau buat gaun untuk acara apa?"


Niken yang tengah duduk di sofa pun memutar badan agar bisa melihat pada Alvin. "Sebuah gaun manis berwarna merah."


Hati Alvin tersentak. Terutama nada bicara Niken yang masih saja mengandung rasa dendam. Entah sampai kapan hal ini akan berlangsung. Padahal sudah lima tahun lamanya.


"Untuk kamu atau satu keluarga? Khusus perempuan," tanya Alvin seraya mengambil catatan yang sering ia pakai.


Niken tersenyum kecil. Bangun dan bergerak ke arah depan dan berkata, "Untuk aku sendiri. Tapi ...." Pandangan wanita itu semakin tajam dan menakutkan.


Alvin mengangkat kepalanya. Menatap balik Niken. "Kamu punya permintaan khusus?"


"Kamu ternyata peka." Niken berdiri di depan meja Alvin. "Aku mau yang sama persis dengan gaun merah Nara lima tahun lalu."


Kening Alvin mengerut kencang. "Untuk apa?"

__ADS_1


Sudut bibir kanan Niken terangkat ke atas. "Kamu selalu ingin tau. Ini namanya privasi pelanggan. Gaun itu aku pakai untuk apa bukanlah sebuah keharusan yang perlu kuberitahu."


Alvin bergeming. Memang benar, tetapi ia merasa ada yang aneh pada diri Niken semakin ke sini. Mungkinkah gadis ini merencanakan sesuatu yang tak bisa ditebak? Bisa jadi.


"Ok. Kita buat detailnya." Alvin mengambil pensil. Masih membekas di ingatannya bagaimana gaun merah itu dirancang. Dari ukuran bahkan bahan yang digunakan. Semuanya tercetak jelas di pikiran Alvin dan mungkin tak akan terlupakan sampai kapan pun.


Niken puas. Tak peduli sesusah apa pun Alvin membuatnya, ia tetap seorang pelanggan yang hanya tahu bahwa pesanannya jadi. Tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.


Tangan Alvin sedikit bergetar ketika membuat lagi rancangan itu. Rasanya gila. Beberapa kali berhenti karena tak kuat. Akan tetapi, kepuasaan pelanggan adalah nomor satu.


"Sepertinya pesananku nggak bisa dibuat. Tanganmu saja sampai gemetaran," sindir Niken.


Alvin tetap menggambar. Niken hanya mengolok-olok dirinya saja. Mengecoh konsentrasinya dan ini akan berdampak pada hasil akhir. Catatan aslinya masih tersimpan rapi di laci meja, tetapi Alvin memilih memulai dari awal. Ada alasan kuat untuk itu.


"Kamu ingin sama persis, kan?" Alvin mengangkat kepala lagi. "Apa nasibmu juga akan sama dengan Nara?" Kalimat jahat itu keluar begitu saja tanpa Alvin minta. Padahal ia sama sekali tidak bermaksud menyumpahi Niken. "Sekali pun bukan aku yang sengaja melakukannya."


Tangan kanan Niken mengepal di bawah dekat pahanya. Ingin rasanya berteriak. Memaki-maki Alvin sesuka hati. Mengatakan apa pun yang ada dalam diri termasuk menampar wajahnya yang sok tampan dan mencari perhatian para kaum hawa.


Niken kesal bukan main. Tatapan Alvin menyudutkannya seakan lelaki itu menyumpahinya agar bisa bernasib sama dengan Nara.


"Jangan takut. Takdir seseorang itu sudah tertulis jauh sebelum ia dilahirkan, jadi jangan merasa takut," ujar Alvin merasakan ketakutan yang terpancar dari sorot mata Niken.


Tidak dapat dipungkiri jika kali ini Niken merasakan ketakutan luar biasa. Kecelakan yang terjadi pada Nara membuatnya trauma menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bahkan saat ini perempuan itu masih lajang. Tak peduli banyaknya lelaki yang ingin meminangnya. Semua ditolak tanpa alasan kuat. Membuat para lelaki menjadi ilfil pada Niken.


