
"Saya Alvin, seorang dosen sekaligus pemilik butik dengan ini mengatakan bahwa, saya akan mencintaimu seumur hidup. Menemanimu di kala sepi dan senang, di mana pun kamu berada!" tegas Alvin.
Kedua bola mata Rina membulat sempurna. Pengakuan cintakah ini? Jujur, ia belum siap. Bukan karena tidak suka, tetapi Alvin melakukannya dengan tiba-tiba. Jelas saja ia belum siap sepenuhnya.
Alvin mendekat. Mengambil kedua tangan Rina, menatapnya lekat dan berkata, "Rina, maukah kamu menjadi istri saya selamanya? Maukah kamu melahirkan anak untuk saya? Maukah kamu membesarkan anak itu bersama saya?"
Rina menelan ludah, tak tahu harus apa. Terlalu terkesima sampai rasanya kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata. Tubuh perempuan itu terdiam di tempat. Sentuhan atas tangan Alvin terasa hangat dan mendamaikan. Selama menikah, untuk pertama kalinya mereka berdiri membicarakan hal yang sangat serius dalam urusan hati. Terasa lebih berbeda.
"Jangan diam saja. Saya gugup." Alvin menunduk. Rupanya ada sikap demikian di jiwa lelaki yang bahkan jarang sekali tertawa. "Kalau boleh jujur, saya sekarang malu dan gugup. Saat melangkah dari kamar ini sampai ke mobil, pikiran saya kacau."
Rina diam. Mendengarkan secara seksama tanpa ingin menjeda. Membiarkan Alvin menguasai waktu dan menumpahkan semua perasaan. Mungkin yang dibutuhkan lelaki itu hanya sebuah ruang untuk bisa meluapkan segalanya, termasuk apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Pegangan di tangan Rina kian mengerat. Alvin seolah tidak memberi jeda untuk saling berpisah. Alvin mengangkat kepala, menatap lekat lagi Rina. "Saya mungkin bukan lelaki romantis yang mengajak pasangannya ke tempat indah, tapi saya pastikan akan mengajakmu bangun malam untuk shalat bersama. Saya pastikan untuk menemani kamu ke kajian atau sekadar baca Al-Quran bersama di rumah ini."
Rina bergeming. Kalimat Alvin lebih indah daripada gombalan lelaki mana pun. Terasa menjanjikan dibanding dengan memberikan setangkai bunga saja.
"Saya pastikan menjagamu semampunya. Membuatmu tersenyum sepanjang hari dan membuang jauh luka masa lalu." Alvin menarik napas kasar. Mengembuskan perlahan. "Kalau semua itu tidak cukup untuk membuat kamu percaya, lalu dengan cara apalagi?"
Rina mengukir senyum. Menggerakan badan ke arah Alvin, memeluk erat tubuh sang Suami tanpa berkata apa pun. Hal ini membuat Alvin sempat kebingungan. Akan tetapi, lelaki tersebut memilih membalas pelukan istrinya.
"Mas, makasih." Tidak ada kalimat lain yang keluar dari mulut Rina selain itu. Perempuan manis itu tak memiliki kata-kata paling baik lagi. Terlalu shock.
"Untuk semuanya." Rina memejamkan mata. Kedua tangan mengelus punggung Alvin. "Aku nggak nyangka bakal ada orang sebaik Mas, yang bisa kasih aku segala kebahagian."
__ADS_1
Alvin sama. Kedua tangan itu pun mendekap erat punggung Rina. "Ini bukan karena saya, tapi karena Allah. Pertemuan singkat di masjid itu sebagai awal dari segalanya. Lebih tepat lagi, saya jatuh cinta sejak itu."
Rina sontak melepaskan pelukan. Menangkap dua bola mata Alvin dengan pandangannya. "Maksud, Mas?"
Alvin tak lagi berbohong. Bukan saatnya lagi bersembunyi. "Saya jatuh cinta sama kamu dari pertemuan pertama. Saya tau siapa kamu, di mana kamu belajar, tapi tidak berani mendekat. Ternyata Allah memang menyatukan kita tanpa perlu saya paksa. Kamu datang sendiri karena kecerobohan." Alvin tertawa kecil.
Rina memanyunkan bibir. "Jadi, Mas selama ini tau tentang aku?"
Alvin merasakan firasat jelek. Kaki kanan mundur sekali, lalu disusul dengan kaki kiri. empat kali melangkah mundur, barulah Alvin berkata, "Iya. Maaf."
Rina menghela napas kasar seraya melangkah mengambil bantal.
__ADS_1
Alvin sudah memprediksi hal ini terjadi. Oleh sebab itu, ia pun segera berlarian keluar sambil berteriak, "Tapi, kan, yang penting kita sudah menikah, Sayang!"
Rina menyusul Alvin. Bisa-bisanya lelaki itu menyembunyikan kenyataan sebesar ini. "Mas, jangan kabur!"