Jodoh Dadakan

Jodoh Dadakan
Rekaman


__ADS_3

"Dia kabur!" Caca kesal karena hampir bersyukur akan ada teman tidur malam ini.


Sementara itu Rina bergegas pulang ke rumah dengan taksi sebab sudah tidak ada bus lagi di jam seperti ini. Pesan itu dikirim dengan sadar oleh Alvin. Tak dipungkiri, ia pun tak ingin jauh.


Selama di perjalanan Rina diam tanpa kata. Sudah menggambarkan perasaannya kali ini. Mungkin ini yang dinamakan pertemuan setelah perpisahan, walaupun hanya beberapa jam saja. Menggelikan memang.


Taksi itu sampai di depan gerbang rumah Rina. Perempuan itu membayar dan segera masuk. Pak satpam menyapa.


"Selamat malam, Neng," sapa Pak Satpam.


Rina tersenyum. "Assalamualaikum. Selamat malam juga, Pak."


Satpam malu. "Wa'alaikum salam."


Rina mengamati sekitar. Tak ada mobil Dani. "Dani belum pulang, ya, Pak?"


"Belum, Neng."


Syukurlah. Setidaknya ia tak perlu bertemu dengan lelaki gila itu.


"Kalau gitu, saya ke dalam dulu, ya, Pak." Rina melangkah maju ke depan. Rumah ini kini menjadi tempat paling dirindukan. Sedetik jauh, rasanya hampa.


Rina masuk rumah. Mengucap salam dan bergegas ke kamar atas. Sebelum itu, ia lebih dahulu berganti pakaian tidur. Membaringkan tubuh di ranjang dengan selimut menutupi sampai dada.


Jantungnya berdentam, sehingga berhasil merayu kedua mata untuk tidak terpejam. Ini menegangkan. Seolah ia tengah berhadapan dengan sidang yang dipimpin Dosen galak. Namun, memang benar satu jam lagi mungkin ia akan berhadapan dengan Dosen lelaki.


Lampu tidur menyala menggantikan lampu kamar. Di antara remang-remanh cahaya, Rina gelisah tak menentu. Menunggu seseorang datang. Bergelut dengan segala kecemasan rupanya mengantarkan ia ke alam mimpi. Selain karena lelah belajar, ia pun rupanya lelah menebak isi hati. Rina tertidur pulas.


Waktu terus bergulir sampai berada di pukul sebelas malam. Mobil Alvin berhenti dan berhenti mengemudi. Lelaki itu keluar secara cepat dan masuk begitu saja. 


"Astagfirullah, dia nggak kunci pintu!" Ada rasa kesal yang keluar dari perkataan Alvin. Rina memang ceroboh. 


Alvin terus berjalan. Keadaan lantai satu terang benderang. Lampu semuanya nyala. Biasanya, memang akan dimatikan ketika jam tidur saja. 

__ADS_1


"Dani belum pulang sepertinya," tebak Alvin. Yakin jika lelaki itu masih berkeliaran di luar sana. 


Lelaki berpakaian setelan jas lengkap itu menaiki anak tangga satu per satu. Membawa diri beserta rasa yang bergemuruh tanpa penjelasan. Entah apa ini. Rindu? Cinta? Atau hanya sekadar hampa karena terbiasa bersama. Sungguh … ia belum bisa memastikan.


Pintu kamar dibuka. Perlahan Alvin masuk. Menutup kembali dan bergerak ke arah ranjang. Kedatangannya disambut langsung oleh wajah cantik yang kini tertidur pulas. Alvin mendekat ke sisi kanan. Duduk di sana dan berkata, "Aku capek nyupir, kamu malah tidur. Astagfirullah, apa sih yang aku harapkan."


Segala bayangan romantis ketika pulang dinas pun sirna. Berharap disambut pelukan pun, rupanya harus terkubur dalam. Istrinya memang beda.


"Suami mau pulang bukannya siapkan makan malam. Astagfirullah, istriku memang unik. Dia ngorok lagi." Alvin menggelengkan kepala. Ada saja tingkah Rina yang di luar bayangan.


Tangan Alvin mengulur. Menyelipkan anak rambut ke kuping kanan Rina seraya berkata, "Aku mungkin bukan type laki-laki romantis. Kamu juga wanita ceroboh dan sedikit menyebalkan, tapi kenapa rasanya itu cocok, ya? Ini beneran pernikahan, kan?"


