Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Ada pawangnya


__ADS_3

Pernikahan Alvin dan Rina sudah berjalan sekitar dua pekan lebih. Banyak kejadian yang di luar kendali mereka. Entah itu perdebatan lucu ataupun hal-hal romantis yang terjadi tanpa rencana.


Seperti halnya siang ini. Rina sendiri mengerjakan tugas dari Alvin. Membuat rancangan pakaian yang menurutnya unik dan bisa disuguhkan pada Dosen sekaligus suaminya itu.


Sampai detik ini, pihak kampus tidak ada yang tahu tentang pernikahan Alvin dan Rina. Selain demi menjaga kewarasan Rina dari serangan para fans lelaki tersebut. Ini juga bertujuan agar keduanya bisa lebih profesional saat di area kampus.


Rina duduk sendiri di salah satu meja perpustakaan. Beberapa kali mencoret lembaran buku karena dirasa kurang baik, hingga perempuan itu merasa frustasi.


"Harus yang bagus. Dia bisa tertawa kencang kalau tau rancangan istrinya jelek," gumam Rina pelan.


Tak berapa lama Caca datang. Ia pun melakukan hal yang sama. Pergi ke perpustakaan karena tugas dari Alvin.


"Hei, udah jadi belum?" tanya Caca sambil menepuk bahu kanan Rina, hingga perempuan itu pun terkejut. Caca menarik kursi di samping Rina. Duduk di sana tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Astagfirullah, Ca. Kalau datang itu ucap salam dulu. Jangan main tepuk pundak orang!" tegur Rina dengan lembut seraya menatap Caca.


"Maaf. Aku lupa. Assalamualaikum." Caca mengakui kesalahannya.


"Wa'alaikum salam. "


"Gimana? Udah belum?" Mata kanan Caca melirik ke arah lembaran kertas yang tercorat-coret. Nihil. Tak ada rancangan apa pun. "Loh, kok, malah bentuk bola kusut?"


"Hus, jangan sembarang bicara. Ini bukan sembarang bola kusut!" Rina menutup bukunya. Ia sendiri heran. Sampai sejauh ini pun, dirinya belum menemukan ide paling inovatif. "Aku sampai pusing tujuh turunan mikir rancangannya seperti apa."


Caca mengeluarkan sebuah buku dan beberapa alat tulis. Ia pun sependapat dengan Rina. Andaikan boleh, ingin sekali protes.


"Kalau aku pikir-pikir, suamimu itu doyannya kasih tugas aja. Mana kalau telat, nggak diterima." Ini sebuah pengungkapan rasa kesal bagi Alvin melalui Rina.


Rina memajukan bibirnya beberapa centimeter ke depan. Kesal juga karena teebawa-bawa. "Nggak usah bawa-bawaku. Dia emang ngeselin!"


Caca terkekeh geli. Bagaimana tidak Alvin dikenal mahasiswanya sebagai Dosen yang sangat disiplin, apalagi oleh Rina yang statusnya istri sendiri.

__ADS_1


Caca mengamati sekitar. Barangkali ada mata jahat yang tengah mengamati keduanya. Dirasa aman, ia pun mulai berbisik pada Rina. "Na, kamu nggak mau coba Konsul ke suamimu sendiri soal tugas ini?"


Mata Rina terbelelak. Otaknya tak berpikir sampai ke sana. Ibaratnya, ia memiliki pakarnya sendiri di rumah. Kenapa tidak bertanya langsung saja? Sungguh ... tak bisa berpikir jauh.


"Ah, iya, aku sampai lupa kalau punya pawangnya di rumah," jawab Rina asal.


Tangan Caca memegang kening Rina. Tidak panas. Hal ini jelas mengundang rasa penasaran Rina.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Rina.


"Aku pengen ngecek aja. Kamu sakit atau nggak sampai tega sebut suami sendiri pawang," jawab Caca.


"Aku sehat. Normal dan waras. Paham?" Rina kesal.


Caca tertawa lagi. Mereka pun mulai mengerjakan tugas bersama. Rina sendiri mengirim pesan pada Alvin secepat kilat. Mencoba peruntungan dengan jalur orang dalam.


***


Ternyata Ronald datang. Mengamati Alvin sejak dari pintu masuk. Lelaki itu curiga sekaligus penasaran. Sebab, akhir-akhir ini sang Teman sedikit berubah.