"Kamu sepertinya senang kalau aku bisa bernasib sama dengan Nara? Apa kecelakaan itu juga sudah direncanakan? Mungkin juga," imbuh Niken. Ia bergerak selangkah ke depan. Mentok dengan meja Alvin. "Lima tahun berlalu rasa sakit itu masih saja. Dendam ini pun nggak ada yang berubah. Kamu dan dia mungkin sekarang berbahagia, tapi dalam beberapa jam ke depan dunia ini pasti gelap untukmu."


Alvin kurang memahami apa yang dikatakan Niken. Berusaha untuk tetap tenang supaya harga dirinya tidak jatuh. "Kurangi suudzon pada orang lain biar hidupmu tenang. Pikiran kita itu mempengaruhi bagaimana tindakan kita selanjutnya. Jadi ... lebih baik lagi dalam berpikir sesuatu."


Niken tidak terima. Alvin selalu saja menasehatinya sepanjang bertemu seakan ia memang anak kecil yang perlu diberi pengarahan. Menyebalkan memang. "Jangan ceramahi aku. Sebaiknya jaga diri dan istrimu baik-baik."


Alvin yang tenang pun terpancing emosi. "Jangan libatkan dia!" Amarahnya mulai naik ke permukaan.

__ADS_1


Niken menyeringai. "Untuk apa aku melibatkan istrimu? Urusanku itu beda jalur. Segilanya aku, masih tau apa yang perlu dilakukan."


Pandangan Alvin semakin tajam. Niken tidak pernah melenceng dari jalur sejak dulu. Buktinya, dendam itu masih saja melekat dari beberapa tahun lalu. Tidak terkikis oleh waktu. Cukup bagus jika itu tentang kebaikan. Sayang sekali bukan.


"Kalau seperti itu jangan pernah keluar jalur. Kamu boleh mengejarku selama mungkin, tapi jangan sampai berbalik arah ke jalur Rina. Dia tidak tau apa-apa tentang kita!" tegas Alvin.


Niken menepuk tangan dua kali. "Manis sekali cinta kalian. Sepertinya Nara sudah tidak ada."


"Kamu terlalu banyak menebak sesuatu yang seharusnya bukan urusanmu." Alvin menutup buku catatan. Sebaiknya ia teruskan setelah Niken pergi. "Kalau sudah selesai, lebih baik pulang dari sini."


Niken diusir.


"Sebaiknya memang begitu karena semakin aku berada di sini, rasanya lebih sesak dibanding lima tahun lalu. Berbagi atmosfer sama pembunuh buat aku lebih sesak!" tegas Niken yang langsung berbalik badan dan segera pergi dari ruangan.


Alvin menghela napas. Mentalnya sudah dipersiapkan sejak pagi setelah mendapatkan kabar dari orang tua Niken jika gadis itu ingin membuat gaun. Lelah sekali.


"Astagfirullah, memang lelah banget kalau ngadepin perempuan itu. Ternyata memang lebih baik satu istri saja. Latihan sebentar saja bikin engap." Alvin berniat berdiri untuk mengambil air, tetapi ponselnya tiba-tiba berbunyi.


Tangan Alvin mengambil cepat benda pipih dan keren itu dari saku jas. Menduga jika itu memang Rina. "Baru aja pisah sebentar, dia udah kangen."


Didapat juga benda tersebut. Benar saja. Rina mengirimkan pesan cinta yang isinya tentang ia yang ingin bertemu setelah makan siang.


Kening Alvin berkerut kencang. Bukankah perempuan itu sudah tahu perihal Alvin yang sibuk hari ini. "Dia kalau bucin mintanya ketemu terus." Ada rasa senang yang keluar dari jiwa Alvin. Setidaknya ia dibutuhkan oleh sang Istri.


**To Rina


Wa'alaikum salam. Sepertinya kamu yang lebih posesif daripada saya. Padahal kita cuma terpisah seharian saja. Ok, tunggu saya di cafe biasa. Awas aja kalau berani jahil sama suamimu sendiri. Tanggung akibatnya**.


Pesan itu terkirim secepat mungkin. Dengan perasaan berbunga-bunga, Alvin melangkah membawa ponsel untuk mengambil air minum.


Air mineral mendadak rasanya berubah menjadi lebih manis seperti sirup. "Ini air putih apa sirup?" Alvin saja kurang percaya. Ternyata suasana hati bisa merubah apa pun secepat mungkin.

__ADS_1


__ADS_2