Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Keadaan Rina


__ADS_3

"Cepat makan!' Lelaki dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima senti meter itu menyodorkan makanan. Tak tega jika harus menyiksa anak orang lain.


Rina yang duduk lesu dengan kedua tangan dan kaki diikat serta mulut dilakban pun hanya diam. Tak sudi memakan. Lagipula keadaanya pun tak memungkinkan untuk itu.


Lelaki itu duduk di kursi yang ada di sana. Menatap Rina lekat. "Lo, tau nggak kenapa gue lakuin ini?"


Mata Rina mengisyaratkan tidak tahu dengan cara berkedip dua kali. Terkadang seseorang bisa melakukan hal yang kejam jika dalam keadaan terpaksa atau memang sudah di luar kendali nafsu semata.


"Gue cuma butuh banyak uang buat biaya operasi Ibu. Kalau bukan karena itu, gue nggak mau jadi orang jahat," kata si Lelaki.


Sejatinya manusia itu terlahir dengan hati yang suci, tetapi keadaan dunia bisa membuat banyak coretan hitam di kertas putih tersebut.


"Lo, itu cewek yang paling dia benci. Gue juga nggak tau alasan kuatnya. Aneh memang." Sesekali si Lelaki termenung. Ingin tahu lebih banyak motif penculikan ini. Hanya saja ia bukan orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. "Ah, bodo amat! Bukan urusan gue ini!" Semakin dipikir otaknya kian pusing. Terlebih jatuh tempo pembayaran biaya hanya tinggal seminggu lagi.


"Cepatan makan! Gue buka ikatan tangan lo, tapi gue awasin di sini!" Lelaki tersebut bangun, bergerak ke arah Rina yang ada di depannya dan berjongkok. Melepas ikatan tangan Rina serta membuka lakban di mulut. "Lo, cantik. Gue aja jatuh cinta kalau nggak ngaca. Lo sama gue itu beda jauh. Ibaratnya, lo kertas baru, sedangkan gue kertas yang udah lecek. Perbedaannya keliatan banget."

__ADS_1


Rina terdiam. Sorot mata lelaki itu tidak berbohong. Ia memahami, tetapi kali ini situasinya berbeda. "Aku nggak tau siapa kamu atau siapa juga dalang dari penculikan ini, tapi kalau semua ini dilakukan atas dasar kecemburuan atau memang dendam. Beritahu aku."


Rina tak bisa menyalahkan siapa pun di situasinya sekarang. Sebab, semuanya akan tetap terjadi karena memang sudah suratan takdir.


Seutas senyum diberikan lelaki tersebut. "Gue heran sehebat apa orang tua, Lo?" Rasanya iri. Ada orang yang tetap tenang dan berpikir jernih ketika berada di keadaan yang bisa saja menghilangkan nyawa dirinya sendiri. "Gue rasa ini di dasari karena cinta. Lo, mungkin kenal sama dalangnya."


Kening Kania mengerut kencang. Rasa penasaran pun menggunung. Keadaan diri yang tak karuan dengan keringat bercucuran karena selalu memberontak di awal menyadari penculikan.


"Siapa dia? Bisa aku bertemu sebentar?" tanya Rina. Semoga saja lelaki ini terketuk hatinya.


Rina dibuat sepenasaran mungkin. Bisa saja mati karena hal itu. "Nggak masalah. Kalau memang dia mau mukul, silakan. Asalkan aku tau siapa dia. Aku nggak mau kalau ditakdirkan pergi di sini dengan keadaan masih belum tau."


Sejenak suasana hening. Alih-alih mengisi tenaga dengan makanan. Rina justru memilih memaksa hal lain.


"Lo, yakin?" si Lelaki berdiri lagi. Pandangannya ke bawah, tepat pada Rina. "Gue bisa hadirkan dia di sini, tapi gue nggak jamin bisa bantuin lo dari amukan dia."

__ADS_1


Keyakinan Rina bukan main-main. Sekalinya mengambil keputusan, perempuan itu tidak akan mundur selangkah pun. "Ya. Aku yakin."


Melihat mata Rina yang memancarkan tekad kuat, lelaki tersebut setuju. Ia mengambil ponsel, menghubungi seseorang.


"Dia mau ketemu. Sebaiknya kamu ke sini," kata si Lelaki.


Hanya kalimat itu yang Rina dengar, selanjutnya sekitar tiga menit ke depan. Pintu itu terbuka lebar. Seseorang datang dengan memakai dress merah, rambut terurai dan berdiri di ambang pintu.


Alasannya tidak menemui Rina karena ia belum bisa mengendalikan emosi dalam diri. Bisa saja terlalu marah dan melenyapkan mangsa dengan mengotori tangannya sendiri.


Pandangan Rina kabur. Mungkin karena belum mengisi perut sampai siang ini. Yang dilihatnya hanya seorang wanita tengah berjalan teratur mendekati. Rina mengangkat kepala, memusatkan pandangan pada sasaran seraya berkata, "Kamu!" Tak terbersit dalam pikiran akan nama itu.


"Selamat siang, Rina." Wanita tersebut tersenyum miring. "Selamat datang di gerbang penyiksaan." Bergerak ke samping kanan, mengambil seutas tali dan kembali ke tempat.


"Aku membencimu dari hati yang paling dalam." Tali itu melayang ke atas, mengenai tubuh Rina dan menghujaninya dengan beberapa kali. "Aku marah! Aku benci!"

__ADS_1


Dengan penuh kebencian wanita itu terus mencambuk tubuh Rina. Tidak peduli raungan kesakitan dari lawannya tersebut.


__ADS_2