Ronald berdiri di samping Alvin sambil berkata, "Cie, Pak Alvin lagi chat sama siapa tuh?"


Alvin kaget. Ia sesegera mungkin melindungi ruang privasinya dari jangkauan orang lain. Ini hal yang perlu disembunyikan.


Reaksi Alvin mengundang rasa penasaran yang dalam di benak Ronald. Ia yang berwatak ingin tahu apa pun tentang orang lain merasa perlu berjuag lebih gigih untuk mendapatkan informasi.


"Ada apa, ya, Pak Ronal?" tanya Alvin serius.


Ronald melirik ke arah ponsel yang kembali tersimpan di meja dengan posisi terbalik. Pasti ada sesuatu di sana.


"Nggak. Pak Alvin sekarang keliatan lebih segar. Udah gitu sering banget pegang ponsel. Lagi punya pacar, ya?" tanya Ronald tanpa basa-basi.

__ADS_1


Alvin tidak suka dengan pertanyaan ini. Ia tak terlalu memberi ruang bagi siapa pun mengetahui bagaimana bentuk kehidupan pribadinya terkecuali yang perlu ditampakkan ke permukaan.


"Saya rasa itu hal pribadi. Pak Ronald Riska perlu tau," jawab Alvin.


"Pak Alvin ini terlalu tegang. Saya cuma ingin tau aja. Kalau memang sedang punya pacar dan butuh saran. Saya siap jadi penasihat terbaik." Dengan tingkat percaya diri tinggi, Ronald menawarkan diri. Sebab, dibanding Alvin. Tentu ia lebih berpengalaman.


"Terima kasih tawarannya, Pak. Tapi, saya orang yang tidak suka dicampuri urusan pribadi. Saya masih bisa menghandle sendiri."


Ronald gigih. Ia pun menawarkan jasa cerita jika Alvin sedang gundah gulana. Sedikit risih bagi Alvin. Sebab, Rina sendiri tidak tahu dengan jelas bagaimana kehidupannya.


"Saya kasih tau, ya, Pak." Ronald mulai memberi nasihat. Berharap Alvin bisa mengambil sedikit dari perkataannya. "Kalau punya cewek itu, sebaiknya dimanja. Kita juga harus peka, jangan dingin-dingin seperti kulkas. Kalau tidak, nanti diambil orang."


Alvin bergeming.


Ronald melihat sekitar. Hanya ada dirinya dan Alvin juga seorang Dosen yang sudah sepuh. Aman. Ronald pun mulai mendekat. Mengincar telinga Alvin, lalu berbisik, "Kalau kita terlalu acuh atau bahkan nggak paham sama dia. Wanita itu bisa cari yang lain. Memang sih kita bisa cari penggantinya, tapi kadang cinta itu buta. Apa aja nggak keliatan. Ibaratnya, ada seribu gadis yang cantiknya bak bidadari pun nggak bakal nandingin kekasih hati."


Otak Alvin berusaha keras mencerna kalimat yang diberikan Ronald. Sekali pun dirinya menolak kehadiran Ronald, tetapi nasihatnya perlu dipertimbangkan.


"Alangkah baiknya kita tau masa lalu dia. Ya, kali aja dia punya trauma atau pernah ngalamin tragedi buruk. Nah, itu bisa jadi referensi kita buat menghindari hal itu," sambung Ronald.


Tak berapa lama tiga Dosen perempuan datang. Ronald segera menjauh dari Alvin untuk menghindari pertanyaan yang tidak diinginkan.


Alvin masih diam mematung, lalu tangannya mengulur hendak mengambil ponsel dan mengetik pesan bertujuan untuk membalas pesan yang dikirimkan Rina.


Semua karena sugesti yang diberikan Ronald, hingga membuat alam bawah sadar Alvin menangkap sebuah ketakutan. Hal ini menggerakkan tangan Alvin mengetik pesan yang di luar kendalinya.


Sedetik berlalu, ia masih belum sadar. Namun, begitu pesan itu bercentang biru. Barulah Alvin tercengang. Pupil matanya membesar. Ini tak mungkin.


From Rina


Mas Alvin, pagi tadi nggak salah makan sarapan, kan? Perasaan aku kasih nasi goreng, bukan menu aneh-aneh. Tapi, ketikan Mas Alvin seaneh ini. Aku harap Mas Alvin baik-baik aja.

__ADS_1


__ADS_2