Rina mengorok. Alvin menghela napas kasar. "Bunda, dulu waktu ngidam anakmu ini pengen apa sih? Kok, dapat jodoh gini amat." Alvin kurang mengerti. Namun, ide jahilnya keluar. Merogoh saku jas, mengeluarkan ponsel. Merekam wajah Rina yang tengah mengorok. Sesekali lelaki itu tertawa kecil, lucu.


Rasa lelah mendera. Alvin tumbang di samping Rina. Menyelipkan tangan kanannya ke pinggang sang Istri. Memeluk dari belakang. Tak ingat lagi perihal apa pun selain ingin tidur.


Keduanya merajut mimpi bersama. Mengarungi malam yang memang diisi dengan kelelahan semata.


Tepat pukul tiga malam, Rina terbangun. Menggeliat. "Alhamdulillah, tidurku nyenyak juga." Baru saja bersyukur. Rina dibuat kaget karena tubuhnya terasa berat. 


Rina tertegun. Tangan ini milik Alvin. Jadi … ah, gila. Dia sulit membayangkan.


"Suamimu pulang, tapi malah tidur." Alvin meneruskan kalimatnya.


Rina menelan ludah. Lupa tentang itu. "Maaf, Mas, kemarin itu capek banget."


"Saya juga capek. Pulang pergi luar kota menyetir sendiri. Dikira bakal disambut, ternyata zonk." Alvin sengaja membuat nada kecewa agar Rina percaya.


Rina bersalah. "Ya, maaf, Mas. Namanya manusia. Banyak lupanya."


"Kalau kamu hantu, saya mana mau nikahi!" Alvin tak kalah tegas.


Rina termenung. Benar juga. 

__ADS_1


Alvin meraba ponsel yang pastinya ada di dekat bantal. Benar saja. Benda itu didapat. "Saya bawa hadiah buat kamu."


Mendengar itu sontak Rina membalikkan badan. Melupakan bagaimana rasa bersalah. "Untuk aku, Mas?" Sekejap mata wajahnya berubah riang.


Lengkungan senyum bak rembulan terukir di bibir Alvin. Mengotak-atik ponsel, lalu memberikan sebuah rekaman. "Ini hadiahnya."


Layar ponsel itu baru saja ditatap Rina. "Apa!" Kedua bola mata perempuan itu membesar.


Alvin tertawa lepas. 


Rina merebut ponsel dengan keadaan mereka berbaring dalam satu selimut. "Hapus nggak, Mas? Aku marah, nih!"


"Nggak!" Alvin menjauhkan benda itu. Menyimpan di belakang punggung. "Saya mau jadikan barang bukti ke Bunda kalau menantunya ini kocak juga."


Rina memonyongkan bibir. "Mas Alvin!" Di keheningan malam juga remang-remang cahaya suara teriakan Rina menggelegar di ruangan. Ia kesal.


Tanpa diduga Alvin kian mengikis jarak di antara mereka. "Jangan teriak! Tengah malam."


Rina bergeming. Jantungnya tak bisa bekerja sama. Terus saja berdetak dan mungkin hampir akan meledak. Deru napas Alvin bisa terdengar jelas. Ini gila! Ia terjebak dalam sebuah labiran yang bahkan sulit mencari pintu keluar. Ayo, sadar! 


"Saya nggak bisa sampaikan apa pun, tapi satu kata buat malam ini. Apa boleh?" tanya Alvin dengan tatapan sulit diartikan.


Bola mata Rina bergerak tak tentu arah. 


"Tatap mata saya," perintah Alvin. 


Tangan Alvin membelai lembut pipi Kamila. Merasakan sensasi ketenangan yang besar dari sekadar memandangi saja. "Saya pulang karena sadar kalau memang nggak bisa jauh dari kamu. Entah apa penyebabnya. Tapi … saya yakin itu karena kita sering bersama."


Rina memusatkan pandangan ke depan. Pertemuan dua bola mata itu terjadi ditemani keheningan semesta yang menarik keduanya pada gerbang masa pernikahan sesungguhnya. Fase itu terjadi. 


"Bismillah. Saya izin," bisik Alvin. Menarik selimut ke atas agar menutupi mereka sampai tak tersisa. 


Rina terbuai. Keduanya larut dalam satu ikatan tanpa tahu isi hati masing-masing. Pada hakikatnya pasangan suami istri tetap akan melewati fase ini, sekali pun bersatu dengan alasan terpaksa. 

__ADS_1


****


Yang berkenan mampir, silakan ke lapak "Dua Lelaki" ya. Cerita baru yang sama update setiap hari. Masih di sini juga.


__ADS_2